SUMSELDAILY.CO.ID, PALEMBANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kembali mencatatkan capaian penting di bidang kesejahteraan masyarakat. Untuk pertama kalinya sejak 2014, angka kemiskinan di Sumsel berhasil ditekan hingga satu digit.
Berdasarkan rilis Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, persentase penduduk miskin pada September 2025 tercatat sebesar 9,85 persen, turun dari 10,15 persen pada 2024.
Gubernur Sumsel, Herman Deru menegaskan, capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh kabupaten dan kota di Sumsel, bukan kerja satu institusi semata.
“Sumsel ini bingkai besar. Setiap kabupaten dan kota memberi kontribusi. Kalau angkanya turun, itu artinya kita semua bekerja bersama dan searah,” ujar Herman Deru saat Rapat Koordinasi Sinergi Program Pengentasan Kemiskinan se-Provinsi Sumsel Tahun 2026 di Griya Agung, Kamis (5/2/2026).
Ia mengungkapkan, penurunan angka kemiskinan satu digit merupakan cita-cita yang telah lama ia dambakan, bahkan sebelum menjabat sebagai gubernur.
“Ini hari yang sangat membahagiakan bagi saya. Dari dulu saya yakin Sumsel punya sumber daya alam dan manusia yang luar biasa. Hanya tinggal bagaimana kita mengelolanya secara tepat,” katanya.
Herman Deru mengenang, pada 2015 angka kemiskinan Sumsel sempat berada di angka 14,25 persen, kemudian turun menjadi 12,80 persen pada awal masa kepemimpinannya di 2018, hingga akhirnya mencapai 9,85 persen pada September 2025.
“Perjalanannya panjang. Tapi Alhamdulillah, perlahan dan konsisten, akhirnya bisa tembus satu digit,” ujarnya.
Selain kemiskinan, indikator ketenagakerjaan juga menunjukkan tren positif. Tingkat pengangguran terbuka di Sumsel kini berada di angka 3,59 persen.
“Ini menunjukkan ekonomi kita tidak hanya tumbuh, tapi juga menciptakan lapangan kerja,” tegas Herman Deru.
Ia menyebut sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Sumsel, dengan kontribusi mencapai 44 persen.
“Pertanian ini kekuatan kita. Tinggal bagaimana kita memperkuatnya lewat intensifikasi, ekstensifikasi, dan hilirisasi agar nilai tambahnya makin besar,” katanya.
Dari sisi makro, Herman Deru menyebut pertumbuhan ekonomi Sumsel juga berada di atas rata-rata nasional.
“Secara nasional pertumbuhan ekonomi 5,11 persen. Sumsel mampu tumbuh 5,35 persen dan menjadi kontributor ketiga terbesar di Pulau Sumatera,” jelasnya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Sumsel bersifat inklusif karena ditopang berbagai sektor.
“Kita tidak bertumpu pada satu sektor saja. Ada pertambangan, pertanian, industri pengolahan, sampai real estat. Ini yang membuat pertumbuhan kita relatif stabil,” tambahnya.
Meski demikian, Herman Deru mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar tidak cepat berpuas diri.
“Kita boleh bangga, tapi tidak boleh lengah. Menjaga tren ini jauh lebih sulit daripada mencapainya,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya data yang akurat sebagai dasar perumusan kebijakan.
“Selama ini kita bisa melangkah tanpa ragu karena datanya benar. Karena itu, Sensus Ekonomi 2026 harus kita sukseskan bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BPS Sumsel Moh. Wahyu Yulianto menjelaskan bahwa penurunan kemiskinan terjadi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
“Persentase penduduk miskin September 2025 sebesar 9,85 persen, turun 0,30 persen poin dibandingkan Maret 2025,” jelas Wahyu.
Ia merinci, jumlah penduduk miskin di Sumsel pada September 2025 tercatat sebanyak 898,24 ribu orang, berkurang 21,4 ribu orang dibandingkan periode sebelumnya.
“Di wilayah perkotaan, kemiskinan turun menjadi 8,91 persen. Sementara di perdesaan turun menjadi 10,43 persen,” katanya.
Wahyu juga menyampaikan bahwa perekonomian Sumsel terus menunjukkan tren positif pascapandemi.
“Sejak 2020, tren pertumbuhan ekonomi Sumsel selalu positif. Tahun 2025 tumbuh 5,35 persen,” ungkapnya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Sumsel sangat ditopang sektor pertambangan, industri pengolahan, perdagangan, serta penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh paling tinggi.
“Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 9,66 persen, sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama,” pungkasnya.
