Puluhan Excavator Hanyut di Sarolangun, Banjir Bandang Diduga Dipicu Tambang Ilegal

  • Bagikan

SUMSELDAILY.CO.ID,, SAROLANGUN JAMBI – Puluhan alat berat dilaporkan terseret arus banjir bandang yang menerjang Kabupaten Sarolangun, Jambi. Excavator dari berbagai merek seperti Zoomlion, Hitachi, dan LiuGong tampak hanyut tak berdaya, menjadi gambaran nyata dahsyatnya bencana yang diduga dipicu aktivitas tambang emas ilegal di sepanjang aliran sungai.

Hujan deras yang mengguyur sejak Sabtu (25/4) petang hingga Minggu (26/4) pagi menyebabkan debit air meningkat drastis. Air membawa material lumpur, kayu, serta puing dari kawasan perbukitan yang telah gundul akibat pembukaan lahan secara masif.

Banjir kemudian meluas ke sejumlah kecamatan dan merendam permukiman warga. Ratusan warga terpaksa mengungsi akibat meluapnya Sungai Batang Asai dan Batang Tembesi.

Kepala Pelaksana BPBD Sarolangun, Solahudin Nopri, mengatakan pihaknya masih melakukan pendataan di lapangan.

“Kita masih di lapangan, masih melakukan pendataan. Ada sejumlah desa terdampak di Kecamatan Batang Asai, Cermin Nan Gedang, serta Bathin VIII,” ujarnya.

Ia menjelaskan, luapan sungai mulai terjadi pada Sabtu sekitar pukul 22.00 WIB, dengan puncak banjir terjadi pada Minggu dini hari sekitar pukul 00.30 WIB.

Nasrul, warga setempat, menuturkan bahwa alat-alat berat yang biasa digunakan untuk aktivitas tambang ilegal itu terseret arus dengan sangat mudah.

“Kami melihat banyak alat berat dari berbagai merek, tapi yang dominan Zoomlion yang terseret banjir. Ada juga Hitachi dan LiuGong,” katanya.

Menurut warga, alat-alat tersebut sebelumnya beroperasi di bantaran sungai yang kini berubah menjadi jalur banjir bandang.

Diberitakan sebelumnya, data lapangan yang dihimpun serta laporan sebelumnya menunjukkan dominasi alat berat merek Zoomlion dalam aktivitas tambang emas ilegal di Provinsi Jambi, khususnya di wilayah Sarolangun, dan Bungo.

Seorang narasumber yang merupakan karyawan perusahaan supplier alat berat, yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan hal ini dikarenakan adanya pola kemudahan kepemilikan alat berat yang dinilai tidak lazim.

“Mereka memberikan kemudahan kepada penambang ilegal melalui skema DP kecil sekitar 10–15 persen, dengan pelunasan hingga 85–90 persen melalui cicilan 18 sampai 24 bulan. Ini yang membuat alat berat mudah masuk ke lokasi tambang ilegal,” ujarnya melalui pesan singkat, Sabtu (4/10/2025).

Ia juga menyebutkan bahwa sistem pembiayaan tersebut diduga tidak berada dalam pengawasan ketat lembaga keuangan seperti OJK dan Bank Indonesia, sehingga membuka celah distribusi alat berat ke aktivitas ilegal.

Lebih jauh, narasumber tersebut mengklaim bahwa sedikitnya 300 unit excavator kelas 20 ton, khususnya seri ZE215E, telah masuk ke wilayah Jambi, dengan mayoritas didominasi oleh merek Zoomlion.

Namun demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak Zoomlion Indonesia terkait klaim tersebut. Oleh karena itu, informasi ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Kapolres Bungo AKBP Natalena Eko Cahyono menegaskan komitmennya untuk memberantas aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang semakin masif, termasuk penggunaan alat berat.

“Mulai Oktober 2025 saya akan berkantor di Dusun Sungai Telang. Kami akan zerokan PETI di Kabupaten Bungo,” tegasnya.

Ia menyoroti maraknya penggunaan excavator dalam aktivitas ilegal yang beroperasi secara bebas di berbagai wilayah.
“Kami akan kejar para pelaku PETI dan pemilik lahan yang masih mengizinkan aktivitas tersebut. Tidak banyak teori, langsung gas,” ujarnya.

Camat Batang Asai, Asmiati, menyebutkan banjir berdampak pada sedikitnya tujuh desa.
Di Desa Pekan Gedang, dua unit rumah hanyut, dua rusak berat, dan tiga rusak ringan, dengan total 93 kepala keluarga terdampak.

Data lainnya mencatat:

12 rumah terendam di Desa Pulau Salak Baru
30 rumah di Desa Paniban
19 bangunan di Desa Batu Empang
14 rumah di Desa Muara Pemuat
7 rumah di Desa Simpang Narso

Selain itu, satu jembatan penghubung antar-dusun dilaporkan roboh.

Di Desa Teluk Kecimbung, Kecamatan Bathin VIII, air bahkan mencapai ketinggian hingga dua meter dan diperkirakan merendam ratusan rumah.

Aktivitas tambang ilegal tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berpotensi menyebabkan kerugian negara dalam bentuk hilangnya Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor pertambangan.

Kerusakan hutan lindung, hilangnya daerah resapan air, serta sedimentasi sungai memperparah dampak bencana seperti banjir bandang.
Narasumber juga menyinggung kasus serupa di daerah lain sebagai peringatan.

“Kita tidak ingin kejadian seperti di Bengkulu atau Bangka Belitung terulang, di mana aktivitas tambang ilegal menyebabkan kerugian negara hingga ratusan miliar bahkan triliunan rupiah,” ujarnya.

Saat ini, BPBD bersama tim terkait masih melakukan pendataan dan penanganan di lokasi. Evakuasi sebagian masih dilakukan secara mandiri karena akses jalan terputus.
Warga di sepanjang aliran sungai diimbau tetap waspada karena cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

  • Bagikan
Exit mobile version