Kabut, Hutan, dan Detak Tambang
SUMSELDAILY.CO.ID – Batangtoru, Tapanuli Selatan — Kabut tipis masih menggantung di sela pohon mahoni dan meranti ketika suara alat berat dari kejauhan terdengar ritmis, seperti detak jam raksasa.
Inilah Batangtoru, bentang alam yang tak hanya menyimpan emas, tapi juga rumah terakhir orangutan Tapanuli, spesies kera besar paling langka di dunia.
Di sinilah PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, menjawab satu pertanyaan besar: bisakah emas digali tanpa merampas masa depan air, hutan, dan satwa sekaligus memberi harapan bagi warga di sekelilingnya?
“Orang selalu bilang tambang itu merusak. Tapi kalau nggak ditambang, emas nggak keluar. Kalau sembarangan, kita semua yang rugi,” ujar Budi Siregar (42), warga Desa Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, pada 15 Oktober 2024.
Air: Mata Rantai Kepercayaan
Di pos pantau Sungai Batangtoru, (12 Desember 2024), seorang petugas mengenakan rompi hijau mencelupkan botol kaca ke arus.
“Kami ambil sampel dua kali sebulan. Hasilnya dipublikasikan biar masyarakat tahu,” kata Bayu Ariyanto, Superintendent Environmental Monitoring PT Agincourt Resources, yang tergabung dalam Processed Water Quality Monitoring Integrated Team tim gabungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang diketuai langsung Bupati Tapanuli Selatan.
Hasil uji terakhir mencatat 11 parameter kualitas air olahan Martabe di bawah baku mutu nasional. “Sejak awal operasi, konsistensinya cukup baik. Tapi pengawasan tetap harus ketat,” tambah Bayu.
“Air ini soal kepercayaan,” kata Mahmud Subagya, Manager Environmental PT Agincourt Resources, saat ditemui di Batangtoru, 18 November 2024. “Kami punya sistem berlapis kolam pengendap, pengolahan air asam tambang, hingga pemantauan daring yang bisa diaudit kapan saja.”
Sepanjang 2022, PTAR mengelola 17,8 juta m³ air dan menerapkan inovasi seperti vertical mill hemat energi serta gudang kapur baru untuk menstabilkan pH.
Namun, Prof. Dr. Ir. Zulkifli Nasution, M.Sc., Ph.D., pakar hidrologi dari Universitas Sumatera Utara (Medan, 10 Januari 2025), mengingatkan:
“Publikasi hasil lab itu bagus, tapi jangan hanya parameter kimia. Kita juga perlu tahu kondisi biota air dan sedimen.”
Data: Laporan Keberlanjutan PT Agincourt Resources 2022.
Kanopi yang Terkoyak dan Upaya Menyambungnya
Batangtoru bukan hutan biasa. Ia bentang terakhir bagi orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) populasinya diperkirakan tak sampai 800 ekor. Bersamanya hidup trenggiling, siamang, dan puluhan burung endemik.
“Ini hotspot global. Kalau hutan ini hilang, mereka pun punah,” tegas Serge Wich, pakar primata dari Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) dan Universitas Liverpool John Moores, (Medan, 3 Oktober 2024).
PTAR menerapkan hirarki mitigasi avoid–minimize–restore–offset. Sepanjang 2024, mereka memasang 13 jembatan arboreal yang menghubungkan kanopi pohon.
“Kalau satwa turun ke tanah, risikonya tinggi. Dengan jembatan, mereka tetap bisa menyeberang,” kata Mahmud Subagya.
Budi, warga yang kini menjadi relawan pemantau kamera jebak, tersenyum.
“Dulu saya jarang lihat lutung di sini. Sekarang sesekali kelihatan lagi di jembatan itu,” katanya di Desa Aek Pining, 15 Oktober 2024.
Selain itu, PTAR mendukung Macaque Rescue Centre seluas 2,5 hektare untuk menyelamatkan satwa makaka yang terjebak konflik manusia.
Menurut data Dinas Kehutanan Sumatera Utara (2024), total area reklamasi dan revegetasi di wilayah izin Martabe mencapai 65,7 hektare yang telah diverifikasi oleh pemerintah daerah.
Bibit, Rehabilitasi, dan “Sekolah Ekologi”
Program reklamasi menjadi bagian tak terpisahkan dari operasional tambang. Sepanjang 2022, lebih dari 41.000 bibit pohon ditanam kembali mulai dari meranti, trembesi, hingga pohon buah lokal.
“Kami nggak cuma nanam pohon, tapi memikirkan rantai ekologi pohon pakan satwa, penutup tanah, sampai jenis yang mengikat nitrogen,” jelas Syaiful Anwar, Superintendent Environmental Site Support PT Agincourt Resources, (Batangtoru, 10 November 2024).
Kesadaran lingkungan juga ditanamkan lewat pendidikan. Anak-anak sekolah di sekitar tambang diajak belajar biopori, pengamatan daun, hingga membuat kompos.
