Delapan Tahun Riset, Batubara Kalori Rendah PTBA Menjelma Pembenah Tanah

  • Bagikan

SUMSELDAILY.CO.ID, MUARA ENIM – Sebanyak 3,5 ton padi pernah dipanen dari lahan 0,8 hektare di Desa Tanjung Karangan, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim. Kini, setelah lahan itu mendapat perlakuan kalium humat hasil hilirisasi batubara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memperkirakan produksinya dapat bertambah sekitar 1 ton.

Angka itu bukan sekadar catatan panen. Ia menjadi salah satu pembuktian lapangan dari perjalanan panjang riset yang mengubah batubara berkalori rendah menjadi produk untuk tanah pertanian.

Panen tersebut berlangsung pada 9 Maret 2026 sebagai bagian dari implementasi kalium humat pada lahan pertanian binaan PTBA seluas 3,5 hektare di Tanjung Karangan. Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan peningkatan produksi tersebut diharapkan berujung pada kenaikan pendapatan petani.

“Setelah penggunaan kalium humat perkiraan hasil panen dapat bertambah mencapai 1 ton,” kata Arsal.

Bagi PTBA, Tanjung Karangan menjadi titik penting karena produk yang diuji bukan pupuk konvensional. Kalium humat merupakan hasil pengembangan hilirisasi batubara berkalori rendah yang dikerjakan bersama Universitas Gadjah Mada (UGM).

Perjalanan inovasi tersebut bahkan telah dimulai sejak 2018. Prof. Ferian Anggara dari Departemen Teknik Geologi UGM bersama timnya mengembangkan pemanfaatan batubara kalori rendah menjadi senyawa humat yang dapat digunakan sebagai pembenah tanah. PTBA kemudian menjadi mitra utama penelitian tersebut dan memberikan dukungan pendanaan secara berkelanjutan.

“Sejak tahun 2018, PT Bukit Asam menjadi mitra utama riset kami,” kata Ferian.

Riset itu berangkat dari persoalan sederhana tetapi strategis: bagaimana meningkatkan nilai guna batubara berkalori rendah yang tidak optimal digunakan sebagai bahan bakar, sekaligus menciptakan produk yang dibutuhkan sektor lain.

UGM mengekstraksi kandungan senyawa humat dari batubara tersebut. Senyawa humat terdiri atas asam humat dan asam fulvat yang kemudian dimanfaatkan sebagai pembenah tanah dan pendamping pupuk. Dalam pengujian di persawahan Bimomartani, UGM melaporkan penggunaan 15 persen GamaHumat memiliki kontribusi sekitar 80 persen terhadap hasil perlakuan penuh NPK dan urea, sehingga dosis pupuk dapat ditekan menjadi sekitar 15–20 persen dari takaran normal pada skenario pengujian tersebut.

“Hasil panen dapat mendekati layaknya produktivitas padi yang sepenuhnya menggunakan NPK dan urea,” ujar Ferian saat menjelaskan hasil pengujian tersebut.

Baca Juga :   Harum Harapan dari Bau Sampah: Jejak Hijau INALUM dan Warga Pintu Pohan

Dari laboratorium, inovasi itu kemudian bergerak menuju teknologi produksi. Pada 2023, PTBA memberikan dana padanan melalui skema matching fund Kedaireka untuk membantu analisis laboratorium dan mencari proses ekstraksi paling optimal. Prototipe yang dikembangkan kemudian mampu menghasilkan sekitar 20 liter senyawa humat basah per hari dari 5 kilogram batubara umpan.

Tahap berikutnya adalah mengubah hasil riset menjadi produk yang dapat diproduksi dan digunakan lebih luas.

Produk riset UGM diberi nama GamaHumat. PTBA kemudian mengembangkannya menuju tahap industri dengan merek BA Grow. UGM menyebut proses produksi K-Humat tersebut telah dipatenkan, sedangkan GamaHumat memiliki kadar asam humat dan kelarutan yang memenuhi spesifikasi Grade A Kementerian Pertanian. Teknologi dan sumber bahan bakunya juga disebut berasal dari Indonesia.

