“AI Tak Bisa Gantikan Empati Guru”, Wagub Sumsel Cik Ujang Soroti Pentingnya Perlindungan dan Kesejahteraan Pendidik

  • Bagikan

SUMSELDAILY.CO.ID, PALEMBANG – Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Cik Ujang, menegaskan bahwa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak akan pernah mampu menggantikan peran utama seorang guru dalam dunia pendidikan.

Penegasan itu disampaikan Cik Ujang saat menghadiri Seminar Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 bertema “Apa Kabar Guru? Sejahtera, Perlindungan Nyata dan Pendidikan Berkualitas” yang digelar Sumatera Ekspres di Auditorium Graha Bina Praja Pemprov Sumsel, Rabu (20/5/2026).

Menurut Cik Ujang, perkembangan teknologi memang membawa perubahan besar dalam sistem pembelajaran. Namun, kata dia, sentuhan kemanusiaan yang dimiliki guru tidak dapat digantikan mesin.

“Teknologi dapat membantu proses pembelajaran, tetapi keteladanan guru tidak dapat digantikan oleh mesin,” ujar Cik Ujang.

Ia menambahkan, AI mungkin mampu menjawab berbagai pertanyaan secara cepat, tetapi tidak memiliki empati dan nilai kemanusiaan seperti yang dimiliki seorang pendidik.

“Kecerdasan Buatan dapat menjawab pertanyaan, tetapi tidak dapat menggantikan empati, ketulusan, dan sentuhan kemanusiaan seorang guru,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Cik Ujang juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, mulai dari transformasi digital, pemerataan kualitas pendidikan, hingga tekanan administratif yang masih dialami para guru.

“Masih banyak guru yang menghadapi tekanan administratif, keterbatasan sarana, bahkan persoalan hukum dan sosial di lapangan,” katanya.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Sumsel, lanjut dia, terus berupaya menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada tenaga pendidik dan kependidikan.

“Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus berupaya menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada pendidik dan tenaga kependidikan,” ungkapnya.

Menurut Cik Ujang, pembangunan pendidikan tidak akan berhasil tanpa keberpihakan nyata terhadap guru.

“Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan meyakini bahwa pembangunan pendidikan tidak akan pernah berhasil tanpa keberpihakan nyata kepada guru,” ujarnya.

Baca Juga :   Kumpulkan Ide dan Gagasan Terhadap Indonesia dan Dunia 2050, IHI Gelar Diskusi Publik

Ia menyebut guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, melainkan sosok penting yang membentuk masa depan bangsa.

“Dari tangan seorang guru lahir pemimpin, ilmuwan, birokrat, pengusaha, tokoh agama, hingga generasi penerus bangsa,” katanya lagi.

Cik Ujang juga menegaskan pentingnya kesejahteraan dan perlindungan profesi guru agar mereka dapat menjalankan tugas secara maksimal.

“Guru yang sejahtera akan mengajar dengan tenang. Guru yang terlindungi akan bekerja dengan bermartabat. Dan guru yang kuat akan melahirkan pendidikan yang berkualitas,” tegasnya.

Ia memastikan Pemprov Sumsel terus mendorong peningkatan kompetensi guru melalui penguatan komunitas belajar, transformasi pembelajaran berbasis teknologi, hingga penguatan pendidikan karakter.

Selain itu, Pemprov Sumsel juga memperkuat perlindungan profesi guru melalui koordinasi lintas sektor dan penguatan regulasi pendidikan.

“Kami ingin membangun ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, manusiawi, dan berpihak kepada guru,” kata Cik Ujang.

Di akhir sambutannya, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Sumsel untuk bersama-sama membangun pendidikan yang maju tanpa meninggalkan nilai budaya dan kemanusiaan.

“Mari kita bangun pendidikan yang maju, adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap berakar pada nilai kemanusiaan dan budaya bangsa,” ajaknya.

Sementara itu, General Manager Sumatera Ekspres, Iwan Irawan, mengatakan seminar tersebut digelar sebagai ruang dialog untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi guru.

“Guru merupakan tulang punggung pendidikan, tetapi dalam praktiknya masih sering menghadapi persoalan hukum dan kerap disalahkan,” ujarnya.

Menurut Iwan, tantangan guru saat ini semakin berat seiring perubahan pola generasi dan sistem pendidikan.

“Padahal menjadi guru sangat sulit dengan pola generasi dan pola pendidikan yang terus berubah,” katanya.

Ia berharap seminar tersebut mampu melahirkan solusi dan pemahaman baru terkait perlindungan profesi guru.

Baca Juga :   Tumpah Ruah Pegawai Pemkot Berbaur dengan Masyarakat Prabumulih di Bukber Cak Arlan dan Bang Franky

“Kami berharap peserta dapat berdialog dan menemukan solusi, termasuk memahami batasan-batasan yang harus diketahui guru agar tidak berdampak pada persoalan hukum,” tandasnya.

  • Bagikan