Sumsel, Nadi Swasembada Energi

  • Bagikan
Ilustrasi (rop)

Di Sumatera Selatan, kata “swasembada energi” berhenti menjadi jargon dan berubah menjadi kenyataan sehari-hari

SUMSELDAILY.CO.ID, PALEMBANG — Di pagi yang lembap, ketika kabut Sungai Musi belum sepenuhnya padam, deru truk batu bara dan suara mesin pembangkit jauh di selatan menjadi latar yang tak terpisahkan dari ritme hidup provinsi ini. Dari tepian sungai, kilatan lampu kapal tongkang yang masih bersandar menunggu giliran angkut tampak seperti titik-titik cahaya yang menggantung di udara. Bau tanah basah bercampur asap knalpot dan sisa bara dari tungku kecil pedagang kopi di pinggir dermaga, seolah menyatukan denyut hulu dan hilir dalam satu tarikan napas.

Di Muara Enim, seorang pekerja tambang baru saja selesai shift malam. Sepatunya masih berbalut lumpur, wajahnya legam oleh debu batu bara. Ia menyalakan rokok, menghela napas panjang, lalu tertawa kecil saat menyebut bahwa listrik yang menerangi rumah-rumah jauh di kota mungkin bersumber dari batu hitam yang barusan ia angkut keluar perut bumi. “Capek, tapi ya bangga juga. Kalau lampu di rumah orang nyala, ada sedikit hasil keringat kami di situ,” kata Andi Prasetyo (34), pekerja tambang di PT Bukit Asam, (Muara Enim, 21 Juni 2024).

Di Palembang, ratusan kilometer dari tambang itu, seorang ibu rumah tangga di kawasan Kalidoni menyalakan kompor induksi barunya. Anak bungsunya berlarian kecil menunggu sarapan. “Cepat sekali masaknya, tak ada bau gas, tak ada rasa was-was kalau tabung kosong,” ujarn Nurhayati (41), ibu rumah tangga di Kalidoni, (Palembang, 5 Juli 2024).

Di tangannya, listrik bukan sekadar cahaya; ia sudah menjadi bagian dari kenyamanan harian yang dulu bergantung pada api dan tabung baja.

Sumatera Selatan bukan lagi sekadar peta produksi di lembar laporan energi: ia adalah urat nadi yang sedang dimaknai ulang. Dari perut bumi Muara Enim yang menyimpan jutaan ton batubara, dari sumur-sumur minyak tua di Prabumulih dan Musi Banyuasin, hingga ke jaringan transmisi yang menjalar bagai urat nadi listrik menuju kota-kota dan desa-desa, energi di provinsi ini bergerak dalam diam sekaligus gaduh. Diam karena tak banyak disadari orang awam yang sekadar menyalakan lampu kamar, gaduh karena mesin-mesin raksasa dan kendaraan berat bekerja tanpa henti, siang dan malam.

Baca Juga :   Wali Kota Pagar Alam Apresiasi OJK Canangkan Program Besema

Di rumah-rumah penduduk, saklar yang ditekan, kompor listrik yang mulai menggantikan api biru gas, dan charger ponsel yang tak pernah dicabut adalah ujung perjalanan panjang itu. Sebuah perjalanan yang berawal dari tanah, minyak, dan batu hitam, melewati terowongan gelap tambang, pipa baja, menara transmisi, hingga berakhir menjadi terang yang menyinari ruang tamu sederhana atau daya yang menggerakkan pabrik di pinggiran Palembang.

Di sinilah, di Sumatera Selatan, kata “swasembada energi” berhenti menjadi jargon dan berubah menjadi kenyataan sehari-hari. Dari tambang dan sumur, ke pembangkit, lalu ke stopkontak dan kompor induksi: rantai energi ini adalah kisah tentang kedaulatan, tentang bagaimana sebuah provinsi di pinggir Sungai Musi ikut menentukan arah besar ketahanan energi Indonesia.

Kebijakan nasional yang menempatkan swasembada energi sebagai prioritas diterjemahkan menjadi target produksi migas, pengembangan pembangkit, dan program elektrifikasi gaya hidup kini terlihat nyata di lanskap Sumsel. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan swasembada energi sebagai fokus kebijakan untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat ketahanan nasional. (Keterangan Kementerian ESDM RI, Jakarta, 12 Februari 2024)

Hulu: cadangan dan kapasitas yang besar tetapi tidak tanpa tantangan

Data internasional mencatat betapa pentingnya peran Sumatera Selatan dalam peta energi nasional: provinsi ini menyimpan hampir 30% cadangan batubara nasional, menjadikannya salah satu kawasan tambang utama Indonesia. Cadangan ini yang selama dekade terakhir menjadi sumber listrik dan perdagangan ekspor, sekaligus sumber pendapatan daerah. (U.S. Energy Information Administration, laporan energi 2023)

Pada 2023–2024, pemerintah pusat dan pelaku usaha mengakselerasi pembangunan pembangkit besar di Sumsel. Salah satu landmarknya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Sumsel-8 (Tanjung Lalang, Muara Enim) yang berkapasitas 2×660 MW, sebuah proyek skala besar yang resmi beroperasi komersial dan diharapkan memperkuat keandalan listrik Pulau Sumatera.