Pada Agustus 2025, PTBA, UGM dan MIND ID meluncurkan pilot project alat produksi kalium humat di Fakultas Teknik UGM. Prosesnya dimulai dengan oksidasi batubara kalori rendah untuk melepaskan senyawa humat. Hasil oksidasi kemudian dipisahkan dan diekstraksi, sebelum diperkaya dengan kalium hingga menghasilkan kalium humat padat. UGM menyebut senyawa tersebut dapat membantu memperbaiki struktur tanah, merangsang pertumbuhan akar, serta meningkatkan penyerapan air dan nutrisi.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto melihat produk tersebut sebagai bentuk perluasan manfaat batubara.

“Inovasi ini menjadi bukti bahwa batu bara tidak selalu identik dengan energi fosil yang hitam,” kata Turino.

Pada Oktober 2025, PTBA menyatakan pilot project tersebut telah mencapai kemampuan produksi 150 ton kalium humat per tahun. Perusahaan juga membuka peluang kerja sama dengan penyedia teknologi maupun investor untuk mengembangkan produk tersebut.

Angka kapasitas itu memperlihatkan bahwa inovasi sudah bergerak melewati tahap laboratorium. Namun tantangan berikutnya justru lebih besar: bagaimana membuat produksi stabil, biaya efisien, distribusi terbentuk, dan produk dapat diterima pasar.

Pusat Kajian LKFT UGM menyebut 2026 diarahkan untuk optimalisasi skala pilot project, stabilisasi produksi, efisiensi biaya dan pembangunan distribusi. Tahap komersialisasi penuh ditargetkan pada 2027 melalui dukungan anak perusahaan PTBA.

Dengan demikian, Tanjung Karangan menjadi semacam laboratorium terbuka bagi tahap berikutnya. Di sana, produk hasil riset tidak lagi hanya diuji dalam skala penelitian, tetapi bersentuhan langsung dengan tanah, air, tanaman dan petani.

Baca Juga :   Eksepsi AKBP Dalizon Ditolak Majelis Hakim

Bahkan ekosistem pertanian yang dibangun PTBA tidak hanya mengandalkan kalium humat. Lahan tersebut juga mendapat dukungan PLTS Irigasi. Saat uji coba pada November 2025, Sustainable Economic, Social & Environment Dept. Head PTBA Mustafa Kamal menyebut ketersediaan air dan perbaikan kesehatan tanah sebagai dua fondasi penting.

“Ketersediaan air dari PLTS Irigasi PTBA dan upaya perbaikan kesehatan tanah melalui penggunaan kalium humat menjadi fondasi penting,” ujarnya.

Artinya, ada dua hasil hilirisasi dan inovasi yang bertemu di satu lahan. Energi matahari digunakan untuk mendukung pengairan, sementara batubara berkalori rendah diberi nilai tambah menjadi bahan yang digunakan untuk membantu memperbaiki tanah.

Di atas keduanya, petani menanam padi.

Di sinilah cerita hilirisasi PTBA menjadi berbeda. Nilai tambah batubara tidak berhenti ketika produk keluar dari fasilitas pengolahan. Nilai tersebut diuji apakah dapat bergerak ke sektor pertanian dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Direktur Pupuk dan Pestisida Kementerian Pertanian Jekvy Hendra bahkan menyebut asam humat dan turunannya memiliki posisi strategis dalam menjawab kebutuhan pupuk nasional.

“Asam humat adalah terobosan yang kami tunggu,” kata Jekvy.

Pernyataan tersebut memberikan konteks lebih luas terhadap inovasi yang dikembangkan PTBA dan UGM. Indonesia bukan hanya membutuhkan peningkatan produksi pangan, tetapi juga efisiensi penggunaan input pertanian.

