SUMSELDAILY.CO.ID, LAHAT – Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika Amat Surman berjalan menuju kandang sederhana di samping rumahnya di Desa Sirah Pulau, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat.
Di dalam kandang, 12 ekor ayam petelur bergerak berebut pakan. Amat memeriksa tempat makan dan minum, memastikan ternaknya dalam kondisi baik.
Bagi orang lain, 12 ekor ayam mungkin bukan sesuatu yang besar. Namun bagi lelaki berusia 72 tahun itu, jumlah tersebut menjadi awal dari sesuatu yang sudah lama sulit ia miliki: kesempatan untuk kembali menghasilkan pendapatan dari tangannya sendiri.
Sebelum menerima ayam petelur itu, Amat tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia masih banyak bergantung kepada anak-anaknya.
Beternak sebenarnya bukan hal baru bagi Amat. Sejak sekolah dasar, ia sudah terbiasa memelihara ayam, bebek hingga kambing.
Karena itu, ketika mendapat kesempatan memelihara ayam petelur, Amat tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi.
Ayam-ayam tersebut merupakan bagian dari program Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Setiap penerima mendapatkan 12 ekor ayam siap bertelur, satu karung pakan dan kandang baru.
Amat bahkan mendapat hasil lebih cepat dari perkiraan. Jika ayam diperkirakan mulai bertelur sekitar hari ke-24, ayam miliknya sudah menghasilkan telur sekitar hari ke-16 setelah dibagikan.
Pada akhir Agustus 2026, ketika pemeliharaan memasuki hari ke-23, ayam-ayam tersebut mulai beradaptasi dengan lingkungan kandang dan menghasilkan telur.
Telur itu kemudian menjadi barang dagangan pertama Amat.
Pembelinya tidak perlu dicari jauh. Warga sekitar datang langsung ke rumah, sementara sebagian telur dititipkan di warung kelontong. Karena produksinya masih terbatas, Amat belum membutuhkan pengepul.
Pasar pertamanya justru berada di sekitar rumah.
“Sejak ada program ini, kami nggak perlu bingung lagi cari telur segar buat anak-anak. Harganya murah, langsung ambil dari Pak Amat, dan hasilnya benar-benar bantu dapur tetap ngebul,” kata Siti (38), warga Desa Sirah Pulau.
Dari kandang kecil itu, mulai terlihat nilai ekonomi yang sederhana tetapi nyata.
Dengan asumsi tingkat produksi sekitar 85 persen, 12 ekor ayam berpotensi menghasilkan sekitar 10 butir telur per hari. Jika harga telur Rp2.000 per butir, potensi penerimaan kotor mencapai sekitar Rp20.000 per hari atau Rp600.000 per bulan.
Kebutuhan pakan 12 ekor ayam diperkirakan sekitar 36 kilogram per bulan. Dengan asumsi harga pakan Rp5.000 per kilogram, biaya pakan sekitar Rp180.000 per bulan.
Artinya, terdapat potensi sisa sekitar Rp420.000 setelah estimasi biaya pakan, sebelum memperhitungkan biaya operasional lainnya.
Angka itu mungkin belum besar. Namun bagi Amat, perubahan terpenting bukan semata-mata jumlah uang yang terkumpul setiap bulan.
Kini ada pekerjaan yang menunggunya setiap pagi. Ada telur yang bisa dijual. Dan ada pasar yang berada di sekitar rumahnya sendiri.
Apa yang terjadi pada Amat merupakan bagian dari skema yang lebih besar.
Program tersebut menyasar 100 Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). Dengan masing-masing rumah tangga memperoleh 12 ekor ayam, populasi awal yang disiapkan mencapai 1.200 ayam petelur.
Skala itu membuat program tidak berhenti pada pembagian ternak kepada masing-masing keluarga.
Para penerima dihimpun dalam KUB Sirah Mandiri yang dikelola bersama BUMDes. Di sinilah 12 ekor ayam milik Amat mulai terhubung dengan persoalan yang lebih besar: bagaimana menjaga pakan, produksi, pemasaran dan keberlanjutan usaha.
Ketua KUB Sirah Mandiri, Rahmat (45), mengatakan keberlanjutan pasokan pakan dan penyerapan produksi menjadi perhatian utama kelompok.
“Fokus KUB dan BUMDes saat ini adalah menjaga kestabilan pasokan pakan dan menampung hasil produksi warga jika ada kelebihan produksi. Target kami, Sirah Pulau bisa mandiri telur tanpa perlu pasokan dari luar daerah,” ujar Rahmat.
Jika populasi 1.200 ayam tersebut mampu menghasilkan sekitar 1.000 butir telur per hari, maka secara teoritis terdapat potensi perputaran ekonomi sekitar Rp60 juta per bulan dengan asumsi harga telur Rp2.000 per butir.
Angka tersebut masih berupa proyeksi. Namun hitungan itu menunjukkan kemungkinan perubahan skala: dari usaha rumah tangga menjadi aktivitas ekonomi yang berputar di tingkat desa.
Di titik ini, 12 ayam Amat tidak lagi berdiri sendiri. Ada 100 rumah tangga yang memulai usaha serupa. Ada KUB yang menghubungkan para penerima. Ada BUMDes yang menjadi bagian dari kelembagaan ekonomi desa. Dan ada pasar lokal yang dapat menyerap hasil produksi.
PTBA menempatkan program tersebut sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat agar bantuan tidak berhenti pada pemberian aset, tetapi diikuti pendampingan dan pengembangan kemampuan usaha.
Rencana pengembangan bahkan diarahkan ke sisi hulu. Survei dan rencana penanaman jagung mulai disiapkan untuk mendukung kebutuhan bahan baku pakan. Gagasan unit produksi pakan juga muncul untuk memperkuat pasokan bagi peternak di sekitar wilayah tersebut.
Jika berjalan, rantai ekonominya dapat menjadi lebih panjang.
Warga tidak hanya memelihara ayam dan menjual telur. Ada peluang produksi jagung, penyediaan pakan, pengelolaan kelompok, distribusi hingga pasar telur di desa.
Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya dapat dilihat dari berapa banyak ayam yang dibagikan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah aset awal tersebut mampu berubah menjadi kegiatan ekonomi yang terus berjalan setelah bantuan diberikan.
Bagi Amat, jawabannya masih sedang dimulai. Ia belum memiliki ratusan ayam. Belum memiliki usaha besar. Belum pula menghasilkan puluhan juta rupiah setiap bulan. Yang ia miliki baru 12 ekor ayam, sebuah kandang sederhana dan rutinitas baru setiap pagi. Tetapi perubahan memang tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Dulu, Amat lebih banyak bergantung kepada anak-anaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kini ia memiliki ternak yang harus dirawat dan telur yang bisa dijual.
Hari ini, jumlah ayam Amat masih 12 ekor. Bagi orang lain, angka itu mungkin terlihat kecil.
Namun 12 ekor tersebut adalah satu bagian dari 1.200 ayam yang sedang diarahkan menjadi penggerak ekonomi rumah tangga dan desa.
Dari kandang sederhana di samping rumah Amat, sebuah gagasan yang lebih besar sedang diuji: apakah pemberdayaan dapat tumbuh menjadi kemandirian ketika masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memiliki produksi, pasar dan kelembagaan untuk menjaganya tetap hidup.
Di Sirah Pulau, jawabannya belum selesai. Tetapi ia sudah dimulai. Berawal dari 12 ekor ayam.














