Dari Amarah Menjadi Rupiah: Kisah Indah Susanti dan Pertanian Organik di Kolaka

  • Bagikan

SUMSELDAILY.CO.ID, KOLAKA – Indah Susanti pernah menganggap tanaman yang gagal tumbuh sebagai sesuatu yang pantas dibabat. Ketika sayuran di kebunnya tak kunjung berkembang, amarah kerap mengambil alih. Bahkan, pohon pisang yang belum sempat berbuah pun bisa menjadi sasaran kekesalannya.

Kini, tanaman yang sama justru menjadi bagian dari sumber penghidupannya. Batang pisang yang dahulu ditebas tanpa banyak pertimbangan, sekarang dicacah dan diolah menjadi kompos. Buahnya dijual, sementara batangnya dikembalikan ke tanah. Dari kebun yang sama, Indah belajar bahwa sesuatu yang dianggap gagal tidak selalu berarti kehilangan manfaat.

“Kalau saya ngamuk-ngamuk, membantainya akan sangat cepat. Dan pembuatan kompos akan sangat cepat,” kenang Indah di hadapan para jurnalis dan peserta lawatan jurnalistik yang berkunjung ke area pertanian organik binaan PT Vale Indonesia Tbk di Desa Puroda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (27/10/2026).

Perubahan itu tidak datang dalam semalam. Ada masa ketika kebun yang dikelolanya nyaris kehilangan harapan. Tanah sulit ditanami, sayuran tidak berkembang, sementara hasil kebun belum cukup untuk menopang kebutuhan keluarga.

Sebelum mengenal pertanian organik, kehidupan Indah bersama tiga anaknya berlangsung dalam keterbatasan. Membeli lauk untuk makan sehari-hari tidak selalu mudah. Di saat bersamaan, biaya pendidikan salah seorang anaknya yang sedang kuliah juga menjadi tanggungan keluarga.

Indah menggambarkan kondisi tanah kebunnya seperti sudah “mati”. Berbagai jenis sayuran yang ditanam sulit tumbuh dengan baik, meskipun berulang kali diberi pupuk. Ketika tanaman bermasalah atau daunnya berlubang akibat serangan hama, ia harus kembali membeli pupuk dan obat pembasmi hama dari toko pertanian.

Dari kebun yang dikelolanya saat itu, uang bersih yang bisa dibawa pulang hanya berkisar Rp2,5 juta per bulan. Pengeluaran untuk kebutuhan produksi ikut membebani hasil yang sudah terbatas.

Pada 2021, Indah mulai mencoba pendekatan pertanian organik. Keputusan tersebut justru membawanya menghadapi tantangan baru.

Ketika pupuk kimia dihentikan, bayam, kangkung, dan sawi yang ditanamnya mengalami perubahan drastis. Daun-daunnya menguning. Kondisi itu berlangsung sekitar tiga bulan pertama, ketika Indah masih meraba-raba cara mengelola tanah tanpa bergantung pada pupuk kimia.

“Kalau pakai pupuk kimia, tiga hari sudah hijau. Tapi setelah itu, tanaman bisa roboh lagi,” kenangnya.

Sebelumnya, penggunaan pupuk kimia memang dapat membuat sayuran tampak hijau hanya dalam beberapa hari. Namun, perubahan itu tidak selalu bertahan lama. Tanaman kembali bermasalah, sementara kebutuhan dapur keluarga tidak bisa menunggu sampai tanah dan pola budidaya berangsur pulih.

Masa peralihan menuju pertanian organik menjadi ujian yang tidak ringan. Berhenti menggunakan pupuk kimia berarti bersedia menghadapi risiko ketika hasil pertanian belum menunjukkan perbaikan.

Di tengah situasi itu, Indah masih memiliki satu penopang: kepercayaan pembeli. Pedagang sayur langganannya tetap bersedia mengambil hasil kebun, meskipun kondisi sayuran belum sepenuhnya meyakinkan. Hasil panennya bahkan masih dicampur dengan sayuran dari petani konvensional.

Kepercayaan tersebut membuat Indah bertahan ketika hasil pertanian belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Setelah melewati masa tiga bulan yang kritis, ia terus mengembangkan cara mengolah bahan organik dan memperbaiki pengelolaan kebunnya.

Pada masa itu, ia juga sempat mempertanyakan apakah bahan sederhana di sekitar rumah benar-benar mampu menggantikan pupuk yang selama ini dibeli dari toko pertanian.

“Apa iya hanya dengan ini, hanya dengan rumputan bisa membuat tanaman sehat?” katanya, mengingat keraguan yang pernah muncul.

Namun, ia terus mencoba. Rumput, batang pisang, dan sisa tanaman mulai diolah menjadi kompos. Ia juga belajar mengelola kebun dengan memperhatikan kondisi tanaman dan tidak terburu-buru menggunakan pestisida ketika hama muncul.

