SUMSELDAILY.CO.ID, Ogan Komering Ilir – Deru mesin perahu dan riak Sungai Aur selama ini menjadi irama keseharian warga Desa Pedamaran IV, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Namun sejak awal 2026, ada irama baru yang mulai dibangun: bentangan tiang dan kabel listrik yang menjanjikan terang bagi sekitar 1.200 jiwa di desa tersebut.
PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (UID S2JB) menggenjot pembangunan jaringan listrik di desa yang berada di tepian Sungai Aur itu. Proyek ini menjadi bagian dari upaya pemerataan akses kelistrikan di wilayah Sumatera Selatan.
General Manager PLN UID S2JB, Adhi Herlambang, bersama Anggota DPR RI Komisi XII Dewi Yustisiana dan Wakil Bupati OKI Supriyanto, turun langsung meninjau progres pembangunan jaringan sepanjang 1,6 kilometer sirkuit pada Sabtu (28/2/2026). Peninjauan ini menjadi simbol kuat sinergi antara BUMN, legislatif, dan pemerintah daerah dalam membuka akses energi bagi wilayah yang selama ini belum teraliri listrik.
“Listrik ini sangat penting. Di masa modern ini, kehadiran listrik menjadi kebutuhan yang sangat vital. Kami terus mendorong percepatan pemerataan akses kelistrikan untuk seluruh masyarakat di Sumatera Selatan,” ujar Dewi di sela kunjungan.
Desa Pedamaran IV bukan sekadar titik di peta. Ia adalah ruang hidup bagi sekitar 400 kepala keluarga, sebagian besar nelayan sungai, petani, dan pengrajin anyaman purun—tanaman rawa yang menjadi identitas ekonomi lokal. Selama ini, aktivitas warga sangat bergantung pada cahaya matahari. Ketika malam turun, ruang gerak pun menyempit.
Pembangunan infrastruktur di desa ini mencakup jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 1,62 kms, jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 2,23 kms, serta satu gardu distribusi berkapasitas 50 kVA. Secara teknis, angka-angka ini mungkin terdengar biasa. Namun bagi warga, ini adalah tonggak sejarah.
Wakil Bupati OKI Supriyanto menyebut pembangunan tersebut sebagai momen yang telah lama dinanti masyarakat. “Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada PLN. Ini akan sangat membantu masyarakat yang belum mendapatkan listrik,” ujarnya.
Bagi PLN, proyek ini bukan tanpa tantangan. Sejumlah infrastruktur kelistrikan di wilayah lain kerap terkendala izin lintas kawasan hutan, akses jalan terbatas, hingga jalur perairan yang sulit dijangkau. Namun koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah terus dilakukan agar hambatan dapat diurai.
Adhi Herlambang menegaskan komitmen perseroan untuk menjalankan amanat Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong pemerataan infrastruktur hingga pelosok negeri.
“PLN hadir bukan sekadar menyalakan listrik, tetapi menyalakan kehidupan. Terima kasih kepada pemerintah daerah, pemerintah desa, serta seluruh masyarakat atas dukungan dan kerja sama yang telah terjalin,” kata Adhi.
Lebih dari sekadar penerangan, listrik diyakini akan membuka peluang baru. Anak-anak bisa belajar lebih nyaman di malam hari, pelaku usaha kecil dapat memperluas produksi, dan aktivitas ekonomi desa bergerak lebih dinamis. Anyaman purun yang selama ini dikerjakan dengan keterbatasan penerangan berpotensi diproduksi lebih efisien. Nelayan pun dapat memanfaatkan teknologi pendingin untuk menjaga kualitas hasil tangkapan.
Di tepian Sungai Aur, kabel-kabel yang kini terbentang bukan hanya jaringan listrik. Ia adalah simbol konektivitas—antara desa dan kota, antara keterbatasan dan kesempatan. Ketika sakelar pertama nanti ditekan dan lampu-lampu menyala, yang terang bukan hanya rumah-rumah warga, tetapi juga harapan tentang masa depan yang lebih setara.
