Tukang Sayur, QRIS, dan Perubahan Takdir

  • Bagikan
Ilustrasi : Cek Minah, pedagang sayur di Pasar Tradisional Satelit Sako Palembang, kini melayani pembayaran digital lewat QRIS. Inovasi perbankan digital menjangkau hingga ke gerobak sayur.

PALEMBANG, SUMSELDAILY,CO.ID – Minggu pagi (7/9/2025), suasana Pasar Satelit Perumnas Sako di Palembang, Sumatera Selatan, dipadati aktivitas warga seperti hari-hari biasanya. Suara pedagang bersahutan: “Tomat, Bu! Cabe rawit murah!” Bau bawang bercampur aroma ikan asin, jadi satu harmoni khas pasar Indonesia.

Di sudut gang, Cek Minah penjual sayur yang sudah 20 tahun mangkal di sana—sibuk menata kangkung dan bayam. Wajahnya sumringah ketika seorang pembeli muda, pakai kacamata hitam dan jaket ojek online, berhenti di depannya.

“Berapa, Bu, kangkung sama tomatnya?” tanya si pemuda.
“Lima belas ribu aja, Nak,” jawab Cek Minah.

Pemuda itu mengangguk, lalu merogoh kantong celana. Tapi bukannya dompet yang keluar, malah ponsel canggih. Ia menatap Cek Minah sambil senyum.
“Bayar pakai ini aja ya, Bu…” ucapnya.

Cek Minah melongo. “Itu hape, Nak. Hape nggak bisa jadi duit,” katanya sambil terkekeh.
“Bisa kok, Bu. Pakai QRIS. Ada barcode-nya?”
“QR apa? QRIS? Kirain Qori’ah… yang suka ngaji di masjid,” gumam Cek Minah bingung.

Pemuda itu lalu menunjukkan stiker QRIS kecil yang sudah menempel di keranjang sayur Cek Minah hasil program pemerintah yang bulan lalu ia ikuti tapi tak pernah dipakai.
“Coba Bu, saya scan ya,” katanya.

Bip! Suara notifikasi terdengar nyaring. Layar ponsel si pemuda menampilkan tulisan: Pembayaran Berhasil. Beberapa detik kemudian, ponsel Cek Minah berdering dengan SMS masuk:
“Saldo masuk Rp15.000.”

Wajah Cek Minah berubah seketika. Dari bingung jadi berbinar seperti dapat undian umroh.
“Lho… masuk?! Uangnya masuk?!” teriaknya kencang, sampai pedagang ikan di sebelah nengok.
“Iya, Bu. Sekarang zaman udah maju. Semua bisa pakai QRIS,” kata pemuda itu sambil ambil kantong belanjaannya.

Baca Juga :   Ahmad Yaniarsyah Divonis 11 Tahun, PH Angkat Bicara

Cek Minah senyum-senyum sendiri. “Astaghfirullah… ini kayak sulap, Nak. Padahal tadi saya pikir hape cuma buat WA grup pengajian!”

Tak lama kemudian, pembeli lain datang. Cek Minah langsung semangat.
“Mau bayar cash apa Qori… eh, QRIS?” tanyanya dengan bangga, sengaja mengangkat stiker kode QR seperti penjual tiket konser.

Kini, setiap pagi Cek Minah tak hanya bawa timbangan dan kantong kresek. Ia bawa juga masa depan, berupa stiker QRIS yang menempel manis di gerobak sayurnya. Semua gara-gara satu hal: perbankan digital merambah sampai ke gang sempit.

Dari Pasar ke Aplikasi: Gelombang Digital yang Tak Terbendung

Cerita Cek Minah bukan sekadar kisah lucu di pasar. Ia adalah potret perubahan besar yang sedang melanda Indonesia. Dari kota besar hingga pelosok desa, transaksi tunai perlahan tergeser oleh sistem pembayaran digital.

