Setengah Abad Menjual Tanah, Kini Indonesia Menguji Keberaniannya Naik Kelas

  • Bagikan

Dari Bauksit Mentah ke Aluminium Strategis, Pertaruhan Industri Nasional di Mempawah

SUMSELDAILY.CO.ID, MEMPAWAH — 12 Februari 2026, Setiap pagi, aktivitas di pesisir Kalimantan Barat sudah dimulai sebelum matahari benar-benar tinggi. Truk-truk pengangkut berjalan dari area tambang menuju pelabuhan. Di dermaga, alat berat dan crane bekerja hampir tanpa jeda. Tanah berwarna merah itu dipindahkan dari bak truk ke conveyor, lalu masuk ke lambung kapal kargo berukuran besar.

Selama lebih dari lima puluh tahun, pola itu berulang.

Bauksit digali dari perut bumi, dikumpulkan, lalu dikirim ke luar negeri dalam bentuk mentah. Prosesnya efisien dan cepat. Nilainya langsung dicatat sebagai ekspor. Kapal datang, kapal berangkat. Siklusnya stabil.

Muatan kapal-kapal itu sederhana: bauksit mentah.

Di negara tujuan, bahan yang sama diproses lebih lanjut. Bauksit dimurnikan menjadi alumina. Alumina dilebur menjadi aluminium. Di tahap itulah nilai ekonominya melonjak berlipat ganda. Produk akhirnya masuk ke industri otomotif, konstruksi, kabel listrik, kemasan, hingga komponen kendaraan listrik.

Selama bertahun-tahun, Indonesia berada di tahap paling awal dari rantai tersebut.

Indonesia menggali.

Dunia mengolah.

Selisih nilai antara bahan mentah dan produk jadi bukan hal kecil. Bauksit mentah dihargai puluhan dolar per ton. Setelah menjadi alumina, nilainya naik berkali-kali lipat. Ketika menjadi aluminium, harganya bisa menembus ribuan dolar per ton.

Artinya, sebagian besar nilai tambah tercipta di luar negeri.

Di dalam negeri, manfaat ekonomi memang ada lapangan kerja di tambang, aktivitas pelabuhan, penerimaan negara. Namun porsi terbesar dari keuntungan industri hilir berada di negara yang memiliki fasilitas pemurnian dan peleburan.

Itulah realitas yang berlangsung selama setengah abad: Indonesia memiliki sumber daya, tetapi belum sepenuhnya menguasai rantai nilai industri aluminium.

Kini, pola lama itu mulai diuji.

Harga bauksit mentah berada di kisaran US$30–40 per ton. Setelah dimurnikan menjadi alumina, nilainya melonjak hingga sekitar US$350–400 per ton. Ketika berubah menjadi aluminium, harganya bisa melampaui US$2.000 per ton.

Selisih itulah yang selama puluhan tahun lebih banyak dinikmati di luar negeri.

Yang tertinggal di dalam negeri adalah lubang tambang dan janji tentang “nilai tambah” yang selalu terdengar di masa depan.

Secara geologis, Indonesia tidak kekurangan modal. Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat sumber daya bauksit nasional mencapai sekitar 7,48 miliar ton dengan cadangan 2,78 miliar ton. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemilik cadangan penting di dunia.

Namun dalam rantai industri global, posisi Indonesia terlalu lama berhenti di hulu.

Produksi aluminium nasional saat ini berkisar 275 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan domestik mencapai sekitar 1,2 juta ton. Ketergantungan impor masih terjadi.

Sebagai pembanding, China memproduksi lebih dari 40 juta ton aluminium per tahun dan menguasai lebih dari separuh produksi global. India menghasilkan sekitar 4 juta ton. Malaysia menjadi salah satu pusat pemurnian alumina terbesar di Asia Tenggara.

Mereka tidak sekadar menambang. Mereka menguasai rantai nilainya.

Indonesia terlalu lama menjual awal cerita, bukan akhir.

Di Mempawah, upaya mengubah posisi itu mulai terlihat nyata.

Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) berkapasitas 1 juta ton per tahun mulai beroperasi pada 2025. Bauksit kini tidak lagi seluruhnya diekspor dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi alumina di dalam negeri.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menyebut proyek ini sebagai bagian dari strategi memperkuat kedaulatan industri mineral nasional.

“Hilirisasi bukan hanya soal produksi, tetapi tentang memastikan kekayaan alam memberi nilai tambah bagi bangsa sendiri,” ujarnya.

Pengembangan lanjutan tengah disiapkan. Jika seluruh rantai terintegrasi hingga smelter aluminium baru, kapasitas nasional berpotensi mendekati 900 ribu ton per tahun.

Namun di sinilah ujian sebenarnya dimulai.

Aluminium adalah industri yang sangat intensif energi. Menurut International Energy Agency (IEA), memproduksi satu ton aluminium primer membutuhkan sekitar 13–15 megawatt jam listrik. Energi dapat menyumbang lebih dari sepertiga total biaya produksi.

Artinya, hilirisasi bukan sekadar membangun fasilitas pemurnian. Ia menuntut pasokan listrik yang stabil, kompetitif, dan berkelanjutan.

Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Nur Kholis, menilai keberhasilan hilirisasi akan ditentukan oleh konsistensi kebijakan dan penguatan industri hilir.

“Banyak negara kaya sumber daya gagal naik kelas karena berhenti di tengah jalan. Hilirisasi harus diikuti penguatan manufaktur lanjutan dan kepastian regulasi jangka panjang,” katanya.

Jika tidak, risiko yang muncul adalah paradoks baru: bahan mentah berhenti diekspor, tetapi produk setengah jadi tetap dijual keluar tanpa nilai tambah maksimal.

Hilirisasi adalah proyek industri. Tetapi lebih dari itu, ia adalah proyek konsistensi nasional.

Di tengah narasi besar itu, perubahan terasa dalam skala yang lebih manusiawi.

Rizal (34), warga Desa Sungai Kunyit, kini bekerja sebagai operator di kawasan SGAR. Dulu ia menunggu kapal bersandar untuk mendapat upah harian. Kini ia bekerja dalam sistem shift dengan penghasilan tetap.

Di ruang kontrol, ia memantau suhu reaktor yang menyentuh ratusan derajat. Setiap akhir bulan, ia menyisihkan sebagian gajinya untuk tabungan pendidikan anaknya yang baru masuk taman kanak-kanak.

“Sekarang lebih pasti. Tidak lagi tergantung ada kapal atau tidak,” katanya.

Warung makan di sekitar kawasan industri buka lebih lama. Rumah kontrakan bertambah. Beberapa pemuda desa mengikuti pelatihan teknis agar bisa masuk ke kawasan industri.

Tanah merah yang dulu sekadar lewat kini mulai memberi ritme baru bagi ekonomi lokal.

Permintaan aluminium global diproyeksikan terus meningkat hingga 2050, didorong kendaraan listrik, panel surya, dan pembangunan infrastruktur rendah karbon. Dalam ekonomi hijau, aluminium adalah material strategis.

Negara yang menguasai rantai pasoknya akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat.

Indonesia telah memiliki tambang. Kini ia membangun pengolahan. Tahap berikutnya adalah memastikan manufaktur hilir tumbuh dan daya saing terjaga.

Sejarah negeri ini menunjukkan bahwa membangun lebih sulit daripada menggali. Konsistensi lebih berat daripada memulai.

Di Mempawah, tungku-tungku itu menyala siang dan malam. Bauksit melebur menjadi alumina. Alumina menjadi aluminium.

Yang sedang diuji bukan hanya kapasitas produksi.

Yang sedang diuji adalah apakah bangsa ini benar-benar siap menahan godaan untuk kembali menjual yang mentah saat harga global menggoda, dan bersabar membangun nilai tambahnya sendiri.

Debu merah masih beterbangan setiap pagi.

Bedanya, kali ini ia tidak lagi sekadar simbol kekayaan yang pergi melainkan penanda bahwa Indonesia sedang menentukan, di kelas mana ia ingin berdiri.

  • Bagikan
Exit mobile version