ALUMINIUM YANG DITEMPA AIR

  • Bagikan
inalum

Di Balik Ambisi 900 Ribu Ton, Indonesia Berpacu Menemukan Energi Hijau

SUMSELDAILY.CO.ID — Reno melemparkan kunci motor ke meja makan, lalu duduk bersandar di kursi plastik tempat ayahnya sedang sibuk mengelap kacamata dengan ujung kaus oblong. “Lagian Ayah aneh, pensiun bukannya santai malah tiap sore mbongkar mesin cuci tetangga,” cetus Reno sambil meraih gelas es teh manisnya. Pak Tejo hanya terkekeh, tangannya tetap sibuk mengutak-atik baut yang berserakan di atas meja.

“Kamu kira pensiunan dari INALUM cuma bisa duduk melamun?” katanya. “Di pabrik Tanjung Gading dulu, telat mengecek komponen lima menit saja bisa bikin satu jalur tungku reduksi kacau. Apalagi cuma benerin pengering baju begini.” Bagi Reno, kebiasaan itu mungkin sekadar tingkah seorang ayah yang belum bisa berhenti bekerja. Namun bagi Pak Tejo, tang, obeng bermagnet dan baut-baut kecil di atas meja makan adalah bagian dari kebiasaan yang telah menemaninya selama puluhan tahun bekerja di lingkungan INALUM.

Tiga puluh tahun masa kerja telah berlalu. Tubuhnya memang tak lagi sekuat dulu, tetapi kebiasaan memastikan sesuatu tetap bekerja belum ikut pensiun. Setiap sore sekitar pukul empat, ia kembali ke perkakasnya, seperti mengulang bagian kecil dari kehidupan yang pernah ia jalani di tengah deru mesin, turbin dan proses peleburan aluminium. Bagi Pak Tejo, aluminium mungkin hanya bagian dari pekerjaan yang pernah ia jalani, tetapi tanpa disadari pekerjaannya merupakan bagian dari perjalanan panjang Indonesia membangun industri aluminium dari kekuatan air Sungai Asahan.

Kini, ketika tubuhnya mulai menua, industri yang pernah menjadi bagian dari hidupnya justru sedang memasuki babak baru. Indonesia ingin memproduksi aluminium jauh lebih banyak, dengan kebutuhan nasional yang telah mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi INALUM berada di kisaran 275 ribu ton per tahun. MIND ID menargetkan kapasitas produksi aluminium terintegrasi mencapai sekitar 900 ribu ton per tahun pada 2029. Namun semakin besar ambisi tersebut, semakin besar pula satu pertanyaan yang harus dijawab: energinya dari mana?

inalum

Dari Air Menjadi Aluminium

Jawabannya selama puluhan tahun mengalir dari kawasan Danau Toba. Air yang bergerak melalui Sungai Asahan dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik, lalu energi itu menjadi kekuatan bagi proses peleburan aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Air menjadi listrik, listrik menjadi aluminium, dan rangkaian sederhana itu menjadi salah satu fondasi perjalanan industri aluminium nasional.

PLTA Siguragura dan Tangga yang memanfaatkan aliran Sungai Asahan memiliki kapasitas gabungan sekitar 603 megawatt. Bagi INALUM, pembangkit tersebut bukan sekadar fasilitas pendukung, tetapi bagian penting dari daya saing industri. Kementerian ESDM juga menyebut air sebagai sumber energi utama INALUM dan menilai pembangkit tersebut penting dalam menyediakan energi bersih bagi produksi aluminium.

Kini, fondasi tersebut hendak diperbesar. MIND ID sedang mendorong ekspansi kapasitas aluminium hingga sekitar 900 ribu ton per tahun pada 2029, dengan sebagian besar tambahan kapasitas berasal dari pengembangan fasilitas baru di Mempawah, Kalimantan Barat. Namun membangun fasilitas peleburan aluminium bukan seperti membangun gudang yang tinggal menunggu bahan baku datang, karena aluminium membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar dan harus tersedia secara stabil.

