SUMSELDAILY.CO.ID, PALEMBANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus mengoptimalkan upaya penanganan kabut asap yang kembali menyelimuti Kota Palembang. Gubernur Sumsel Herman Deru memastikan operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice atau es kering terus dipersiapkan untuk membantu mengurai kabut asap yang semakin pekat.
Langkah tersebut dilakukan menyusul menurunnya jarak pandang di Palembang hingga di bawah 1.000 meter pada Kamis (22/10/2026) pagi. Tingginya kelembapan udara turut memperburuk kondisi karena asap sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bercampur dengan kabut.
Untuk memastikan penanganan berjalan optimal, Herman Deru meninjau langsung Baseops Pangkalan Udara (Lanud) Palembang bersama Komandan Korem (Danrem) 044/Garuda Dempo (Gapo), Brigjen TNI Khabib Mahfud.
Dalam peninjauan tersebut, Herman Deru memantau kesiapan operasi modifikasi cuaca sekaligus perkembangan kondisi atmosfer yang memengaruhi pelaksanaan penyemaian dry ice melalui jalur udara.
“Pagi ini agak khusus. Saya bersama Pak Danrem hadir di Baseops Lanud untuk menyikapi kondisi kabut yang pagi ini meningkat sangat signifikan,” ujar Herman Deru.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup berbeda dibandingkan beberapa hari sebelumnya ketika kabut asap mulai berkurang dan jarak pandang berangsur membaik.
“Padahal, setelah tiga hari sebelumnya, kita merasakan asap mulai terurai dan visibility meningkat tajam. Namun, pagi ini kondisinya kembali memburuk sehingga perlu kita sikapi bersama,” katanya.
Herman Deru menegaskan, Satgas Karhutla bersama unsur terkait terus berupaya mempercepat penanganan agar kabut asap tidak semakin mengganggu kehidupan masyarakat.
“Kita tidak ingin kabut ini menghambat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Karena itu, seluruh upaya penanganan harus terus dioptimalkan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, langkah penanganan dilakukan melalui operasi darat dan udara, termasuk penyemaian dry ice untuk mendukung modifikasi cuaca. Upaya tersebut dilaksanakan menindaklanjuti arahan Presiden melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Kementerian Kehutanan.
“Mudah-mudahan asap ini segera terurai sehingga pilot bisa menerbangkan pesawatnya dan operasi modifikasi cuaca dapat dilaksanakan secara optimal,” harap Herman Deru.
Meski demikian, pelaksanaan penyemaian melalui jalur udara masih menghadapi kendala keselamatan penerbangan. Jarak pandang yang terbatas membuat penerbangan belum dapat dilakukan secara leluasa.
Di sisi lain, dukungan logistik untuk operasi modifikasi cuaca terus diperkuat. Pemerintah pusat telah mengirimkan dua unit tempat penyimpanan berpendingin atau storage untuk menjaga kualitas dan ketersediaan dry ice sebelum digunakan dalam operasi.
Herman Deru mengatakan, fasilitas tersebut diharapkan mampu mengatasi kendala penyusutan bahan akibat penguapan yang sebelumnya terjadi.
“Kabar baiknya, sekarang sudah ada storage pendingin. Kalau kemarin penguapan tinggi sehingga bahan sempat menyusut, kini dengan adanya dua unit storage berkapasitas 4,7 ton yang dikirim dari pusat kemarin sore, kendala tersebut bisa diatasi,” jelasnya.
Kesiapan logistik ini menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pelaksanaan operasi, terutama ketika kondisi cuaca dan jarak pandang memungkinkan pesawat untuk terbang.
Sementara itu, Danrem 044/Gapo Brigjen TNI Khabib Mahfud mengatakan, persiapan armada udara dan bahan penyemaian telah dilakukan untuk mendukung operasi penanganan kabut asap di Sumsel.
“Sementara ini, yang sudah diangkut ke pesawat kurang lebih 800 kilogram dry ice. Secara keseluruhan, kita sudah menyiapkan 4,7 ton dry ice di storage yang siap ditebar,” ungkap Khabib.
Ia menjelaskan, kesiapan bahan tersebut perlu didukung kondisi atmosfer yang memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan agar operasi dapat dilaksanakan.
“Kalau dari sisi persiapan bahan, kita sudah menyiapkannya. Namun, pelaksanaannya tetap bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang yang memungkinkan pesawat beroperasi dengan aman,” ujarnya.
Khabib menerangkan, terbatasnya jarak pandang di Palembang dipengaruhi dua faktor utama, yakni kabut asap akibat karhutla dan tingginya kelembapan udara.
“Kendalanya memang visibility. Penyebabnya ada dua: pertama karena kabut asap karhutla, dan kedua karena kelembapan udara di Palembang yang cukup tinggi sehingga kabut dan asap menyatu,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat jarak pandang masih berada di bawah 1.000 meter sehingga menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan penerbangan untuk penyemaian dry ice.
“Hal ini membuat jarak pandang masih terbatas di bawah 1.000 meter. Jadi, faktor keselamatan penerbangan tetap menjadi perhatian utama sebelum operasi udara dilaksanakan,” tambahnya.
Berdasarkan data BMKG yang disampaikan dalam peninjauan tersebut, kelembapan udara di Palembang berada pada kisaran 87 persen. Kondisi atmosfer ini turut memengaruhi penumpukan kabut dan asap di wilayah perkotaan.
Khabib menambahkan, koordinasi antara jajaran TNI, Pemerintah Provinsi Sumsel, dan instansi terkait terus dilakukan setiap pagi untuk memantau perubahan cuaca serta menentukan langkah penanganan yang tepat.
“Setiap pagi kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk melihat perkembangan kondisi cuaca. Dari situ, kami mengevaluasi langkah yang paling tepat agar upaya penanganan karhutla dapat berjalan efektif,” katanya.
Ia menegaskan, seluruh unsur terkait tetap bersiaga dan menyesuaikan pelaksanaan operasi dengan perkembangan kondisi di lapangan.
Pemerintah Provinsi Sumsel berharap kombinasi penanganan karhutla melalui jalur darat, dukungan operasi udara, serta optimalisasi modifikasi cuaca dapat membantu mengurangi kabut asap yang menyelimuti Palembang.
Upaya tersebut diharapkan mampu memperbaiki jarak pandang sekaligus meminimalkan dampak kabut asap terhadap aktivitas masyarakat.