Data Bank Indonesia menunjukkan, hingga Juli 2025, jumlah merchant yang menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) mencapai 36,7 juta, naik signifikan dari 26 juta pada 2023. Nilai transaksi QRIS selama 2024 tembus Rp 244 triliun, tumbuh lebih dari 45 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Perubahan ini bukan hanya soal gaya hidup, tapi kebutuhan. Hidup yang serba cepat mendorong masyarakat memilih cara transaksi yang praktis, aman, dan instan.

CIMB Niaga di Garis Depan Inovasi Digital

Di tengah gelombang digitalisasi ini, CIMB Niaga menjadi salah satu pemain utama. Melalui OCTO Mobile, OCTO Clicks, dan OCTO Pay, bank ini mengklaim telah mengintegrasikan lebih dari 70 fitur digital untuk memenuhi kebutuhan nasabah, dari sekadar transfer hingga investasi.

“OCTO Mobile hadir untuk memudahkan nasabah dalam bertransaksi, mulai dari pembayaran QRIS, transfer BI-FAST, pembelian reksa dana, hingga pembukaan rekening haji,” ujar Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga, dalam laporan kinerja kuartal I 2025.

Baca Juga :   Pertahankan Zero Polio, Pj Wali Kota Resmikan Pekan Imunisasi Nasional 2024

Data internal CIMB Niaga mencatat, 90 persen transaksi nasabah kini dilakukan melalui kanal digital, dengan nilai mencapai Rp 457,7 triliun sepanjang 2023. Volume transaksinya menembus 268 juta kali, tumbuh 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Transformasi digital bukan pilihan lagi, tapi keharusan. Kami terus berinovasi agar layanan kami bisa dinikmati semua segmen, termasuk UMKM seperti pedagang pasar,” tambah Lani.

QRIS dan UMKM: Dari Gerobak Sampai Galeri

CIMB Niaga juga aktif mendukung integrasi QRIS ke dalam OCTO Mobile, sehingga nasabah dapat membayar di jutaan merchant tanpa repot. Tidak hanya itu, mereka mengedukasi UMKM agar beradaptasi dengan ekosistem digital.

“Kolaborasi dengan pemerintah dan pelaku usaha kecil sangat penting. Kami ingin memastikan inklusi keuangan terjadi hingga ke level terbawah,” jelas Lani.

Dampaknya nyata. Menurut data CIMB Niaga, jumlah transaksi QRIS melalui OCTO Mobile tumbuh 50 persen sepanjang 2024. Tidak hanya di kafe dan restoran, tapi juga pasar tradisional seperti tempat Bu Minah berdagang.

Cabang Masih Ada, Tapi Wajahnya Berubah

Meski digital mendominasi, cabang fisik tetap dipertahankan, namun dengan konsep modern. Hingga awal 2025, CIMB Niaga memiliki 52 Digital Branch yang memungkinkan nasabah melakukan hampir semua layanan tanpa antre panjang.

“Kami mengusung konsep hybrid: cabang tetap ada, tapi dengan teknologi yang mempercepat layanan,” kata manajemen CIMB Niaga dalam laporan tahunan.

Kepuasan dan Keamanan: Dua Pilar Digital Banking

Digitalisasi tak lepas dari tantangan keamanan. CIMB Niaga mengklaim terus meningkatkan teknologi enkripsi dan sistem pemantauan risiko siber.
Pada 2024, dari 64.457 keluhan nasabah, 99 persen berhasil diselesaikan tepat waktu, sementara nilai Net Promoter Score (NPS) naik dari 50 persen (2023) menjadi 57 persen (2024).

Baca Juga :   Herman Deru Ajak Masyarakat Sumsel Perbanyak Mengucap Rasa Syukur

Penutup: Dari Gerobak Sayur ke Genggaman Tangan

Dunia perbankan Indonesia telah berubah. Dari pasar tradisional hingga pusat kota, semua terkoneksi oleh satu hal: digitalisasi. CIMB Niaga membuktikan bahwa inovasi bukan hanya untuk mereka yang berjas di gedung pencakar langit, tapi juga untuk Cek Minah yang setiap pagi masih berteriak, “Sayur! Sayur!” kini dengan kode QR yang menempel manis di gerobaknya.

Penulis: Riki Okta PutraEditor: ROP
  • Bagikan