Karena itu, setiap tambahan kapasitas produksi pada akhirnya akan kembali kepada satu pertanyaan yang sama: di mana listriknya? Togaf Sihotang, PGR INALUM, pernah mengungkapkan persoalan tersebut secara lugas. “Kita sudah siap ekspansi, tapi power-nya di mana? Itu yang masih jadi PR besar,” ujar Togaf. Kalimat tersebut pendek, tetapi bagi industri aluminium maknanya sangat panjang.

Ketika Listrik Menjadi Penentu

Aluminium tidak lahir langsung dari batu bauksit. Bijih bauksit terlebih dahulu diolah menjadi alumina, kemudian alumina masuk ke proses elektrolisis untuk menghasilkan aluminium. Tahap terakhir inilah yang membuat industri aluminium menjadi salah satu industri yang sangat intensif energi.

Secara sederhana, rantainya dapat digambarkan sebagai bauksit → alumina → listrik → aluminium. Karena itu, energi bukan sekadar komponen biaya, melainkan bagian penting dari proses produksi. Semakin besar kapasitas peleburan, semakin besar pula kebutuhan listrik yang harus dipastikan ketersediaannya.

INALUM telah melakukan berbagai inovasi efisiensi. Konsumsi listrik yang sebelumnya sekitar 15.000 kWh per ton aluminium berhasil ditekan menjadi sekitar 14.000 kWh per ton, dengan target terus diturunkan menuju 13.500 kWh per ton. Efisiensi tersebut ikut mendorong peningkatan produksi dari sekitar 225 ribu ton menjadi 275 ribu ton per tahun, tanpa penambahan daya listrik baru dalam skala yang sama.

Namun target 900 ribu ton membawa persoalan berbeda. Sebagai gambaran, jika konsumsi listrik 14.000 kWh per ton digunakan sebagai asumsi, produksi 900 ribu ton membutuhkan sekitar 12,6 terawatt-jam listrik per tahun. Angka tersebut bukan proyeksi resmi kebutuhan listrik MIND ID karena desain teknologi dan tingkat efisiensi fasilitas baru dapat berbeda, tetapi hitungan sederhana itu menunjukkan skala energi yang diperlukan ketika kapasitas produksi diperbesar. Efisiensi saja tidak cukup, INALUM membutuhkan sumber energi baru yang kompetitif sekaligus semakin bersih.

Aluminium untuk Ekonomi Hijau

Paradoksnya muncul di sini. Dunia sedang mendorong transisi menuju energi rendah karbon, tetapi transisi tersebut justru membutuhkan semakin banyak aluminium. Kendaraan listrik membutuhkan material ringan, panel surya membutuhkan aluminium, jaringan transmisi membutuhkan aluminium, dan berbagai infrastruktur energi terbarukan juga membutuhkan logam tersebut.

Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung Irwandi Arif menjelaskan kebutuhan aluminium bersifat lintas sektor dan akan terus meningkat seiring perkembangan ekonomi. “Di negara berpendapatan tinggi, aluminium banyak digunakan untuk sektor transportasi. Sementara di negara berpendapatan rendah dan menengah, penggunaannya lebih dominan untuk sistem transmisi listrik, barang manufaktur, dan konstruksi,” ujar Irwandi.

Dengan demikian, aluminium menjadi salah satu material penting dalam transisi energi. Namun ada persoalan lain yang mengikutinya, sebab aluminium sendiri membutuhkan energi besar untuk diproduksi. Di situlah muncul paradoks yang semakin penting bagi industri: transisi energi membutuhkan aluminium, tetapi aluminium juga membutuhkan energi.

Jika listrik untuk memproduksi aluminium berasal dari sumber beremisi tinggi, jejak karbon produk ikut meningkat. Sebaliknya, semakin bersih sumber listriknya, semakin besar peluang aluminium tersebut masuk ke pasar yang semakin sensitif terhadap jejak karbon. Di sinilah konsep green aluminium menjadi penting, karena pasar tidak lagi hanya bertanya berapa banyak aluminium yang dapat diproduksi, tetapi juga bagaimana aluminium tersebut dibuat.

