Dua generasi di Kolaka Timur menempuh jalan berbeda di tengah pertumbuhan industri nikel Pomalaa.
SUMSELDAILY.CO.ID, KOLAKA – Debu proyek dan rimbunnya pohon kakao menjadi dua pemandangan yang akrab bagi Rudy dan ayahnya, Rahmat. Rudy, 27 tahun, bekerja di kawasan proyek industri nikel Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Sementara Rahmat menghabiskan hari-harinya merawat ratusan pohon kakao hasil sambung pucuk di Desa Bende, Kecamatan Dangia, Kabupaten Kolaka Timur.
Rudy bekerja melalui perusahaan kontraktor dan subkontraktor yang menjadi mitra proyek PT Vale Indonesia Tbk dan PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI). Ia terlibat dalam pekerjaan konstruksi dan persiapan fasilitas industri yang tengah dibangun di Pomalaa.
Pilihan pekerjaan itu membawa Rudy ke lingkungan yang berbeda dari keseharian ayahnya. Jika ia berhadapan dengan mesin, material konstruksi, dan aktivitas proyek, Rahmat tetap bergelut dengan tanah dan tanaman yang menjadi sumber penghidupan keluarga.
Dua generasi itu menempuh jalan berbeda di tengah perubahan ekonomi kawasan. Rudy masuk ke sektor industri yang sedang tumbuh, sedangkan Rahmat mempertahankan kebun kakao yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
“Di Pomalaa, kami bergulat dengan debu dan mesin demi mengumpulkan modal. Tapi di Bende, saya melihat bapak merawat tanah dengan ilmu yang dibawa VALE. Gaji tambang bisa habis seiring berjalannya shift, tapi kebun kakao bapak adalah masa depan yang bakal terus berbuah,” ujar Rudy.
Bagi Rudy, keputusan mengenakan sepatu keselamatan dan topi pengaman setiap pagi bukan sekadar soal mencari nafkah. Upah yang diterimanya dari perusahaan subkontraktor bisa mencapai dua kali lipat penghasilan buruh tani di kampung. Namun, penghasilan itu datang bersama tuntutan fisik dan waktu yang tidak ringan.
Jam kerja panjang dengan sistem shift kerap menguras tenaga. Setelah menjalani pekerjaan di kawasan proyek, malam-malamnya di mes pekerja di Pomalaa diisi dengan kelelahan otot dan suara mesin yang seolah tak pernah berhenti.
Di sela-sela jam istirahat, sesekali Rudy membuka ponselnya untuk melihat foto-foto kebun kakao yang dikirim Rahmat melalui WhatsApp. Dari kejauhan, ia menyaksikan ayahnya merawat tanaman yang kelak terus menghasilkan buah. Ada rasa hormat sekaligus iri ketika membandingkan penghasilan dari pekerjaan proyek dengan kebun yang dirawat dari musim ke musim.
Uang dari pekerjaan proyek dapat segera digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, pekerjaan konstruksi memiliki batas waktu. Ketika proyek selesai dan kontraknya berakhir, Rudy harus memikirkan kembali sumber penghasilannya. Sementara itu, pohon-pohon kakao yang dirawat Rahmat berpotensi tetap menjadi sumber penghidupan keluarga.
Bagi Rahmat, kebun kakao bukan sekadar warisan pekerjaan keluarga. Ada perubahan cara bertani yang membuat tanaman-tanamannya lebih produktif. Ia mengenal teknik budidaya yang lebih intensif melalui kegiatan pendampingan dan pelatihan yang diberikan PT Vale Indonesia.
Sebelumnya, produktivitas kebun kakao Rahmat berkisar 400–500 kilogram per hektare dalam setahun. Setelah mengikuti pendampingan dan menerapkan teknik perawatan yang lebih baik, hasil panennya meningkat menjadi sekitar 900–1.200 kilogram per hektare per tahun.
“Dengan adanya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh PALE, sehingga kami ini dari nol pengetahuan tentang kakao, akhirnya sekarang kita sudah bisa melaksanakan kegiatan itu dengan ilmu yang kami diberikan oleh dari PALE,” ujar Rahmat.
Peningkatan produktivitas tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan harga kakao di pasaran. Jika sebelumnya harga berada di kisaran Rp30.000–Rp40.000 per kilogram, belakangan harganya telah mencapai sekitar Rp80.000–Rp90.000 per kilogram.
