SUMSELDAILY.CO.ID – INDO Putra Alidayanto menangis di Jakarta. Tahun 2013, murid SDN 04 Srikaton, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan itu datang jauh-jauh dari sekolahnya untuk mengikuti lomba menggambar JAPFA4Kids Awards tingkat nasional. Ia sudah mulai menggambar ketika menyadari cat semprot yang dibawanya ternyata salah.
Indo menangis. Namun setelah ditenangkan panitia, ia kembali ke meja lomba dan menyelesaikan gambarnya hingga tuntas. Hasilnya, ia meraih Juara II lomba menggambar.
Di Jakarta, Indo tidak datang sendirian. Ada Silva Tamara, teman sekolahnya dari SDN 04 Srikaton, yang mengikuti lomba mengarang. Silva juga pulang membawa prestasi setelah meraih Juara II.
Bagi sekolah, perjalanan ke Jakarta bukan sekadar mengantar anak mengikuti lomba. Sukarti, S.Pd., yang saat itu menjadi kepala sekolah, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melihat bagaimana sekolah lain membangun kebiasaan hidup bersih dan mengelola lingkungan.
“Kami memanfaatkan kesempatan ke Jakarta ini untuk melihat langsung bagaimana sekolah-sekolah lain menjaga kebersihan, memanfaatkan barang bekas, dan membangun kebiasaan hidup bersih agar bisa kami terapkan di sekolah,” ujar Sukarti, S.Pd.
Pengalaman itu kemudian dibawa pulang ke Musi Rawas. Di SDN 04 Srikaton, kebiasaan memanfaatkan barang bekas dan menjaga lingkungan berkembang menjadi bagian dari aktivitas sekolah. Setahun setelah program berjalan, sekolah tersebut menjadi Juara I Lomba 5S JAPFA4Kids Awards tingkat nasional.
Namun perjalanan itu sebenarnya dimulai lebih awal.
Pada 28–29 Februari 2012, JAPFA4Kids menggelar Kampanye Gizi di enam sekolah dasar di Tugumulyo, Musi Rawas. Sekolah tersebut terdiri dari SDN 1 Trikoyo, SDN 2 Trikoyo, SDN 1 Srikaton, SDN 2 Srikaton, SDN 4 Srikaton dan SDN 5 Srikaton.
Sebanyak 1.073 siswa dan 76 guru mengikuti kegiatan tersebut. Anak-anak mendapatkan pemeriksaan kesehatan, paket gizi dan pelatihan Dokter Kecil. Para guru mendapatkan pelatihan 5S. Pendampingan kemudian dilanjutkan dengan pemberian asupan gizi selama enam bulan.
Tugumulyo bukan wilayah yang asing bagi JAPFA. Daerah tersebut memiliki aktivitas budidaya ikan yang cukup kuat. PT Suri Tani Pemuka atau STP, perusahaan JAPFA di bidang budidaya perairan, memiliki pelanggan dari kalangan petani ikan di wilayah tersebut.
Dari sekolah-sekolah itulah cerita anak-anak tersebut bermula. Mereka mengikuti kegiatan, belajar tentang kesehatan dan lingkungan, mengikuti perlombaan, kemudian pulang membawa pengalaman masing-masing.
Setelah itu, kehidupan berjalan seperti biasa.
Anak-anak naik kelas. Berganti seragam. Masuk sekolah menengah. Sebagian kemudian melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Nama-nama mereka perlahan hilang dari ruang kelas dan tersimpan dalam arsip sekolah.
Lebih dari satu dekade kemudian, salah satu nama kembali ditemukan.
Ajeng Linggani, yang pada 2013 masih menjadi murid SDN 1 Srikaton, tercatat mengikuti Yudisium Angkatan ke-3 Fakultas Sains dan Teknologi Universitas PGRI Silampari atau UNPARI pada 2024. Setahun kemudian, namanya muncul sebagai salah satu penulis artikel ilmiah The Development of a Conceptual Change-Oriented E-Book in Environmental Science yang diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Pendidikan IPA.
Ketika mengingat kembali masa JAPFA4Kids, Ajeng tidak membawa pulang cerita tentang rasa takut atau tekanan mengikuti lomba. Yang ia ingat justru bagaimana kegiatan itu terasa seperti permainan.