Mempawah dan Jalan Panjang Hilirisasi

Tantangan bahan baku sedang dijawab di Kalimantan Barat. Di Mempawah, MIND ID membangun ekosistem yang menghubungkan bauksit, alumina hingga aluminium, dengan SGAR Fase I berkapasitas sekitar 1 juta ton alumina per tahun. Pengembangan berikutnya disiapkan untuk menambah kapasitas pengolahan, sementara di sisi hulu ANTAM menyiapkan fasilitas washed bauxite dengan kapasitas sekitar 1,47 juta ton per tahun.

Fasilitas aluminium baru di Mempawah dirancang memiliki kapasitas hingga 600 ribu ton per tahun. Jika digabungkan dengan fasilitas eksisting INALUM, kapasitas aluminium MIND ID ditargetkan mencapai sekitar 900 ribu ton per tahun. Rantai tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam strategi pengelolaan mineral Indonesia, karena bauksit tidak lagi semata-mata dipandang sebagai komoditas yang keluar dari tambang.

Bijih tersebut harus bergerak menjadi alumina, kemudian aluminium, lalu masuk ke industri yang lebih bernilai tambah. Namun hilirisasi tidak otomatis selesai ketika aluminium keluar dari smelter. Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengingatkan bahwa pembangunan fasilitas pengolahan harus diikuti ekosistem industri yang lebih lengkap.

“Pemerintah tidak cukup hanya mengejar besaran investasi. Yang lebih penting adalah memastikan investasi tersebut membangun ekosistem industrialisasi yang lengkap dari hulu hingga hilir,” ujar Fahmy.

Hilirisasi Tak Boleh Berhenti di Smelter

Perspektif tersebut memberi ukuran yang lebih luas terhadap target 900 ribu ton. Target tersebut bukan semata-mata berapa banyak aluminium yang keluar dari tungku, tetapi juga apa yang terjadi setelah aluminium tersebut diproduksi. Apakah menjadi bahan baku industri dalam negeri, komponen kendaraan, material energi terbarukan atau produk manufaktur bernilai tambah tinggi?

Semakin jauh aluminium bergerak dalam rantai industri, semakin besar pula nilai tambah yang dapat tinggal di Indonesia. Karena itu, pembangunan smelter hanyalah satu tahap dalam perjalanan panjang hilirisasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan industri pengguna tumbuh di sekitar rantai tersebut.

MIND ID memperkirakan kebutuhan aluminium domestik dapat meningkat tajam dalam beberapa dekade mendatang. Kendaraan listrik dan pembangunan energi terbarukan menjadi salah satu pendorongnya, sementara MIND ID mencatat aluminium menyumbang sekitar 18 persen pada satu battery pack dan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya 1 MW membutuhkan sekitar 21 ton aluminium.

Angka tersebut menunjukkan bahwa aluminium akan menjadi salah satu material penting dalam ekonomi rendah karbon. Semakin cepat Indonesia membangun kendaraan listrik dan energi terbarukan, semakin besar pula kebutuhan terhadap aluminium. Tetapi pada saat yang sama, industri harus menjawab pertanyaan yang tidak kalah penting: energi apa yang digunakan untuk membuat aluminium tersebut?

Green Aluminium dan Pertaruhan Daya Saing

Pasar global semakin memperhatikan jejak karbon produk. Bagi INALUM, perubahan tersebut menjadi peluang sekaligus tekanan karena produk aluminium tidak bisa selamanya mengandalkan energi berbasis fosil jika ingin menjaga daya saing di pasar global. Sumber energi akhirnya ikut menentukan nilai produk yang keluar dari fasilitas peleburan.

Togaf mengatakan perubahan tuntutan pasar membuat INALUM harus semakin memperhatikan sumber energi dalam proses produksinya. “Pasar luar negeri sekarang sensitif terhadap isu energi bersih. Karena itu, INALUM tidak bisa lagi mengandalkan sumber energi berbasis batubara,” tutur Togaf.

