Ketika Hujan Menguji Terang: Menjaga Keselamatan dan Keandalan Listrik

  • Bagikan
AIILUSTRASI/ROP

SUMSELDAILY.CO.ID, PALEMBANG – Sebelum hujan kembali membasahi Palembang, warga lebih dahulu menghadapi panas, kekeringan, dan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti kota selama berbulan-bulan.

Pada Oktober 2026, dampak musim kering masih terasa. Sejumlah wilayah di Sumatera Selatan mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari. Asap karhutla bahkan sempat membuat jarak pandang di beberapa titik Palembang turun hingga kurang dari 10 meter. Di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, jarak pandang dilaporkan hanya sekitar 50 meter.

Kebakaran lahan juga terjadi di sejumlah kawasan, termasuk Sako dan Sematang Borang. Kondisi lahan yang kering serta keterbatasan sumber air membuat upaya pemadaman tidak mudah dilakukan.

Hujan lebat akhirnya mengguyur sejumlah kawasan Palembang pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026, sekitar pukul 15.30 WIB. Kedatangannya disambut lega setelah warga melewati periode panjang tanpa hujan dan paparan asap.

Namun, perubahan cuaca juga membawa risiko yang berbeda. Setelah menghadapi kekeringan dan karhutla, masyarakat kini harus lebih waspada terhadap hujan deras, angin kencang, petir, pohon tumbang, serta potensi gangguan jaringan listrik.

Bagi Amir (48), warga Seberang Ulu, perubahan musim bukan sekadar pergantian suasana. Pengalaman menghadapi angin kencang pada tahun sebelumnya membuatnya lebih memperhatikan kondisi pepohonan di sekitar rumah, terutama yang tumbuh dekat jaringan listrik.

Ia masih mengingat sebuah dahan pohon rambutan di samping rumah yang nyaris menyentuh kabel sambungan rumah (SR) milik PLN. Saat itu, lampu sempat berkedip. Warga kemudian berkoordinasi dengan PLN untuk memangkas dahan tersebut sebelum menimbulkan gangguan yang lebih serius.

“Kalau sudah masuk November seperti sekarang ini, jujur ada rasa was-was yang datang bersamaan dengan sejuknya udara,” ujar Amir.

Menurut dia, warga tidak perlu menunggu sampai kabel mengalami korsleting atau aliran listrik terputus untuk mengambil tindakan. Kondisi pohon yang terlalu dekat dengan jaringan sebaiknya segera dilaporkan agar dapat ditangani dengan aman.

Pengalaman berbeda dialami Rini (34), warga Demang Lebar Daun, Palembang. Ketika hujan deras disertai angin kencang berputar-putar mengguyur kawasan tempat tinggalnya, petir menyambar gardu distribusi di dekat gerbang kompleks.

“Kejadiannya pas Magrib. Waktu itu hujan turun deras sekali disertai angin kencang berputar-putar,” kenang Rini.

Listrik di lingkungan tersebut padam. Di dalam rumah, situasinya sempat membuat keluarga Rini panik. Ia melihat percikan api dari stopkontak di dekat jendela dapur. Air hujan juga membasahi lantai hingga mendekati area instalasi listrik.

Suaminya, Arif (36), segera meminta anak-anak menjauh dari dinding dan lantai yang basah. Setelah memastikan kondisi memungkinkan, ia mematikan MCB untuk menghindari risiko yang lebih besar.

Baca Juga :   Debat Pertama Calon Wali Kota Palembang, RD-PS Sampaikan Visi Misi- Program Kerja Pro Rakyat

Tidak ada anggota keluarga yang terluka dalam kejadian tersebut. Keesokan paginya, warga melaporkan gangguan melalui aplikasi PLN Mobile. Petugas PLN UID Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (S2JB) kemudian datang untuk melakukan penanganan.

Pengalaman Amir dan Rini memperlihatkan bahwa gangguan kelistrikan saat cuaca ekstrem tidak hanya berkaitan dengan padamnya lampu. Ada risiko keselamatan yang dapat muncul dari pohon yang menyentuh jaringan, sambaran petir, hingga instalasi listrik yang berada di sekitar genangan air.

Petugas PLN atasi gangguan listrik akibat pohon roboh saat hujan lebat. (PLNS2JB)

Data evaluasi operasional PLN UID S2JB sepanjang 2024–2026 menunjukkan sekitar 90 persen gangguan pada jaringan distribusi berkaitan dengan pohon atau dahan yang tumbang maupun menyentuh jaringan listrik udara. Angka tersebut merupakan akumulasi rata-rata tahunan, bukan persentase gangguan yang hanya terjadi pada musim hujan.

