Dari Sebatang Jahe, Perempuan Desa Itu Menyalakan Harapan

  • Bagikan

Efek Berganda Hulu Migas yang Tumbuh di Desa Gajah Mati

SUMSELDAILY.CO.ID, MUSI BANYUASIN — Aroma temulawak dan jahe merah menyeruak dari halaman rumah Yeni Lusmita di Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin.

Di sudut pekarangan, rumpun jahe merah tumbuh rapat berdampingan dengan kunyit putih, lengkuas merah, dan daun kelor. Sebagian tanaman ditanam di tanah, sebagian lagi dalam polybag yang tersusun rapi di samping rumah sederhana miliknya. Sulit membayangkan bahwa dari kebun kecil itulah lahir perubahan yang mengubah kehidupan banyak orang.

Empat belas tahun lalu, Yeni hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa dengan penghasilan keluarga yang pas-pasan. Kebutuhan rumah tangga terus berjalan, sementara peluang menambah pendapatan di desa tidak banyak tersedia.

Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa tanaman obat yang tumbuh di sekitar rumah suatu hari akan membantu mengurangi biaya kesehatan keluarga, menambah penghasilan, membuka peluang usaha bagi perempuan desa, bahkan menjadi sumber harapan bagi masyarakat di sekitarnya.

“Kalau dulu perekonomian keluarga sangat minim. Alhamdulillah sekarang sangat terbantu,” ujar perempuan kelahiran Palembang, 6 Juni 1969, yang telah dikaruniai empat orang anak tersebut saat diwawancarai melalui sambungan WhatsApp, Selasa (2/6/2026).

Perubahan itu bermula pada 2012 ketika Program Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang dijalankan PT Medco E&P Indonesia bersama SKK Migas hadir di desanya. Saat itu Yeni tidak pernah menyangka bahwa pelatihan sederhana tentang tanaman herbal akan menjadi awal dari sebuah efek berganda yang terus tumbuh hingga hari ini.

Awalnya, Yeni mengikuti program tersebut karena tanaman obat sebenarnya sudah dikenal masyarakat desa sejak lama.

Namun pelatihan demi pelatihan yang diberikan membuka cara pandang baru.

Ia belajar mengenali manfaat tanaman, membuat pupuk organik, mengolah hasil panen, hingga memasarkan produk.

“Sebenarnya sebagian nama tanaman dan khasiatnya sudah tahu. Dengan adanya program ini kami jadi lebih memahami jenis tanaman serta manfaat kandungan yang ada di dalam tanaman itu sendiri,” katanya.

Pengetahuan itu perlahan mengubah sesuatu yang selama ini dianggap biasa.

Pekarangan rumah yang sebelumnya hanya menjadi ruang kosong mulai dipenuhi tanaman herbal yang memiliki manfaat kesehatan sekaligus nilai ekonomi.

Saat ini, tanaman yang dibudidayakan Yeni antara lain jahe merah, lengkuas merah, temulawak, kunir putih, kunyit putih, dan daun kelor.

Tidak hanya digunakan untuk kebutuhan keluarga, hasil panen tersebut juga diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah.

Perubahan pertama yang dirasakan Yeni adalah berkurangnya pengeluaran keluarga untuk kebutuhan kesehatan.

Tanaman herbal yang dibudidayakan sendiri membantu keluarga memperoleh alternatif pengobatan yang lebih mudah dijangkau.

“Setelah memakai obat herbal itu lebih baik dan lebih hemat,” tuturnya.

Namun manfaat terbesar ternyata bukan pada penghematan tersebut.

Melainkan pada peluang yang lahir setelahnya.

Pengetahuan tentang tanaman obat berkembang menjadi keterampilan mengolah produk.

Keterampilan berkembang menjadi usaha.

Usaha berkembang menjadi sumber penghasilan.

Jika sebelumnya pendapatan keluarga berkisar Rp1,5 juta per bulan, kini menurut Yeni dapat mencapai sekitar Rp4 juta per bulan melalui berbagai usaha yang tumbuh dari aktivitas kelompok.

Di bawah naungan kelompok yang dibangunnya, berbagai produk mulai dipasarkan.

Tidak hanya produk herbal.

Kelompok tersebut kini juga mengelola kedai yang menjual aneka keripik, olahan kue, buket, dan berbagai kerajinan tangan.

“Kalau untuk tambahan pendapatan sekarang kami mendirikan kedai yang digunakan untuk menjual aneka keripik, aneka olahan kue, membuat buket serta kerajinan,” ujarnya.

Yang berubah bukan hanya kondisi ekonomi keluarga Yeni.

Yang berubah adalah cara pandang.

Perempuan yang sebelumnya melihat pekarangan sebagai ruang kosong mulai melihatnya sebagai sumber peluang.

Tanaman yang sebelumnya dianggap pelengkap halaman berubah menjadi sumber kesehatan, sumber keterampilan, sekaligus sumber penghasilan.

Perubahan cara pandang inilah yang kemudian menyebar kepada perempuan-perempuan lain di Desa Gajah Mati.