Di sinilah PLTA Asahan mendapatkan makna baru. Dulu, air menjadi sumber energi karena mampu menghasilkan listrik bagi industri, tetapi kini air juga menjadi bagian dari upaya menghasilkan aluminium dengan jejak karbon yang lebih rendah. Energi akhirnya bukan lagi hanya soal biaya, tetapi menjadi bagian dari nilai produk.

Green aluminium tidak hanya berbicara tentang aluminium. Ia berbicara tentang bagaimana aluminium itu dibuat, dari mana listriknya berasal, dan seberapa besar emisi yang menyertai setiap ton logam yang dihasilkan. Bagi Indonesia, pertanyaan tersebut akan semakin penting ketika produk aluminium mulai mengejar pasar global yang semakin ketat terhadap standar lingkungan.

Murah, Stabil, dan Bersih

Persoalannya, energi hijau tidak otomatis murah. Pembangunan pembangkit energi terbarukan membutuhkan investasi besar, sementara industri aluminium membutuhkan listrik dalam jumlah besar, stabil dan kompetitif. Di antara tuntutan lingkungan dan kebutuhan ekonomi tersebut, INALUM harus menemukan titik keseimbangan.

Togaf menyebut harga energi ideal bagi industri aluminium berada pada kisaran 4–5 sen dolar AS per kWh. “Dalam bisnis aluminium, harga energi idealnya harus berada di kisaran 4–5 sen dolar AS per kWh. Di atas itu, bisnis ini jadi tidak menarik lagi,” katanya. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa transisi menuju energi hijau juga harus memperhitungkan daya saing industri.

Di satu sisi, INALUM membutuhkan energi murah. Di sisi lain, pasar global semakin menuntut energi bersih, sehingga keduanya harus bertemu. Murah saja tidak cukup, hijau saja juga belum tentu cukup, karena energinya harus tersedia, stabil, kompetitif dan semakin rendah karbon.

Karena itu, INALUM mengkaji pengembangan kapasitas pembangkit tenaga air, termasuk opsi Asahan 1 dan Asahan 3. Perusahaan juga pernah mengkaji diversifikasi sumber energi, termasuk kemungkinan pemanfaatan gas dari kawasan Andaman di Aceh. Pilihan energi tersebut pada akhirnya akan menentukan seberapa jauh ambisi ekspansi aluminium dapat diwujudkan.

Warisan yang Belum Selesai

Di rumahnya, Pak Tejo mungkin tidak lagi memikirkan angka 900 ribu ton. Ia lebih sibuk dengan mesin cuci tetangga yang belum selesai dibongkar, sementara perkakas tua yang dibawanya dari masa kerja masih tersusun di atas meja. Bagi Reno, kebiasaan ayahnya masih saja terlihat aneh, karena pensiun seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat, bukan mencari-cari mesin rusak untuk diperbaiki.

Namun puluhan tahun bekerja telah membentuk cara Pak Tejo melihat sesuatu. Sesuatu yang rusak harus dicari penyebabnya, sesuatu yang tidak bekerja harus diperiksa, dan sesuatu yang ingin bertahan harus dirawat. Prinsip sederhana itu ternyata tidak jauh berbeda dengan persoalan yang kini dihadapi industri aluminium Indonesia.

INALUM ingin tumbuh, MIND ID ingin memperbesar kapasitas, dan Indonesia ingin mengurangi ketergantungan terhadap impor aluminium. Namun seluruh ambisi tersebut membutuhkan satu hal yang sama, yaitu sistem energi yang mampu menopangnya. Di sinilah perjalanan generasi Pak Tejo bertemu dengan generasi Reno.

Sang ayah ikut menjadi bagian dari masa ketika Indonesia membangun industri aluminium. Sang anak akan hidup pada masa ketika industri tersebut harus menjawab tantangan baru: menjadi lebih besar, lebih efisien, lebih kompetitif dan lebih hijau. Industri yang dibangun generasi sebelumnya akhirnya memiliki tanggung jawab kepada generasi berikutnya, bukan hanya menghasilkan logam, tetapi mewariskan industri yang mampu bertahan.