Sebagian besar gangguan tersebut berkaitan dengan jaringan tegangan menengah (JTM). Karena itu, pemeriksaan jalur jaringan dan pemangkasan vegetasi yang berpotensi mengganggu instalasi menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan pasokan listrik.

Dampak gangguan listrik juga menjalar ke aktivitas ekonomi warga. Bagi Mardiana, pemilik usaha katering dan makanan beku di Sukarami, Palembang, listrik bukan sekadar fasilitas rumah tangga, melainkan penopang utama kegiatan produksi.

Saat angin kencang melanda kawasan tempat usahanya, aliran listrik padam. Di dalam freezer tersimpan ayam, ikan, serta bumbu olahan segar senilai jutaan rupiah yang telah disiapkan untuk memenuhi pesanan keesokan harinya.

Lebih dari tiga jam tanpa listrik membuat suhu di dalam freezer meningkat. Bahan makanan mulai mencair dan mengeluarkan bau sehingga tidak lagi layak digunakan untuk konsumen. Aktivitas dapur pun terhenti karena kompor listrik dan mesin penggiling tidak dapat dioperasikan.

“Begitu mati lampu lebih dari tiga jam tanpa kepastian, suhu di dalam kotak pendingin mulai naik. Bahan-bahan itu mulai mencair dan mengeluarkan bau artinya, tidak layak pakai,” kata Mardiana.

Ia harus merelakan bahan baku yang telah dibeli, sementara biaya operasional tetap berjalan dan pesanan pelanggan terancam terganggu. Penggunaan generator set menjadi pilihan yang tidak murah bagi usaha kecil. Sementara itu, balok es hanya mampu membantu sementara dan tidak cukup efektif untuk penyimpanan dalam jumlah besar.

Karena itu, kembalinya aliran listrik menjadi momen yang sangat berarti bagi kelangsungan usahanya.

“Jujur, rasanya seperti mendapat napas kedua, Mas. Begitu lampu kedengaran ‘nyala’ dan kulkas berdesung kembali, kecemasan kami langsung hilang berganti rasa lega. Kami tahu teman-teman di lapangan bekerja di tengah risiko tinggi, jadi kami sangat menghargai kerja keras mereka mengawal aliran listrik agar roda usaha kami bisa berputar lagi,” tuturnya.

Baca Juga :   Kadisdik Harapkan PPDB Lancar Seperti Tahun Kemarin

Di balik listrik yang kembali menyala, ada petugas yang harus berhadapan langsung dengan risiko cuaca dan kondisi jaringan di lapangan. Salah satunya Fajrin, petugas Pelayanan Teknik (Yantek) PLN UID S2JB yang telah hampir delapan tahun menjalani pekerjaan tersebut.

Tugasnya mencakup pemeliharaan jaringan distribusi, penanganan gangguan gardu, pohon tumbang yang menimpa kabel, hingga korsleting dan ledakan transformator. Pekerjaan itu dapat berlangsung dalam kondisi panas terik, hujan deras, bahkan hingga tengah malam.

Salah satu pengalaman yang paling diingatnya terjadi pada 2025 di kawasan Sematang Borang. Saat tengah malam, tim menerima laporan gardu distribusi meledak dan jaringan saluran udara tegangan menengah (SUTM) putus melintang di jalan akibat tertimpa pohon. Hujan deras dan petir masih menyertai kejadian tersebut.

Tim harus segera menuju lokasi untuk mengamankan area dan mencegah warga mendekati jaringan yang rusak. Namun, kecepatan penanganan tidak boleh mengabaikan keselamatan. Kabel yang putus masih berpotensi membahayakan apabila kondisi kelistrikannya belum dipastikan aman.

Setibanya di lokasi, petugas terlebih dahulu berkoordinasi dengan dispatcher untuk memastikan aliran listrik telah diputus pada titik pekerjaan. Mereka kemudian memasang tanda peringatan darurat, mengimbau warga menjauh, dan mulai menyingkirkan dahan menggunakan gergaji serta peralatan pemotong khusus.

Setelah area aman, petugas menyambungkan kembali konduktor yang putus, memeriksa isolator yang rusak, serta mengecek komponen pengaman gardu. Seluruh tahapan dilakukan dengan memperhatikan prosedur keselamatan kerja.