Perlahan, hasilnya mulai terlihat. Tanaman kembali tumbuh, sementara bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna mulai memiliki fungsi baru. Perubahan paling mendasar bukan hanya terjadi pada cara Indah memberi pupuk, melainkan pada cara ia memandang seluruh bagian dari kebunnya.

Pohon pisang menjadi contoh paling nyata. Tanaman yang dahulu bisa dibabat seketika saat ia kesal, kini dibiarkan tumbuh hingga menghasilkan buah bernilai ekonomi. Satu tandan pisang dapat mendatangkan sekitar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu.

Setelah buahnya dipanen, batang pisang dicacah untuk menjadi bahan kompos. Sisa tanaman yang sebelumnya dianggap tidak berguna kembali ke tanah sebagai bagian dari proses menjaga kesuburan kebun.

Satu tanaman memberikan manfaat dalam dua tahap. Buahnya menghasilkan uang, sedangkan batangnya menjadi bahan untuk mendukung produksi berikutnya.

Pola pemanfaatan itu juga diterapkan pada berbagai tanaman dan bahan organik lain. Di belakang rumah, Indah menanam beragam sayuran. Di halaman depan, seledri tumbuh dengan pembeli yang rutin datang. Ia juga mengelola sawah dan memproduksi kompos, baik untuk kebutuhan sendiri maupun dijual.

Perubahan cara mengelola kebun itu turut mengubah kondisi ekonominya. Dari penjualan sayuran, Indah menyebut omzetnya dapat mencapai sekitar Rp5 juta per bulan ketika harga sedang rendah. Pada periode harga tinggi, omzet tersebut bisa mencapai Rp12 juta hingga Rp15 juta per bulan.

Angka itu merupakan omzet penjualan sayuran, bukan keuntungan bersih. Namun, perubahan penting tidak hanya terletak pada nilai penjualan. Indah kini dapat membuat sebagian kebutuhan pupuk sendiri, sehingga tidak seluruh input produksi harus dibeli dari luar.

Seledri di halaman rumah menyumbang pemasukan sekitar Rp100 ribu per hari. Sementara dari sawah seluas 27 are atau 0,27 hektare, ia memperoleh sekitar Rp12 juta bersih setiap kali panen. Pada musim sebelumnya, hasil panen sawahnya mencapai sekitar tujuh ton.

Berbagai sumber penerimaan itu membuat usaha pertanian Indah tidak lagi bertumpu pada satu komoditas. Ketika harga sayuran melemah, masih ada seledri, pisang, hasil sawah, dan kompos yang dapat memberikan pemasukan.

Sayuran organik yang dijualnya pun belum memperoleh harga lebih tinggi dibandingkan sayuran konvensional. Indah tetap menjualnya dengan harga yang setara. Baginya, biaya produksi yang lebih terkendali menjadi salah satu alasan usaha tersebut tetap dapat dijalankan.

Dengan demikian, nilai ekonomi pertanian organik di kebun Indah tidak hanya berasal dari harga jual hasil panen. Kemampuan mengolah bahan sendiri, memanfaatkan sisa tanaman, dan mengembangkan beberapa sumber penerimaan menjadi bagian penting dari keberlangsungan usaha keluarganya.

Perubahan itu juga membuka pengalaman yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Indah telah tiga kali terbang ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan terkait pertanian organik.

“Saya tidak pernah mimpi terbang ke Jakarta. Tapi karena organik ini, saya terbang ke Jakarta sekarang sudah tiga kali,” katanya.

 

Kisah Indah merupakan bagian dari pengembangan pertanian organik yang dijalankan PT Vale Indonesia Tbk bersama masyarakat di Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka. Menurut Lalu Nofa Setiawan Putra, Manager External Relation Regional & SDP Growth PT Vale Indonesia Tbk, program tersebut diawali dengan asesmen pada 2021 untuk melihat kondisi, potensi, dan persoalan yang dihadapi petani.

Pelaksanaan program berjalan pada 2022. Saat itu, sebagian petani masih mengandalkan pola konvensional, sementara produktivitas, ketersediaan sarana produksi, dan gangguan hama menjadi tantangan yang mereka hadapi.

Program diarahkan untuk mendorong kemandirian petani. Mereka didorong memahami pengolahan bahan organik, membuat pupuk sendiri, memperbaiki praktik budidaya, serta mengembangkan hasil pertanian agar memiliki nilai ekonomi.

“Tujuannya agar petani bisa mandiri dan mendapatkan manfaat dari kegiatan pertanian, bukan terus bergantung,” ujar Lalu.

Pengetahuan tersebut tidak hanya diperoleh Indah. Salmi, salah seorang petani, mengikuti pelatihan pertanian organik pada akhir November hingga awal Desember 2021. Selama lima hari, peserta mempelajari pembuatan kompos, pupuk cair, sistem intensifikasi padi organik atau System of Rice Intensification (SRI), serta pemanfaatan limbah rumah tangga dan pertanian.