Kenaikan harga menjadi faktor lain yang ikut memengaruhi pendapatan petani. Dengan demikian, perubahan ekonomi yang dirasakan Rahmat tidak hanya berkaitan dengan peningkatan hasil kebun, tetapi juga kondisi pasar komoditas kakao.
Di sekitar kawasan industri Pomalaa, peluang ekonomi juga tumbuh melalui sektor usaha masyarakat. Lebih dari 150 UMKM lokal telah dilibatkan dalam ekosistem kegiatan perusahaan. Bentuk keterlibatannya antara lain melalui pameran, festival pasar, jejaring usaha, serta bazar kuliner binaan.
Namun, keterlibatan dalam kegiatan promosi dan pembinaan tidak selalu berarti seluruh UMKM telah menjadi pemasok perusahaan. Dari jumlah tersebut, sekitar 30–45 UMKM atau 20–30 persen telah masuk ke rantai pasok formal perusahaan. Sebagian di antaranya menyediakan kebutuhan katering harian, jasa kebersihan, hingga dukungan operasional proyek.
Perbedaan itu memperlihatkan bahwa peluang bagi usaha lokal memang terbuka, tetapi proses untuk masuk ke dalam rantai pasok industri membutuhkan kapasitas dan kesiapan usaha yang tidak sama.
Peluang kerja menjadi sisi lain dari pertumbuhan proyek. Selama tahap konstruksi IGP Pomalaa, lebih dari 2.500 tenaga kerja terserap. Sekitar 1.800–2.000 orang di antaranya merupakan tenaga kerja lokal.
Perekrutan tenaga kerja diprioritaskan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah operasional, mulai dari ring 1 hingga ring 3. Rudy menjadi salah satu pekerja yang memperoleh kesempatan tersebut melalui perusahaan kontraktor dan subkontraktor mitra proyek, bukan sebagai karyawan langsung PT Vale Indonesia maupun KNI.
Kesempatan bekerja di proyek konstruksi juga menjadi bagian dari proses masyarakat sekitar mengenal dunia industri. Namun, keterlibatan pada tahap pembangunan belum otomatis menjamin seseorang dapat mengisi posisi teknis ketika fasilitas mulai beroperasi.
Karena itu, perusahaan menjalankan program pelatihan vokasi, transfer pengetahuan, dan sertifikasi profesi secara bertahap. Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja lokal agar dapat mengambil peran dalam pekerjaan teknis maupun operasional seiring berkurangnya keterlibatan tenaga kerja asing.
Kebutuhan peningkatan kapasitas tersebut berkaitan dengan skala proyek yang tengah dibangun. Di kawasan Pomalaa, pengembangan fasilitas pengolahan nikel berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) menjadi salah satu bagian penting dari proyek hilirisasi yang melibatkan PT Vale Indonesia Tbk, Zhejiang Huayou Cobalt, dan Ford Motor Company.
Fasilitas HPAL yang dikelola KNI dirancang untuk menghasilkan produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), material antara yang menjadi salah satu bahan baku dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Saat kunjungan ke fasilitas tersebut pada Senin, 26 Oktober 2026, empat dari lima unit autoclave telah siap. Berdasarkan data progres proyek per September 2026, pembangunan fasilitas HPAL telah mencapai 97,9 persen.
Meski sebagian besar konstruksi telah diselesaikan, pekerjaan belum sepenuhnya berakhir. Sejumlah fasilitas masih menjalani pengujian dan penyelesaian sebelum memasuki tahap produksi komersial.
Yu Pan, Head of Production Scheduling Center Department KNI, menjelaskan bahwa beberapa fasilitas masih berada dalam proses penyelesaian dan pengujian. Peralatan pada acid plant mulai dijalankan, dengan salah satu sistem telah beroperasi. Sementara itu, fasilitas HPAL masih menjalani tahap pengujian.
Produksi komersial diperkirakan dapat dimulai pada November 2026 atau paling lambat pertengahan Desember 2026.
Tahap pengujian tersebut menjadi bagian penting sebelum seluruh rangkaian fasilitas dioperasikan secara terintegrasi. Project Manager Joint Venture Pomalaa PT Vale, Ridwan Setiawan, mengatakan bahwa pekerjaan utama saat ini adalah memastikan setiap unit dapat berfungsi dan seluruh jalur produksi saling terhubung.