Fajrin mengatakan, tantangan tidak hanya muncul ketika melakukan perbaikan. Dalam cuaca buruk, perjalanan menuju lokasi gangguan pun dapat menjadi hambatan tersendiri. Petugas juga harus menghadapi kondisi tubuh yang lelah dan dingin, sementara warga yang terdampak kerap menanyakan kapan listrik dapat kembali menyala.

Bagi tim Yantek, keselamatan tetap menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar. Penggunaan alat pelindung diri seperti sabuk pengaman tubuh penuh, sarung tangan tahan tegangan tinggi, helm, dan sepatu khusus menjadi bagian dari prosedur kerja.

“Keluarga menanti kami pulang dengan selamat di rumah,” ujar Fajrin.

Ia memahami bahwa warga membutuhkan listrik untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, proses pemulihan jaringan harus dilakukan dengan pemeriksaan yang benar agar gangguan tidak menimbulkan risiko baru.

Dalam sejumlah kejadian, warga yang awalnya merasa kesal karena listrik belum menyala akhirnya memahami situasi setelah petugas menjelaskan kondisi kerusakan. Bahkan, ada warga yang menawarkan kopi atau teh ketika tim masih bekerja di lapangan.

Baca Juga :   PLN UID S2JB Dorong Keselamatan Listrik Jadi Pertimbangan Sejak Aktivitas Dirancang

Momen paling melegakan bagi petugas adalah ketika aliran listrik kembali normal dan terdengar sorak warga, “Waaa… nyala!”

Untuk menghadapi potensi gangguan akibat cuaca ekstrem, PLN UID S2JB menyiagakan 3.393 personel gabungan yang terdiri dari tenaga teknis internal PLN dan petugas pelayanan teknik dari mitra resmi. Kesiapsiagaan tersebut didukung 326 posko yang tersebar di wilayah Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu, serta peralatan pendukung seperti gardu bergerak.

Jumlah personel itu merupakan sumber daya siaga yang dapat dikerahkan sesuai kebutuhan dan periode kesiapsiagaan, bukan berarti seluruhnya bertugas secara bersamaan setiap hari. Kesiapan tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat penanganan ketika gangguan terjadi.

General Manager PLN UID S2JB, Diksi Erfani Umar, mengatakan pemeriksaan dan pemeliharaan jaringan terus dilakukan untuk menjaga keandalan pasokan listrik. Meski demikian, menurutnya, peran masyarakat tetap dibutuhkan untuk mengenali potensi bahaya di sekitar jaringan.

“PLN terus melakukan pemeriksaan dan pemeliharaan jaringan untuk menjaga keandalan pasokan. Namun, peran masyarakat juga sangat penting. Dengan memahami kondisi yang perlu diwaspadai dan mengetahui langkah yang tepat, masyarakat dapat membantu menjaga keselamatan sejak dini,” ujarnya.

AiIlustrasi (rop)

Ia juga mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan pohon yang berpotensi mengganggu jaringan, kabel menjuntai, tiang miring, atau kondisi instalasi listrik yang membahayakan. Laporan dapat disampaikan melalui PLN Mobile agar informasi gangguan dapat diteruskan kepada petugas terkait.

Masyarakat juga diimbau tidak mendekati kabel yang putus atau menjuntai, tidak menyentuh instalasi listrik ketika berada di area basah, serta menjauhkan anak-anak dari lokasi yang berpotensi berbahaya. Pemangkasan pohon yang berdekatan dengan jaringan listrik sebaiknya dikoordinasikan dengan PLN, bukan dilakukan sendiri tanpa prosedur keselamatan.

“Cuaca memang tidak dapat kita kendalikan, tetapi kita bisa lebih siap dengan menjaga kewaspadaan dan melakukan langkah yang tepat. Kami mengajak masyarakat untuk tidak ragu melapor apabila menemukan kondisi kelistrikan yang perlu ditangani,” kata Diksi.

Hujan yang datang setelah kemarau panjang memang membawa kesejukan bagi Palembang. Namun, di balik udara yang kembali basah, ada pekerjaan menjaga jaringan, mengantisipasi gangguan, dan memastikan listrik tetap aman bagi masyarakat.

Bagi warga, kewaspadaan dapat dimulai dari lingkungan rumah. Bagi petugas, setiap gangguan menuntut ketelitian dan keberanian yang tetap berada dalam batas prosedur keselamatan. Sebab, terang yang kembali menyala bukan hanya soal pulihnya pasokan listrik, tetapi juga tentang memastikan setiap orang dapat beraktivitas dan setiap petugas pulang dengan selamat.

 

Penulis: Riki Okta Putra
Editor: ROP
  • Bagikan