Bukan Sekadar 900 Ribu Ton

Pada 2025, INALUM mencatat produksi aluminium sekitar 280.082 ton, capaian produksi tertinggi dalam perjalanan perusahaan selama sekitar setengah abad. Kini targetnya jauh lebih besar, yakni 900 ribu ton per tahun pada 2029, dengan rantai pasok bauksit–alumina–aluminium yang terus diperkuat.

Mempawah menjadi salah satu pusat pengembangan tersebut. Namun target 900 ribu ton seharusnya tidak dibaca hanya sebagai angka, karena di baliknya terdapat pekerjaan yang jauh lebih besar: membangun rantai bahan baku, menyediakan energi, meningkatkan efisiensi, menjaga daya saing dan memastikan aluminium yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan industri masa depan.

Keberhasilan hilirisasi tidak semata-mata diukur dari berapa ton aluminium yang diproduksi. Ukuran lainnya adalah berapa besar nilai tambah yang tinggal di Indonesia, berapa banyak industri baru yang tumbuh, berapa banyak teknologi yang dikuasai dan berapa banyak tenaga kerja berkualitas yang tercipta.

Dan yang semakin penting, berapa rendah emisi yang dihasilkan untuk setiap ton aluminium. Sebab aluminium yang dibutuhkan dunia untuk menjalankan transisi energi tidak boleh menjadi sumber persoalan baru bagi lingkungan. Di titik inilah target produksi dan target keberlanjutan harus berjalan bersama.

Air yang Menempa Masa Depan

Sore kembali turun di rumah Pak Tejo. Perkakas tua masih tergeletak di atas meja makan, sementara baut-baut kecil menunggu dipasang kembali. Reno mungkin masih menganggap ayahnya aneh karena setelah pensiun tetap mencari sesuatu untuk dibongkar dan diperbaiki, tetapi mungkin ada satu hal yang perlahan ia pahami.

Selama puluhan tahun, ayahnya terbiasa memastikan sesuatu tetap bekerja. Kini, pekerjaan itu berpindah kepada generasi berikutnya, bukan lagi sekadar memperbaiki mesin cuci di rumah, melainkan memastikan industri yang diwariskan kepadanya tetap memiliki masa depan.

Di Sungai Asahan, air terus mengalir. Aliran yang sama telah menemani perjalanan panjang industri aluminium Indonesia, dari generasi Pak Tejo hingga generasi Reno. Dulu, air itu menjadi sumber energi untuk membangun industri nasional, tetapi kini air membawa pesan yang berbeda: masa depan hilirisasi tidak cukup hanya dengan memiliki mineral dan smelter.

Indonesia membutuhkan energi yang mampu menopang keduanya. Cukup, stabil, kompetitif dan bersih. Sebab ketika dunia memasuki era kendaraan listrik dan energi terbarukan, aluminium akan semakin dibutuhkan, tetapi dunia juga akan semakin bertanya: dengan energi apa aluminium itu dibuat?

Di situlah pertaruhan INALUM dan MIND ID sesungguhnya. Bukan hanya mengubah bauksit menjadi aluminium, tetapi mengubah kekayaan mineral menjadi industri masa depan. Sang ayah telah melihat babak pertama, sang anak akan melihat babak berikutnya, dan di antara keduanya Sungai Asahan terus mengalir.

Air menjadi listrik. Listrik menjadi aluminium. Aluminium menjadi kendaraan, panel surya, jaringan listrik dan industri. Sebuah rantai panjang yang akhirnya kembali kepada satu pertanyaan sederhana:

“Kita sudah siap ekspansi, tapi power-nya di mana?”

Pertanyaan itu kini bukan lagi hanya milik INALUM. Ia adalah pertanyaan bagi hilirisasi Indonesia. Sebab ketika negeri ini ingin menempa masa depan dari kekayaan mineralnya sendiri, energi harus ditempa bersamanya.

Dan aluminium Indonesia bukan sekadar ditempa oleh panas tungku. Ia ditempa oleh air, listrik, dan keberanian sebuah generasi untuk membangun masa depan yang lebih hijau.

 

Penulis: Riki Okta Putra
Editor: ROP
  • Bagikan
Exit mobile version