Harum Harapan dari Bau Sampah: Jejak Hijau INALUM dan Warga Pintu Pohan

  • Bagikan
Pusat Pengelolaan Sampah TPS 3R Pintu Pohan, Meranti, Kab Toba, Senin (20/10/2026). /enciss

Siang yang Berbau Harapan

SUMSELDAILY.CO.ID, TOBA – Kabut tipis masih menggantung di antara perbukitan Toba ketika suara mesin pencacah plastik mulai meraung dari balik dinding seng, (Senin, 20 Oktober 2025). Suara itu memecah keheningan siang, berpadu dengan aroma tanah basah dan bau samar plastik yang baru dibuka dari karung. Di halaman kecil TPS 3R Pintu Pohan, empat orang pekerja sibuk memilah, menimbang, dan mencuci plastik seolah sedang mengatur harmoni dari sesuatu yang selama ini dianggap tak berharga.

Di antara mereka, seorang pemuda berkaus hitam lengkap dengan helm safety kuning, masker dan sarung tangannya berjongkok sembari memilah milah plastik di tumpukkan sampah. Ferdinand, 19 tahun, masih canggung menyebut dirinya “pekerja pengelola sampah”. Kurang dari setahun yang lalu, ia baru saja menamatkan sekolah menengah di desanya, tanpa rencana pasti ke mana akan melangkah.

“Awalnya malu juga,” katanya pelan yang lalu beranjak mengaduk tumpukan botol bening di tong besar. “Tapi kalau dipikir-pikir, dari sini juga bisa bantu orang tua. Bisa dapat uang, bisa bantu bersihin kampung.”

Sampah yang dulu hanya jadi masalah kini menjadi bagian dari jalan hidupnya. Dari balik tumpukan plastik, Ferdinand menemukan makna baru tentang kerja, kebersihan, dan masa depan.

Dari Ladang ke Limbah

Desa Pintu Pohan Meranti, di tepian Danau Toba, dulunya hidup dari ladang dan hasil hutan. Tak banyak yang berubah dari lanskap itu: sawah berundak, bukit hijau, dan langit yang sesekali berwarna perak ketika sinar matahari memantul dari permukaan danau. Namun di tengah kesunyian itu, muncul bangunan sederhana berpagar dan beratap seng rumah bagi tumpukan sampah dan, siapa sangka, juga bagi harapan baru.

Bangunan itu adalah Tempat Pengelolaan Sampah TPS 3R Pintu Pohan, hasil kolaborasi antara INALUM dan MIND ID. Ferdinand bekerja di sini bersama ayahnya, Sudirman, atau akrab dipanggil Pak Sudir, petani yang kini menjadi ketua kelompok pengelola.

“Dulu saya cuma tahu bertani,” ujar Pak Sudir sambil menata karung berisi plastik berwarna. “Sekarang saya tahu bahwa dari sampah pun bisa ada rezeki. Dan yang lebih penting, kampung jadi bersih.”

Ketika Energi Hijau Menyapa Desa

Pintu Pohan bukan desa biasa. Ia berada di lingkar dalam ekosistem energi hijau milik PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) satu-satunya peleburan aluminium di Indonesia yang seluruh pasokan listriknya bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Siguragura dan Tangga. Dari aliran sungai Asahan yang menggerakkan turbin-turbin raksasa itu, energi bersih mengalir ke pabrik peleburan di Kuala Tanjung, memberi tenaga bagi produksi aluminium yang lebih ramah karbon.

Kini, semangat hijau dari energi air itu menjalar hingga ke hilir ke tempat seperti TPS 3R Pintu Pohan, di mana konsep keberlanjutan tak lagi sebatas jargon korporasi, tapi hadir dalam bentuk paling konkret: pengelolaan sampah oleh warga.

Menurut Iqbal Sidabutar, Kepala Departemen CSR INALUM, inisiatif ini merupakan bagian dari pendekatan Corporate Shared Value (CSV).

“Energi hijau tidak hanya soal listrik dari air,” ujarnya. “Tapi juga bagaimana kita mengelola sumber daya dan limbah dengan cara yang bertanggung jawab. Dari sinilah kita belajar bahwa keberlanjutan adalah budaya, bukan proyek.”