Kepercayaan pasar terhadap produk kelompok Yeni menjadi penanda bahwa usaha yang mereka bangun telah berkembang melampaui kebutuhan internal kelompok.

Ridwan (43), seorang guru yang menjadi pelanggan tetap, mengaku rutin membeli produk temulawak hasil olahan kelompok tersebut.

“Saya memang suka produk herbal. Temulawak buatan kelompok ini rasanya mantap,” katanya.

Bagi Ridwan, kualitas produk menjadi alasan utama untuk kembali membeli. Namun di balik itu, ia juga melihat nilai lain yang tidak kalah penting, yakni hadirnya usaha produktif yang membantu perempuan desa meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Kehadiran pelanggan seperti Ridwan menjadi bukti bahwa usaha yang tumbuh dari Program TOGA mampu diterima pasar dan menghasilkan perputaran ekonomi yang berkelanjutan.

Setiap produk yang terjual bukan hanya menghasilkan pendapatan.

Di baliknya terdapat kerja keras para ibu rumah tangga yang menanam, mengolah, mengemas, dan memasarkan hasil usaha mereka.

Banyak program pemberdayaan berakhir pada penerima manfaat.

Namun yang terjadi di Desa Gajah Mati berbeda.

Pengetahuan yang diperoleh Yeni tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Ia membagikannya kepada perempuan-perempuan lain di desa.

Mereka belajar bersama.

Menanam bersama.

Memproduksi bersama.

Dan tumbuh bersama.

Saat ini sedikitnya 18 ibu rumah tangga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan produktif yang lahir dari kelompok tersebut.

Sebagian mengelola tanaman herbal.

Sebagian memproduksi olahan makanan.

Sebagian terlibat dalam pemasaran dan pengembangan usaha.

“Perubahannya bisa terbantu untuk pengeluaran biaya dan penambahan pendapatan dalam keluarga serta bisa menjadi lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu rumahan,” kata Yeni.

Di titik inilah efek berganda itu terlihat nyata.

Satu pelatihan melahirkan pengetahuan.

Pengetahuan melahirkan keterampilan.

Keterampilan melahirkan usaha.

Usaha melahirkan lapangan kerja.

Dan lapangan kerja melahirkan kesejahteraan.

Bagi sebagian orang, industri hulu migas identik dengan sumur minyak, rig pengeboran, pipa gas, dan angka produksi.

Namun di Desa Gajah Mati, dampaknya memiliki wajah yang berbeda.

Wajah seorang ibu rumah tangga yang menemukan jalan menuju kemandirian.

Wajah perempuan-perempuan desa yang memperoleh kesempatan untuk berkembang.

Wajah masyarakat yang merasakan manfaat langsung dari program pemberdayaan.

Program TOGA yang dijalankan PT Medco E&P Indonesia di bawah koordinasi SKK Migas kini telah diimplementasikan di lima kabupaten di Sumatera Selatan, yakni Musi Banyuasin, Banyuasin, Muara Enim, Lahat, dan Musi Rawas.

Secara keseluruhan program tersebut telah menjangkau 893 penerima manfaat, terdiri dari 306 peserta di Musi Banyuasin, 277 peserta di Banyuasin, 77 peserta di Muara Enim, 91 peserta di Lahat, dan 142 peserta di Musi Rawas.

“Program TOGA ini memang kami desain untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat, terutama perempuan. Dari hal kecil seperti menanam TOGA, lahir perubahan besar yang memberi nilai ekonomi dan kesehatan,” ujar Novita Ambarsari, Officer Relcom & Enhancement Area 2 PT Medco E&P Indonesia.

Keberhasilan program tersebut turut menjadi salah satu faktor yang mengantarkan Medco E&P Indonesia meraih penghargaan PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Namun bagi Yeni, ukuran keberhasilan sesungguhnya bukanlah penghargaan.

Melainkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.

Menjelang senja, Yeni kembali menatap tanaman herbal yang tumbuh di halaman rumahnya.

Rumpun jahe merah, temulawak, kunyit putih, dan daun kelor berdiri tenang diterpa angin sore.

Tak ada yang tampak istimewa.

Namun dari tanaman-tanaman sederhana itulah lahir perubahan yang tidak sederhana.

Dari sana lahir pengetahuan.

Dari pengetahuan lahir keterampilan.

Dari keterampilan lahir usaha.

Dari usaha lahir pendapatan.

Dari pendapatan lahir kesempatan.

Dan dari kesempatan lahir harapan bagi banyak keluarga.

Kisah Yeni Lusmita menunjukkan bahwa efek berganda hulu migas tidak selalu hadir dalam bentuk angka produksi atau statistik investasi.

Ia dapat tumbuh dari halaman rumah seorang ibu.

Menjalar dari satu keluarga ke keluarga lain.

Menguatkan perempuan desa.

Menggerakkan ekonomi masyarakat.

Dan pada akhirnya, menghadirkan energi yang paling bermakna: energi yang mengubah kehidupan.

 

  • Bagikan
Exit mobile version