Menurut Salmi, sekitar 75 persen bahan yang digunakan untuk membuat pupuk organik dapat berasal dari sampah atau material yang sebelumnya tidak termanfaatkan. Air cucian beras, air kelapa dari pasar, batang pisang, rumput, sekam bakar, dan kotoran ternak menjadi beberapa bahan yang dapat diolah kembali.

Perubahan cara bertani juga menuntut petani mengubah kebiasaan dalam menghadapi hama. Salmi menjelaskan, petani perlu mengamati keseimbangan antara hama dan musuh alaminya sebelum memutuskan melakukan penyemprotan. Tidak setiap kemunculan hama harus langsung direspons dengan pestisida.

Pengembangan pertanian organik di Baula tidak hanya menyangkut kemampuan membuat pupuk. Pengetahuan mengenai cara budidaya, pengelolaan hama, dan pemanfaatan sumber daya lokal juga perlu dipertahankan agar petani tidak kembali sepenuhnya bergantung pada input dari luar.

Di sinilah tantangan keberlanjutan mulai terlihat. Petrus, salah seorang warga yang mengikuti perkembangan program tersebut, mengusulkan agar materi pelatihan disusun dalam bentuk buku panduan atau diktat.

Menurut dia, tidak semua masyarakat memiliki akses internet atau terbiasa belajar melalui YouTube. Panduan tertulis yang memuat bahan dan tahapan pembuatan pupuk organik dapat membantu pengetahuan itu dipelajari kembali di luar kegiatan pelatihan.

“Materi-materi pelajaran tentang pembuatan organik, cara melakukan, bahan-bahannya seperti ini, dibuat dalam bentuk diktat,” ujarnya.

Usulan tersebut menunjukkan bahwa pelatihan langsung saja belum cukup. Pengetahuan yang hanya bergantung pada ingatan peserta atau kehadiran pendamping berisiko terputus ketika kegiatan berakhir. Dokumentasi tertulis dapat membantu petani mempelajari kembali tahapan pembuatan pupuk dan membagikannya kepada anggota kelompok lain.

Dukungan pemerintah kecamatan juga menjadi bagian dari perkembangan pertanian organik di Baula. Camat Baula Syahrial Darmawan mengatakan, pengembangan padi organik mulai dilakukan pada 2022, dengan wilayah awal di Desa Pubunga dan Puroda.

Ia melihat peluang pasar beras organik cukup besar, sementara pasokannya masih terbatas. Pemerintah kecamatan berupaya mendukung petani sekaligus menjadi penghubung ketika mereka membutuhkan koordinasi dengan PT Vale.

“Harapan saya dengan adanya produksi beras organik di wilayah Kecamatan Baula ini, Baula bisa berkembang menjadi sentra padi organik di Kabupaten Kolaka. Kalau orang bertanya beras organik, selalu ke Kecamatan Baula,” kata Syahrial.

Harapan itu masih membutuhkan pekerjaan panjang. Ketersediaan pasar harus diikuti kemampuan petani menjaga kualitas dan kesinambungan produksi. Produk organik belum tentu otomatis memperoleh harga jual lebih tinggi, sehingga kemampuan menekan biaya produksi dan menjaga hasil panen tetap penting bagi petani.

Bagi Indah, perubahan itu sudah terasa di tempat yang paling dekat dengan kehidupannya: kebun dan rumah. Ia tidak lagi melihat setiap tanaman yang gagal sebagai alasan untuk membabat semuanya. Ada bahan yang bisa diolah, tanah yang bisa dipulihkan, dan hasil yang masih dapat diperoleh dari bagian tanaman yang sebelumnya dibuang.

Kebun juga menjadi ruang kerja keluarga. Indah melibatkan suami dan anak-anaknya dalam aktivitas pertanian di sekitar rumah. Dari berbagai komoditas yang dikelola, ia membangun sumber penghidupan yang tidak lagi bergantung pada satu jenis panen.

Dulu, ketika tanaman gagal tumbuh, batang pisang bisa menjadi sasaran amarahnya. Kini, batang itu dicacah, diolah menjadi kompos, lalu dikembalikan ke tanah. Buahnya menghasilkan uang, sementara sisa tanamannya membantu mendukung produksi berikutnya.

Di kebun Indah, batang pisang memiliki dua kehidupan. Satu menghasilkan buah yang dijual, satu lagi kembali menjadi pupuk bagi tanah. Sebuah siklus sederhana yang memperlihatkan bahwa nilai ekonomi tidak selalu lahir dari sesuatu yang baru, tetapi juga dari kemampuan mengelola apa yang selama ini terbuang.

 

Penulis: Riki Okta Putra
Editor: ROP
  • Bagikan
Exit mobile version