Laba Tertekan, Produksi PTBA Justru Tumbuh 9 Persen

  • Bagikan
aiILUSTRASI/rop

SUMSELDAILY.CO.ID, JAKARTA – Ketika harga batu bara global melemah sepanjang 2025, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota Grup MIND ID, justru memperbesar volume operasinya. Produksi batu bara Perseroan tumbuh 9 persen menjadi 47,2 juta ton, sementara penjualan naik 6 persen menjadi 45,4 juta ton.

Namun, peningkatan volume tersebut berlangsung di tengah tekanan harga yang berdampak pada profitabilitas. Penurunan indeks Newcastle hingga 22 persen sepanjang 2025 membuat laba bersih PTBA tercatat sebesar Rp2,93 triliun, dengan EBITDA mencapai Rp6,08 triliun.

Situasi itu menghadirkan paradoks dalam kinerja PTBA sepanjang 2025. Ketika harga batu bara melemah dan margin tertekan, perusahaan justru meningkatkan kapasitas produksi, memperbesar penjualan, memperluas pasar ekspor, serta memperkuat investasi infrastruktur untuk menjaga daya saing jangka panjang.

Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Arsal Ismail mengatakan, peningkatan volume menjadi bagian dari strategi perusahaan menghadapi dinamika harga batu bara global.

“Tahun 2025 adalah pembuktian atas resiliensi operasional kami. Meski harga jual rata-rata terkoreksi akibat penurunan indeks Newcastle sebesar 22 persen, PTBA mampu menjawab tantangan tersebut dengan peningkatan efisiensi operasional dan perluasan pangsa pasar global,” ujar Arsal.

Peningkatan aktivitas tidak hanya terjadi di area tambang. Volume angkutan batu bara PTBA juga tumbuh 6 persen, dari sebelumnya 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton sepanjang 2025.

Kenaikan produksi, penjualan, dan angkutan menunjukkan strategi PTBA dalam mempertahankan skala operasi ketika harga komoditas tidak sepenuhnya dapat dikendalikan perusahaan.

Di pasar domestik, PTBA mengalokasikan 54 persen dari total penjualan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Sementara 46 persen lainnya dipasarkan ke luar negeri.

Pasar ekspor menjadi salah satu ruang yang terus diperluas PTBA sepanjang tahun. Selain memperkuat posisi di Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina, Perseroan juga melakukan penetrasi pasar baru ke Eropa melalui Spanyol dan Rumania.

Diversifikasi tersebut menjadi penting ketika tekanan harga global memaksa perusahaan batu bara mencari ruang pertumbuhan di luar pasar-pasar tradisional.

Di tengah tekanan profitabilitas, PTBA juga memperkuat fondasi bisnis jangka panjang. Arus kas operasi Perseroan justru meningkat 24 persen menjadi Rp6,26 triliun sepanjang 2025.

Kenaikan arus kas tersebut menjadi salah satu penopang perusahaan untuk tetap melakukan investasi di tengah volatilitas harga batu bara.

Total aset PTBA meningkat menjadi Rp43,92 triliun, didorong penambahan aset tetap strategis. Perseroan juga merealisasikan belanja modal atau capital expenditure sebesar Rp4,55 triliun.

Belanja modal tersebut diarahkan untuk memperkuat infrastruktur jangka panjang, termasuk proyek angkutan batu bara relasi Tanjung Enim–Kramasan.

Investasi pada infrastruktur menjadi salah satu taruhan PTBA untuk menjaga efisiensi rantai pasok. Ketika harga jual tidak dapat sepenuhnya dikendalikan, penguatan biaya dan logistik menjadi ruang yang dapat dioptimalkan perusahaan untuk mempertahankan daya saing.

Memasuki 2026, PTBA melanjutkan strategi pertumbuhan tersebut. Perseroan menyambut persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tanpa adanya pemotongan volume produksi.

PTBA membidik target produksi dan penjualan masing-masing sebesar 49,5 juta ton pada 2026, lebih tinggi dibandingkan realisasi produksi dan penjualan sepanjang tahun sebelumnya.

Arsal mengatakan strategi cost leadership akan tetap menjadi salah satu mesin utama perusahaan. Strategi tersebut dijalankan melalui selective mining dan optimasi rantai pasok.

“Dengan fokus pada efisiensi dan pengembangan bisnis yang berkelanjutan dengan tetap mengedepankan kepatuhan terhadap tata kelola perusahaan, PTBA optimis dapat menjaga kinerja positif yang berkelanjutan untuk berkontribusi pada perekonomian bangsa serta menjaga ketahanan energi nasional,” kata Arsal.

Kinerja PTBA sepanjang 2025 memperlihatkan bagaimana perusahaan menghadapi tekanan harga melalui strategi yang berbeda dari sekadar menunggu pemulihan pasar. Di tengah koreksi harga batu bara global, PTBA memilih memperbesar volume operasi, memperluas pasar hingga Eropa, serta mengalokasikan investasi untuk memperkuat infrastruktur.

Tantangan berikutnya kini berada pada 2026. Dengan target produksi dan penjualan masing-masing 49,5 juta ton, PTBA akan kembali menguji strategi efisiensi dan penguatan rantai pasoknya di tengah pasar batu bara global yang tetap dinamis.

 

Penulis: Riki Okta Putra
Editor: ROP
  • Bagikan
Exit mobile version