Baca Juga :   Peringatan Hari Pahlawan, Pj Elman Pimpin Upacara Bendera dan Ziarah Tabur Bunga

“Kebutuhan listrik di Sumatera terus meningkat. Dengan demikian PLTU MT Sumsel-8 ini memiliki peran penting untuk memenuhi peningkatan kebutuhan tersebut,”ujar Jisman Hutajulu, Dirjen Ketenagalistrikan, dalam keterangan resmi saat COD PLTU tersebut (Muara Enim, 7 Juli 2023).

Namun produksi berkapasitas besar membawa dilema: bagaimana menyeimbangkan ketahanan pasokan jangka pendek dengan target transisi energi jangka panjang? Di satu sisi pembangkit batubara menjamin suplai stabil dan harga kompetitif; di sisi lain tekanan global dan target iklim menuntut pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang lebih agresif. Lembaga-lembaga riset energi nasional telah memperingatkan bahwa tanpa strategi transisi yang jelas, peningkatan kapasitas berbasis fosil dapat mengunci emisi jangka panjang.

Hilir: dari jaringan ke rumah tangga  gaya hidup yang terlistrikkan

Perjalanan energi tidak berhenti di pembangkit. Di hilir, paradigma gaya hidup elektrifikasi (electrifying lifestyle) sedang didorong oleh PLN dan pemerintah daerah sebagai cara praktis menurunkan konsumsi bahan bakar impor sekaligus membuka permintaan baru untuk listrik berbasis domestik.

“PLN mendorong perubahan dari rumah lewat Electrifying Lifestyle,  kegiatan ini jadi sarana edukasi penggunaan peralatan listrik yang hemat dan ramah lingkungan,”terang siaran pers PLN tentang program nasional (Palembang, 18 Maret 2024).

Itu adalah gambaran kecil dari perubahan perilaku yang, bila meluas, bisa mengurangi permintaan BBM dan LPG impor sekaligus menambah beban baru pada jaringan distribusi listrik tantangan teknis yang perlu diantisipasi oleh PLN dan pemerintah daerah.

Sinergi daerah, dari kebijakan sampai infrastruktur

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan aktif menjalin sinergi dengan PLN untuk memperkuat pemerataan dan keandalan jaringan. Kepala PLN UID S2JB dan pejabat daerah sering menekankan perlunya perencanaan terpadu agar investasi pembangkit, transmisi, serta regulasi tata ruang selaras.

“PLN sangat siap mendukung swasembada energi Sumsel melalui optimalisasi potensi lokal,”kata perwakilan PLN saat diskusi koordinasi pusat-daerah (Palembang, 10 Januari 2024).

Baca Juga :   Kegiatan Bersama SKK Migas-KKKS Medco E&P Indonesia dan Batalyon Infanteri 141/Aneka Yudha Jaya Prakosa (AYJP) Muara Enim

Di tingkat teknis, pengoperasian pembangkit besar seperti Sumsel-8 juga memasukkan teknologi mitigasi emisi (mis. FGD) agar dampak lingkungan bisa diminimalkan  sebuah bukti bahwa pembangunan berbasis fosil pun kini menyertakan langkah-langkah mitigasi lingkungan dalam praktiknya.

Jalan ke depan: rekomendasi praktik dari Sumsel untuk Indonesia

Dari kunjungan dan data yang dihimpun, ada beberapa simpulan praktis yang muncul dari Sumatera Selatan:

Manfaatkan keunggulan komparatif dengan rencana jangka panjang. Cadangan batubara dan infrastruktur migas harus dikelola sebagai modal ekonomi jangka menengah sambil didorong investasi EBT sehingga transisi tidak mengorbankan ekonomi lokal.

Perkuat jaringan dan pengelolaan puncak beban. Program elektrifikasi gaya hidup akan menaikkan permintaan listrik; PLN dan pemerintah daerah harus menyiapkan transmisi, gardu dan manajemen beban agar terjadi transisi yang lancar. Insiden gardu di Palembang yang sempat viral (Palembang, 27 Agustus 2024) menjadi pengingat bahwa infrastruktur distribusi membutuhkan modernisasi rutin.

Edukasi dan insentif. Subsidi yang diarahkan untuk mempercepat peralihan ke peralatan listrik efisien dapat menurunkan konsumsi energi berbasis impor dan meningkatkan kualitas hidup. Program “Electrifying Lifestyle Vaganza” (Palembang, 14 Juni 2024) adalah model yang bisa direplikasi antar kabupaten/kota.

Transparansi dan keterlibatan masyarakat. Keputusan besar (mis. lokasi PLTU, tambang) harus melibatkan suara komunitas lokal agar manfaat ekonomi tidak tercabut dari kesejahteraan sosial dan lingkungan.

Penutup: swasembada sebagai proses, bukan sekadar slogan

Di pinggir Sungai Musi, ketika senja merekah dan lampu-lampu kota satu per satu menyalakan wajahnya, terasa jelas bahwa swasembada energi bukan sekadar angka produksi atau proyek besar. Ia adalah rangkaian keputusan  teknis, sosial, dan kebijakan  yang harus dijalankan bersamaan: mengelola hulu dengan tanggung jawab, memperkuat hilir agar listrik menjadi penggerak ekonomi rumah tangga dan industri, serta menata transisi agar masa depan energi Indonesia tidak hanya berdaulat secara sumber daya, tetapi juga berkelanjutan.

Penulis: Riki Okta PutraEditor: ROP
  • Bagikan