“Supaya mereka ngerti, ekologi itu bukan teori, tapi hidup sehari-hari,” tambah Syaiful.
Energi Bersih dan Jejak Karbon
Dekarbonisasi menjadi tantangan besar bagi sektor tambang. PTAR mulai melangkah lewat pembangkit listrik tenaga surya atap 1.766 kWp di 42 gedung operasional sekitar 10 persen dari target jangka panjang menuju operasi rendah emisi.
“Kami terus menambah kapasitas setiap tahun,” jelas Rio Rovihandono, General Manager Operations & Deputy Director Operations PT Agincourt Resources, (Batangtoru, 5 Desember 2024).
Namun, Dwi Prasetyo, analis energi terbarukan dari Institute for Essential Services Reform (IESR) (Jakarta, 8 Januari 2025), mengingatkan:
“Pemasangan panel surya itu bagus, tapi kalau ekspansi tambang tetap berlanjut, emisi total bisa naik. Dekarbonisasi perlu peta jalan yang transparan.”
Data: Laporan ESG PTAR 2024.
Governance dan Komitmen Jangka Panjang
Dalam aspek governance, PT Agincourt Resources menegaskan penerapan prinsip transparansi dan akuntabilitas yang selaras dengan kebijakan Good Mining Practice Kementerian ESDM dan KLHK.
“Seluruh sistem manajemen kami diaudit eksternal oleh SGS setiap tahun, dan tersertifikasi ISO 14001:2015 serta ISO 45001:2018,” ujar Hari Ananto, Corporate Governance Superintendent PTAR, (Jakarta, 6 Januari 2025).
Lebih jauh, PTAR telah menetapkan komitmen Net-Zero Emission 2040, dengan peta jalan mencakup efisiensi energi, elektrifikasi kendaraan operasional, dan investasi karbon berbasis alam di sekitar Batangtoru.
“Target 2040 bukan jargon. Ini langkah bertahap yang kami ukur setiap tahun,” tegas Hari.
Suara dari Hilir: Ketika Sungai Kembali Hidup
Di Desa Batu Horing, (Batangtoru, 9 Desember 2024), anak-anak bermain di tepian sungai yang kini lebih jernih.
“Dulu kami takut mandi di sungai, takut gatal. Sekarang agak tenang, apalagi setelah ada ikan jurung dan nila dilepas lagi,” tutur Mariana (37), ibu dua anak.
Pada 2022, PTAR melepas 5.000 benih ikan jurung ikan endemik Sumatera dan 10.000 nila di sungai setempat.
“Kalau ikan bisa hidup, berarti airnya sehat,” ucap Mariana sambil tersenyum.
Program pelatihan budidaya ikan, pengelolaan sampah rumah tangga, dan keterampilan perempuan juga tumbuh dari inisiatif CSR Martabe.
“Sekarang kami punya kelompok perempuan yang bisa produksi sabun cair dari limbah minyak goreng. Kecil, tapi jadi sumber tambahan,” kata Mariana.
Catatan Kritis: Audit yang Tak Boleh Berhenti
Di balik deret program, kritik tetap berdatangan. Mongabay dan sejumlah lembaga konservasi mencatat hilangnya tutupan hutan di konsesi Martabe pada 2016–2020, dengan tren berlanjut hingga 2022.
Tahun 2024, Norwegian Sovereign Wealth Fund bahkan mendivestasikan saham dari induk perusahaan karena risiko ekologis.
“Jembatan satwa itu bagus, tapi kalau hutan terus berkurang, itu cuma plester di luka yang makin lebar,” kata Eko Prasetyo, aktivis lingkungan dari Koalisi Hijau Sumatera, (Padangsidimpuan, 14 Oktober 2024).
Panel ilmiah ARRC Task Force juga menyoroti keterbatasan akses data:
“Kami butuh data populasi orangutan yang independen. Tanpa itu, sulit menilai dampak sebenarnya,” tulis mereka dalam laporan terakhir (2024).
Tiga langkah yang perlu ditagih publik:
- Dashboard biodiversitas independen.
- Rencana fasilitas tailing menjauhi zona konservasi tinggi.
- Pemantauan air mencakup sedimen dan biota, bukan hanya kimia.
Kesimpulan: Audit Terbesar Ada di Alam
Di Martabe, harmoni bukan sekadar kata puitis. Ia pekerjaan harian menjaga air tetap jernih, kanopi tetap tersambung, dan warga tetap percaya, sementara roda tambang terus berputar.
“Kalau ESG cuma jadi brosur, kita gagal. Tapi kalau sains, tata kelola, dan empati bisa jalan bareng, ini bisa jadi contoh,” tutup Mahmud Subagya, (Batangtoru, 18 November 2024).
Hutan, sungai, dan satwa mungkin tak bisa bicara. Tapi mereka punya cara sendiri untuk memberi nilai rapor.
Dan ketika audit itu datang, tidak ada yang bisa disembunyikan.