“Yang menjadi pekerjaan utama saat ini adalah testing commissioning untuk semua fasilitas yang sudah dikonstruksi, termasuk functional test untuk masing-masing unit. Kemudian connectivity test untuk semua line produksi,” ujar Ridwan.
Setelah pengujian fasilitas, tahapan berikutnya adalah feeding, yakni memasukkan material bijih ke dalam sistem pengolahan. Tahap ini membutuhkan pasokan bahan baku yang memadai agar lini produksi dapat berjalan sesuai kapasitasnya.
“Proses feeding tentunya membutuhkan material ore yang cukup untuk lini produksi nanti,” katanya.
Fasilitas HPAL tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 120.000 ton MHP per tahun. Untuk mendukung kapasitas itu, kebutuhan bijih limonit diperkirakan mencapai sekitar 21 juta ton per tahun, berdasarkan keterangan PT Vale yang disampaikan pada Januari 2026.
Besarnya kebutuhan tersebut membuat ketersediaan bahan baku menjadi salah satu aspek penting dalam persiapan operasi. Direktur Utama PT Vale, Bernardus Irmanto, sebelumnya menyampaikan bahwa kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang disetujui bagi perusahaan saat itu sekitar 30 persen dari volume yang diajukan.
Angka tersebut merujuk pada perbandingan kuota yang disetujui dengan volume pengajuan perusahaan, bukan menunjukkan persentase pemenuhan kebutuhan bijih HPAL. Namun, informasi itu memberi konteks mengenai pentingnya kepastian perizinan dan pasokan bijih bagi fasilitas yang membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar.
Dari sisi teknologi, HPAL dirancang untuk mengolah bijih nikel laterit jenis limonit melalui proses pelindian bertekanan tinggi. Material bijih terlebih dahulu dipersiapkan menjadi slurry atau campuran material dengan air, kemudian direaksikan bersama asam sulfat dan uap di dalam autoclave.
Proses tersebut berlangsung pada temperatur sekitar 240–270 derajat Celsius dengan tekanan tinggi. Kondisi itu memungkinkan kandungan nikel dan kobalt dalam bijih limonit larut ke dalam larutan, sebelum melalui tahapan pemisahan dan pengolahan lanjutan hingga menghasilkan MHP.
Teknologi HPAL memungkinkan pengolahan bijih limonit yang selama ini tidak dapat dimanfaatkan dengan cara yang sama seperti bijih nikel berkadar lebih tinggi. Produk MHP yang dihasilkan menjadi bahan antara untuk proses berikutnya dalam rantai produksi material baterai kendaraan listrik.
Ridwan menyebut autoclave yang digunakan KNI mengadopsi teknologi terbaru dengan kapasitas lebih besar.
“Autoclave itu salah satu autoclave yang menggunakan teknologi terbaru. Jadi dari sisi kapasitasnya lebih besar,” ujarnya.
Besarnya kebutuhan energi dalam proses tersebut juga menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan dalam desain fasilitas. Menurut Ridwan, fasilitas HPAL KNI menggunakan dua sumber energi, yakni pembangkit listrik berbahan bakar gas alam cair atau LNG dan pemanfaatan panas dari acid plant.
“HPAL di KNI itu memiliki dua sumber tenaga. Mereka tidak menggunakan coal power plant, tapi menggunakan LNG power plant dan acid plant heat recovery dari acid plant,” kata Ridwan.
Pemanfaatan panas dari acid plant merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan energi yang dihasilkan dalam rangkaian proses pengolahan. Sementara itu, penggunaan LNG menjadi sumber energi bagi kebutuhan operasional fasilitas.
Dalam mendukung proses HPAL, terdapat empat acid plant yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan lima unit autoclave beserta infrastruktur pendukungnya. Keberadaan fasilitas ini berkaitan dengan kebutuhan asam sulfat dalam proses pelindian bijih limonit.
Di luar aspek produksi dan energi, pengelolaan lingkungan juga menjadi bagian dari persiapan operasional. Pemantauan dilakukan terhadap sejumlah parameter, antara lain emisi udara, kebisingan, dan limbah. Ridwan mengatakan bahwa PT Vale bekerja sama dengan KNI untuk memastikan kegiatan pengolahan memenuhi ketentuan lingkungan yang berlaku.