“Saya sama sekali tidak merasa gugup saat itu. Saya justru menjalani seluruh rangkaian kegiatan dari awal sampai selesai seperti sedang bermain,” kenang Ajeng.
Dari seorang murid sekolah dasar di Musi Rawas, Ajeng tumbuh menjadi mahasiswa dan kemudian terlibat dalam penelitian pendidikan lingkungan. Tahun-tahun telah mengubah banyak hal, tetapi satu pengalaman masa kecil masih menjadi bagian dari ingatannya.
Cerita lain datang dari Palembang.
Namanya Muhammad Imam Alfarizi.
Pada 2015, Imam masih seorang anak ketika tercatat sebagai salah satu Duta Lingkungan Sehat JAPFA. Saat itu, tugasnya sederhana: mengajak teman-temannya menjaga kebersihan dan peduli terhadap lingkungan.
Belasan tahun berlalu. Imam tumbuh dewasa. Pada 2024, ia tercatat sebagai Putera Ekowisata Indonesia bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Bina Bangsa dan terlibat dalam kegiatan edukasi lingkungan kepada siswa.
Ada satu hal dari masa sekolah yang ternyata tidak ikut tumbuh menjadi kenangan semata.
Setiap kali hendak membuang sampah sembarangan, Imam masih teringat dirinya yang dulu pernah menjadi Duta Lingkungan Sehat.
“Setiap kali tangan saya refleks ingin membuang sampah sembarangan, saya tiba-tiba teringat, ‘Eh, aku kan dulu Duta Lingkungan Sehat.’ Ingatan itu buat saya tersenyum sendiri dan akhirnya urung membuang sampah sembarangan,” tutur Imam.

Tidak ada guru yang mengawasi. Tidak ada kamera. Tidak ada penghargaan.
Hanya ingatan lama yang tiba-tiba muncul pada saat yang tepat.
Indo, Silva, Ajeng dan Imam hanyalah sebagian kecil dari anak-anak yang pernah berada dalam perjalanan JAPFA4Kids.
Selama bertahun-tahun, program tersebut bergerak dari sekolah ke sekolah, membawa pesan tentang kesehatan, gizi dan lingkungan. Guru dilibatkan. Orang tua ikut disentuh. Anak-anak diberi ruang untuk belajar sekaligus mempraktikkan kebiasaan hidup sehat.
Pada 2021, JAPFA mencatat 11.561 anak di enam lokasi tetap terjangkau program dengan 720 duta Healthy Food, Healthy Kid dan Healthy Environment.
Empat tahun kemudian, pada 2025, sebanyak 15.498 siswa di 123 sekolah pada sembilan kabupaten/kota menjalani pemeriksaan. Sebanyak 1.034 anak teridentifikasi mengalami malnutrisi dan mendapatkan intervensi selama enam bulan.
Hasil pemantauan menunjukkan 646 anak atau 62,5 persen mengalami peningkatan status gizi menjadi normal atau gizi baik.
Hingga 2025, JAPFA mencatat program JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota pada 28 provinsi.
Tetapi perjalanan Indo, Silva, Ajeng dan Imam menunjukkan sesuatu yang tidak tercatat dalam tabel.
Seorang anak bisa menangis karena cat semprot yang salah.
Seorang anak lain bisa menjalani perlombaan tanpa merasa gugup.
Dan seorang anak yang dulu diajari menjaga lingkungan bisa tumbuh dewasa lalu tersenyum sendiri ketika tangannya hampir membuang sampah sembarangan.
Selama 18 tahun, anak-anak datang dan pergi dari sekolah. Program datang, kegiatan berlangsung, kemudian selesai. Seragam berganti. Guru berganti. Generasi berganti.
Namun beberapa hal tidak benar-benar selesai ketika sebuah kegiatan berakhir.
Kadang ia tinggal sebagai kebiasaan.
Kadang sebagai cara melihat sesuatu.
Kadang hanya berupa ingatan kecil yang muncul ketika seseorang hendak melakukan sesuatu yang salah.
Seperti yang terjadi pada Imam.
Bertahun-tahun setelah menjadi Duta Lingkungan Sehat, ia masih teringat pada dirinya sendiri ketika menjadi seorang anak.
Lalu ia tersenyum.
Dan sampah itu tidak jadi dibuang sembarangan.













