Ekoteologi Jadi Sorotan di UIN Raden Fatah, Menag RI dan Rektor Ungkap Kearifan Lingkungan Warisan Sriwijaya

  • Bagikan
oplus_2

SUMSELDAILY.CO.ID, PALEMBANG – Gagasan ekoteologi menjadi pembahasan utama dalam kegiatan Pembinaan ASN di UIN Raden Fatah Palembang yang menghadirkan Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar di Auditorium Perpustakaan Kampus B Palembang, Rabu (13/5/2026).

Dalam arahannya, Nasaruddin Umar menekankan pentingnya membangun kesadaran spiritual yang berpihak pada kelestarian alam. Menurutnya, manusia harus memandang alam sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga dan dihormati, bukan sekadar objek eksploitasi.

“Manusia harus bersahabat dengan alam. Kalau alam rusak, maka kehidupan manusia juga akan terganggu, termasuk dalam menjalankan ibadah dan tugas sebagai khalifah di bumi,” ujarnya.

Ia menjelaskan konsep ekoteologi bertujuan membangun kepedulian terhadap seluruh ciptaan Tuhan, baik manusia, hewan, tumbuhan, maupun unsur alam lainnya.

“Mari kita memperlakukan alam bukan hanya sebagai objek, tetapi juga sebagai sahabat dan partner kehidupan,” katanya.

Menurut Menag, kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak secara ekologis, tetapi juga mempengaruhi kualitas spiritual dan ketenangan hidup manusia.

Sementara itu, Rektor UIN Raden Fatah Palembang Muhammad Adil menyebut nilai-nilai ekoteologi sebenarnya telah dipraktikkan sejak masa Kerajaan Sriwijaya.

Ia menyinggung Prasasti Talang Tuo sebagai bukti sejarah adanya konsep pelestarian lingkungan pada abad ke-7.

“Dalam prasasti itu dijelaskan adanya pembangunan taman dan penanaman berbagai tanaman produktif seperti kelapa, enau, dan sagu. Ini menunjukkan sejak dulu masyarakat Sriwijaya sudah memiliki kesadaran menjaga keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.

Muhammad Adil juga mengaitkan sejarah tersebut dengan budaya masyarakat Palembang, termasuk makanan khas Pempek yang menurutnya dahulu berbahan dasar sagu.

Selain itu, ia memaparkan konsep pembangunan Kampus B UIN Raden Fatah yang dirancang berbasis lingkungan. Kawasan kampus yang berada di lahan rawa dilengkapi sistem kanal sepanjang 999 meter untuk mengatur debit air agar tidak mengalami banjir maupun kekeringan.

Baca Juga :   Bupati Devi Suhartoni Ucapkan Terimakasih Pada Herman Deru Telah Banyak Membangun Infrastruktur di Kabupaten Muratara

“Di bawah bangunan kampus juga disiapkan ruang cadangan air untuk menghadapi musim kemarau. Sistem ini menjadi salah satu keunggulan kampus kami,” katanya.

Ia berharap konsep ekoteologi tidak hanya menjadi wacana akademik, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan pembangunan lingkungan kampus.

“Kampus harus menjadi contoh bagaimana manusia bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan alam,” tandasnya.

  • Bagikan