SUMSELDAILY.CO.ID, PALEMBANG – Menghadapi potensi musim kemarau yang lebih kering akibat fenomena El Niño, APP Group bersama mitra pemasoknya di Sumatera Selatan menegaskan komitmennya dalam memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui kolaborasi lintas sektor dan sistem deteksi dini berbasis teknologi.
Komitmen tersebut ditunjukkan dalam Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Karhutla Nasional 2026 di Griya Agung, Palembang, yang melibatkan sekitar 1.600 personel gabungan. Dalam kegiatan ini, APP Group menampilkan kesiapan sumber daya manusia, teknologi, serta peralatan pemadaman sebagai bagian dari strategi menghadapi musim kemarau tahun ini.
Direktur APP Group, Suhendra Wiriadinata, mengatakan pihaknya mengedepankan pendekatan Integrated Fire Management (IFM) yang mencakup empat pilar utama, yakni pencegahan, persiapan, deteksi dini, dan respon cepat.
“Melalui pendekatan ini, kami memastikan seluruh proses penanggulangan karhutla berjalan menyeluruh, dari pencegahan berbasis masyarakat hingga pemantauan berbasis teknologi dan kesiapan tim di lapangan,” ujarnya.
APP Group bersama mitra pemasoknya—di antaranya PT Bumi Mekar Hijau, PT Bumi Andalas Permai, PT SBA Wood Industries, PT Rimba Hutani Mas, PT Sumber Hijau Permai, PT Bumi Persada Permai, dan PT Tri Pupajaya—mengoperasikan sistem pemantauan terpadu yang didukung drone, Automatic Weather Station (AWS), serta jaringan komunikasi real-time.
Dalam simulasi kesiapsiagaan, helikopter turut dikerahkan untuk patroli udara guna mendeteksi potensi titik api sejak dini. Selain itu, perusahaan juga menyiagakan ratusan personel Regu Penanggulangan Kebakaran (RPK) dan Tim Reaksi Cepat (TRC), serta armada pemadaman darat dan air.
Upaya pencegahan juga diperkuat melalui program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA) yang telah berjalan di 31 desa di wilayah operasional Sumatera Selatan. Program ini melibatkan 633 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) dalam patroli terpadu, sosialisasi, dan edukasi pengelolaan lahan tanpa bakar.
Sistem deteksi dini diperluas melalui pembangunan puluhan menara api, pos pantau, serta pusat kendali (situation room) yang beroperasi 24 jam dan terintegrasi dengan data satelit.
Suhendra menegaskan, kolaborasi menjadi kunci utama dalam mencegah karhutla. “Kami percaya pencegahan tidak bisa dilakukan sendiri. Sinergi antara dunia usaha, pemerintah, aparat, dan masyarakat menjadi faktor penentu agar upaya ini berjalan efektif dan berkelanjutan,” katanya.
Dengan kesiapan yang terintegrasi dan berbasis kolaborasi, APP Group berharap potensi karhutla pada musim kemarau 2026 dapat ditekan sejak dini, meski di tengah ancaman El Niño yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.