Namun, angka peningkatan produksi di Tanjung Karangan perlu dibaca secara hati-hati. PTBA menyebut lahan 0,8 hektare yang sebelumnya menghasilkan sekitar 3,5 ton diperkirakan memperoleh tambahan sekitar 1 ton setelah penggunaan kalium humat. Sementara Departemen Teknik Geologi UGM menyebut Direktur PTBA mengklaim penggunaan BA Grow meningkatkan hasil panen hingga 30–50 persen.

Kedua angka tersebut menunjukkan sinyal positif, tetapi belum seharusnya diperlakukan sebagai hasil yang otomatis berlaku untuk semua lahan. Efektivitas pembenah tanah sangat bergantung pada kondisi tanah, jenis tanaman, dosis, pola pemupukan dan lingkungan. Karena itu, pembuktian dalam skala yang lebih luas menjadi tahap penting sebelum produk benar-benar memasuki pasar secara penuh.

Baca Juga :   Lembaga PST Desak Kejati Sumsel Usut 15 Proyek Gapura di Muara Enim

Justru di situlah letak nilai sebuah proses hilirisasi.

Riset tidak berhenti ketika menghasilkan formula. Produk tidak dianggap selesai ketika berhasil dibuat. Hilirisasi baru benar-benar mempunyai makna ketika teknologi dapat diproduksi, memiliki pasar, digunakan masyarakat, menghasilkan manfaat dan pada akhirnya mampu menciptakan nilai ekonomi.

PTBA dan UGM kini berada pada tahapan tersebut.

GamaHumat menjadi bukti kemampuan riset menghasilkan inovasi. BA Grow menjadi upaya membawa inovasi itu ke dunia industri. Tanjung Karangan menjadi ruang pembuktian di lahan pertanian. Sedangkan target komersialisasi 2027 menjadi ujian berikutnya: apakah inovasi tersebut dapat berdiri sebagai produk bisnis yang berkelanjutan.

Bagi Ferian, keberhasilan penelitian tidak seharusnya berhenti pada publikasi ilmiah.

“Pengembangan hasil penelitian sampai menjadi produk yang siap dikomersialisasikan juga merupakan capaian,” ujarnya.

Kalimat tersebut merangkum perjalanan inovasi ini.

Delapan tahun lalu, PTBA dan UGM memulai kolaborasi penelitian. Dari batubara berkalori rendah, peneliti mengekstraksi senyawa humat. Dari laboratorium lahir GamaHumat. Teknologi kemudian dikembangkan menuju pilot project. PTBA membawa hasil riset tersebut ke tahap industri dengan merek BA Grow. Produk itu selanjutnya diuji pada lahan pertanian di Muara Enim.

Dan pada Maret 2026, hasilnya mulai terlihat dalam bentuk yang paling mudah dipahami petani: panen.

Dari 3,5 ton padi sebelumnya pada lahan 0,8 hektare, ada perkiraan tambahan sekitar 1 ton setelah penggunaan kalium humat.

Angka itu belum menjadi garis akhir. Justru ia menjadi awal dari pertanyaan yang lebih besar: seberapa jauh sebuah sumber daya tambang dapat diperpanjang nilai manfaatnya ketika ilmu pengetahuan mengambil alih prosesnya?

Di Tanjung Karangan, jawabannya sedang ditanam.

Batubara yang semula berada di perut bumi diolah menjadi kalium humat. Kalium humat masuk ke tanah. Tanah menghasilkan padi. Dan padi diharapkan kembali menjadi pendapatan bagi petani.

Jika komersialisasi berhasil, rantai nilai tersebut tidak lagi berhenti di tambang.

Ia bergerak dari perut bumi, melewati laboratorium dan industri, kemudian berakhir di sawah—dan mungkin, pada tahap paling akhirnya, di meja makan masyarakat Indonesia.

 

Penulis: Riki Okta Putra
Editor: ROP
  • Bagikan