SUMSELDAILY.CO.ID, LANGKAT – Bangunan bersejarah peninggalan Kerajaan Sultan Langkat di Tanjung Pura yang kini difungsikan sebagai Museum Daerah Kabupaten Langkat kian terabaikan. Padahal, gedung yang berdiri sejak 1905 ini menyimpan jejak sejarah penting dan koleksi budaya dari etnis Karo, Melayu, hingga Jawa.
Arsitektur Neo Klasik rancangan Herman Thomas Karsten, material unik berbahan semen merah dan sari tetes tebu, serta kisah kelam saat terbakar pada pendudukan Jepang tahun 1943 menjadikan museum ini memiliki nilai sejarah tinggi. Namun sayangnya, kondisi saat ini jauh dari layak.
Bangunan belakang museum tampak tak terawat, rumput dibiarkan tinggi, sementara pedagang kaki lima menguasai area sekitar. Hal ini membuat museum sulit menarik minat wisatawan.
“Saya berharap Pemkab Langkat menertibkan pedagang kaki lima dan merawat kawasan museum agar lebih menarik dikunjungi,” ujar Indira Krista Ryanka Br Sembiring, salah seorang pengunjung, Rabu (1/10/2025).
Tiket masuk museum hanya Rp5.000, sangat murah, tetapi pengunjung masih sepi. Minimnya promosi dan pengelolaan membuat warisan sejarah ini seolah dilupakan.
Jika dikelola dengan serius, Museum Daerah Langkat bisa menjadi ikon wisata budaya unggulan yang bukan hanya melestarikan sejarah, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