“Kita bekerja sama dengan KNI untuk memastikan standar baku mutu dari semua proses HPAL,” ujarnya.
Proyek pengolahan dan fasilitas pertambangan Pomalaa memiliki nilai investasi sekitar 4,5 miliar dolar AS. Pengembangan tersebut juga terhubung dengan rantai pasok kendaraan listrik melalui keterlibatan Ford Motor Company dalam kemitraan proyek.
Ketika konstruksi berangsur selesai dan fasilitas bergerak menuju tahap operasi, kebutuhan tenaga kerja juga diperkirakan berubah. Ridwan menyebut kebutuhan tenaga kerja pada fase operasional direncanakan mencapai sekitar 4.000–6.000 orang.
“Untuk masuk ke fase operasi, itu direncanakan ada sekitar 4.000 sampai 6.000 karyawan yang akan direkrut. Tapi untuk tenaga kerja asing itu akan mulai dikurangi,” kata Ridwan.
Rencana tersebut membuka peluang baru bagi tenaga kerja lokal. Namun, kesempatan itu juga menuntut kesiapan keterampilan agar masyarakat sekitar tidak hanya terlibat pada pekerjaan konstruksi, tetapi dapat mengambil peran dalam kegiatan operasional yang membutuhkan keahlian lebih khusus.
PT Vale sebelumnya menyampaikan bahwa fasilitas HPAL Pomalaa akan melalui tahapan pengujian dan peningkatan produksi secara bertahap. Target produksi penuh sebesar 120.000 ton MHP per tahun diarahkan pada 2027, setelah proses commissioning dan ramp-up berjalan.
Dengan demikian, perkiraan dimulainya produksi komersial pada November 2026 atau paling lambat pertengahan Desember merupakan tahap awal menuju kapasitas penuh yang direncanakan pada 2027. Pabrik yang hampir selesai masih harus melewati ujian sesungguhnya: memastikan seluruh sistem bekerja, pasokan bijih tersedia, dan proses produksi berlangsung secara konsisten.
Di balik progres konstruksi yang mencapai 97,9 persen dan kesiapan empat dari lima autoclave, masih ada pekerjaan untuk memastikan setiap bagian fasilitas terhubung dan mampu beroperasi sebagai satu sistem. Perjalanan menuju produksi komersial bukan sekadar menuntaskan pembangunan fisik, melainkan membuktikan bahwa seluruh persiapan dapat berjalan sesuai rencana.
Bagi Rudy, pekerjaan di Pomalaa merupakan bagian dari perubahan yang sedang berlangsung di wilayahnya. Ia berada di antara ribuan pekerja yang terlibat dalam pembangunan fasilitas industri. Namun, di balik penghasilan yang lebih besar, ada pula ketidakpastian tentang pekerjaan setelah tahap konstruksi berakhir.
Di Desa Bende, Rahmat menjalani perubahan melalui cara yang berbeda: meningkatkan hasil kebun kakao dengan pengetahuan dan teknik budidaya yang lebih baik. Kebun itu tidak hanya menghasilkan panen, tetapi juga menjadi aset yang terus tumbuh selama dirawat.
Kisah keduanya memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi di sekitar kawasan industri tidak hanya memiliki satu wajah. Ada pekerjaan konstruksi dan peluang pada sektor usaha, tetapi ada pula pertanian yang tetap menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari besarnya investasi, kapasitas produksi MHP, atau jumlah fasilitas yang selesai dibangun. Ukuran lainnya terletak pada seberapa jauh masyarakat setempat dapat mengambil bagian, memperoleh keterampilan, mengembangkan usaha, dan meningkatkan produktivitas sumber penghidupan yang telah mereka miliki.
Rudy setiap hari mengenakan sepatu keselamatan untuk bekerja di antara mesin dan fasilitas industri Pomalaa. Rahmat tetap merawat pohon-pohon kakao di Bende. Yang satu mengandalkan pekerjaan di proyek yang sedang tumbuh, yang lain menjaga kebun yang terus berbuah. Di antara keduanya, tersimpan satu persoalan penting bagi masa depan kawasan industri: bagaimana peluang hari ini dapat menjadi penghidupan yang bertahan jauh setelah pembangunan selesai.
