SUMSELDAILY.CO.ID, LANGKAT – Suasana di Kantor Bupati Langkat mendadak mencekam, Kamis (23/10/2025) pagi, ketika seorang pria bernama Ridho, warga Stabat, menyiramkan bensin di depan ruang Bagian Umum. Aksi nekat itu terekam kamera warga dan viral di media sosial, memicu berbagai spekulasi tentang motif di balik tindakannya.
Dalam edaran luas video, Ridho tampak datang membawa tiga botol berisi bensin. Dengan wajah tegang dan suara lantang, ia menyiramkan cairan tersebut sambil berteriak di depan pintu ruangan. Beberapa pegawai berada di lokasi panik dan berhamburan keluar sebelum petugas Satpol PP bertindak cepat mengamankan pelaku.
Kepala Bagian Umum Pemkab Langkat, Mahardika Nasution, berada di lokasi, memastikan tidak ada korban dalam insiden tersebut. “Kami langsung amankan sebelum hal-hal tidak diinginkan terjadi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Kabupaten Langkat, Dameka Singarimbun, mengonfirmasi bahwa Ridho mengaku khilaf akibat tekanan batin. “Dia stres karena istrinya sedang sakit. Tidak ada motif politik atau kriminal lain. Setelah kami berikan pembinaan, bersangkutan kami lepaskan,” jelas Dameka.
Namun di balik aksi spontan tersebut, muncul pertanyaan, apa pendorong warga bertindak seberani itu di ruang publik pemerintahan?.
Beberapa warga setempat menyebut aksi Ridho sebagai bentuk keputus asaan terhadap kondisi sosial dan ekonomi kian menekan.
“Banyak warga sekarang hidup terjepit. Mungkin dia sudah tidak tahu harus ke mana lagi mencari bantuan,” ujar seorang warga sekitar enggan menyebutkan namanya.
Peristiwa ini membuka kembali perbincangan tentang minimnya akses bantuan sosial, lemahnya layanan kesehatan daerah, serta tekanan psikologis warga miskin. Dalam beberapa kasus serupa di berbagai daerah, tindakan ekstrem seperti ini sering kali merupakan teriakan diam dari warga merasa tidak didengar oleh pemerintah.
Unggahan video oleh akun Facebook Darwis Sinulingga kini telah ditonton ratusan kali dan menuai beragam reaksi. Sebagian menyoroti lemahnya pengawasan keamanan di kantor pemerintahan, sementara lainnya menganggap aksi tersebut sebagai sinyal bahaya dari meningkatnya tekanan sosial di tingkat bawah.
Kasus Ridho bukan hanya tentang seorang pria khilaf, tetapi juga tentang kegagalan sistem sosial memberikan ruang aman bagi warganya untuk mengadu tanpa harus bertindak ekstrem.