Iqbal Sidabutar, Kepala Departemen CSR INALUM, inisiatif ini merupakan bagian dari pendekatan Corporate Shared Value (CSV). (enciss)

Mesin yang Mengubah Nilai

Di bawah atap seng, deru mesin pencacah plastik terdengar ritmis. Plastik-plastik yang sudah dipilah dipotong menjadi serpihan kecil berwarna-warni bahan mentah baru untuk industri daur ulang di Medan. Sementara itu, sampah organik diolah menjadi kompos, sebagian dijual ke petani sekitar.

“Yang organik kita jadikan pupuk, yang anorganik kita cacah untuk dijual,” kata Devi Novita Lubis, pendamping lapangan yang setiap hari mendampingi tim pengelola.

Setiap minggu, mereka mengirimkan sekitar 1–1,3 ton serpihan plastik dengan nilai jual Rp2–2,3 juta per truk. Total omset bulanan TPS 3R kini mencapai Rp6–7 juta, meski sebagian besar masih digunakan untuk menutup biaya listrik dan operasional mesin.

“Kalau dibilang untung belum,” tambah Devi. “Tapi manfaat sosial dan lingkungannya sangat besar. Warga jadi sadar bahwa sampah bisa punya nilai.”

Ekonomi Sirkular di Tanah Toba

Bagi INALUM, inisiatif seperti ini adalah bagian dari transformasi menuju ekonomi sirkular sebuah sistem di mana limbah dari satu proses menjadi bahan baku bagi proses lain.

“Kalau di pabrik kami bicara tentang efisiensi energi dan pengurangan emisi, di desa kami bicara tentang bagaimana masyarakat bisa menjadi bagian dari rantai keberlanjutan itu,” kata Iqbal.

Hasil kajian Universitas Indonesia (UI) pada Juli 2025 menunjukkan nilai Social Return on Investment (SROI) program ini mencapai 2,01. Setiap satu rupiah investasi sosial INALUM di Pintu Pohan, menghasilkan manfaat dua kali lipat bagi lingkungan dan masyarakat.

“Dulu warga sering bakar sampah di halaman,” ujar Iqbal. “Sekarang mereka tahu bahwa satu botol plastik bisa membantu anak muda seperti Ferdinand tetap bekerja dan lingkungan tetap bersih.”

Dari Limbah Menjadi Kreativitas

Tak berhenti di daur ulang plastik, TPS 3R kini mulai melirik kreativitas. Bersama kelompok perempuan desa, mereka mengolah kertas bekas menjadi goodie bag ramah lingkungan, yang dijual di acara-acara komunitas dan pameran produk lokal.

Devi tersenyum ketika memperlihatkan contoh tas berbahan limbah kertas semen.

“Dulu kertas seperti ini langsung dibakar. Sekarang bisa jadi produk yang cantik,” ujarnya.

Ia percaya, semakin banyak warga yang terlibat, semakin kuat fondasi ekonomi hijau desa ini.

Fakta Singkat TPS 3R Pintu Pohan

  • Lokasi: Desa Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba, Sumatera Utara
  • Pengelola: Kelompok masyarakat (Ketua: Sudirman)
  • Pendamping: Devi Novita Lubis
  • Didirikan: Oktober 2024
  • Kolaborator: INALUM & MIND ID
  • Sumber sampah: Kompleks perumahan INALUM, kawasan wisata Pondok, dan warga desa
  • Volume sampah: ±1,2 ton per hari
  • Omset: Rp6–7 juta per bulan
  • Tenaga kerja: 6 orang, termasuk 1 penjaga malam

Dari Air ke Api Kehidupan

Dari aliran air yang menggerakkan turbin PLTA hingga tangan-tangan warga yang memilah plastik, kisah Pintu Pohan menunjukkan wajah sejati transisi energi Indonesia: bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang listrik hijau, tetapi juga tentang manusia yang berubah bersamanya.

Di bawah bau sampah, tersimpan harum harapan dan dari sinilah masa depan hijau INALUM tumbuh, setahap demi setahap, bersama denyut kehidupan desa.

 

  • Bagikan
Exit mobile version