SUMSELDAILY.CO.ID, PALEMBANG – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) asal Sumatera Selatan, Ramos Rizky, menunjukkan ketertarikannya di bidang keamanan siber (cybersecurity). Melalui pembelajaran secara mandiri dan berbagai pelatihan, ia aktif melakukan pengujian keamanan terhadap sistem berbasis web serta melaporkan temuan kerentanan kepada pengelola sistem secara bertanggung jawab.
Sejumlah website milik instansi pemerintah dan perguruan tinggi di Indonesia pernah menjadi objek pengujian yang dilakukan Ramos. Di antaranya portal resmi Universitas Madura, sistem informasi Kementerian Agama Kabupaten Paser, PPID Kemenko, aplikasi E-Presensi Kota Malang, serta beberapa website lainnya.
Dari hasil pengujian tersebut, Ramos menemukan sejumlah celah keamanan, mulai dari file cadangan (backup) yang dapat diakses publik hingga panel administrasi yang belum menerapkan mekanisme autentikasi secara optimal. Temuan tersebut kemudian didokumentasikan dan disampaikan kepada pengelola sistem melalui mekanisme responsible disclosure, yakni pelaporan kerentanan tanpa mempublikasikan detail yang berpotensi disalahgunakan.
Menurut Ramos, aktivitas yang ia lakukan bertujuan membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan informasi, bukan untuk mengeksploitasi kelemahan sistem.
“Setiap temuan yang saya dapatkan selalu saya laporkan kepada pihak terkait agar dapat segera diperbaiki. Harapannya, sistem menjadi lebih aman dan risiko penyalahgunaan dapat diminimalkan,” ujarnya.
Ketertarikannya pada dunia cybersecurity juga dibuktikan dengan berbagai pelatihan dan sertifikasi yang berhasil diraih. Hingga kini, Ramos telah mengumpulkan puluhan sertifikat di bidang teknologi informasi dan keamanan siber dari berbagai lembaga nasional maupun internasional.
Di antaranya sertifikasi Ethical Hacker dari Cisco Networking Academy serta sertifikasi Python Scientist melalui program Digital Talent Scholarship. Selain itu, ia juga mengikuti berbagai pelatihan melalui platform seperti Dicoding, Simplilearn, dan Cyber Academy untuk memperdalam kompetensinya.
Meski aktif menyampaikan laporan kerentanan, Ramos mengaku proses tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa laporan yang telah ia kirimkan belum memperoleh respons maupun tindak lanjut dari pengelola sistem.
Ia berharap pemerintah, institusi pendidikan, maupun sektor swasta semakin terbuka terhadap laporan kerentanan yang disampaikan secara bertanggung jawab. Menurutnya, kolaborasi antara pengelola sistem dan komunitas peneliti keamanan siber menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat keamanan data serta meningkatkan ketahanan digital Indonesia di masa mendatang.
