PTBA Perluas Bisnis: Hilirisasi Batu Bara Jadi Material Baterai EV, Target 200 Ton Grafit per Bulan Setara 4.000 Mobil Listrik

  • Bagikan
Material hasil konversi — foto menampilkan botol sampel berisi bubuk graphite buatan dan Anode Sheet, memperjelas produk utama proyek ini. (PTBA.CO.ID)

SUMSELDAILY.CO.ID, Jakarta PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota holding BUMN pertambangan MIND ID, mengakselerasi transformasi bisnis melalui pengembangan hilirisasi batu bara menjadi material baterai kendaraan listrik (EV). Langkah ini menandai pergeseran strategis PTBA dari sekadar produsen batu bara menjadi pemain dalam industri energi terbarukan dan teknologi masa depan.

Proyek hilirisasi ini akan menghasilkan grafit buatan (artificial graphite) dan anode sheet, dua komponen utama dalam pembuatan baterai lithium-ion. Produk tersebut memiliki prospek cerah seiring pertumbuhan permintaan baterai global yang terus meningkat seiring masifnya adopsi kendaraan listrik di berbagai negara.

Pada tahap awal atau pilot project, PTBA menargetkan kapasitas produksi 200 ton grafit buatan per bulan dan 41,5 ton anode sheet per bulan. Jumlah ini setara dengan bahan baku untuk sekitar 4.000 unit mobil listrik per bulan (dengan asumsi kebutuhan grafit 50 kg per baterai EV), atau 48.000 unit per tahun. Dalam skenario efisiensi tinggi, angka ini bisa mencukupi hingga 10.000 mobil per bulan, sementara untuk baterai berkapasitas besar (100 kg grafit per unit), setara sekitar 2.000 mobil per bulan.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA, Venpri Sagara, menegaskan bahwa hilirisasi adalah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor batu bara mentah dan meningkatkan nilai tambah komoditas nasional.

“Dengan hilirisasi, kami tidak lagi hanya menjual batu bara mentah. PTBA akan menciptakan nilai tambah yang signifikan sekaligus memperluas pasar ke sektor energi baru dan teknologi ramah lingkungan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (29/8).

Ekosistem EV Nasional dan Peluang Pasar Global

Langkah PTBA sejalan dengan strategi pemerintah dalam mengakselerasi pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional. Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi salah satu pusat produksi baterai dunia, memanfaatkan potensi sumber daya mineral yang melimpah.

Baca Juga :   SKK Migas Berkomitmen Dorong Penerbitan Aturan Tata Kelola Sumur Minyak Masyarakat

Menurut data BloombergNEF, permintaan global untuk bahan baku baterai, termasuk grafit dan anode, akan tumbuh rata-rata 25 persen per tahun hingga 2030. Dengan cadangan batu bara yang besar dan teknologi hilirisasi yang terus berkembang, PTBA memiliki keunggulan kompetitif untuk memasuki pasar ini.

Analis energi dari Indonesia Energy Institute, Budi Santosa, menilai langkah PTBA tepat waktu.

“Permintaan grafit dan anode sheet akan meningkat tajam seiring penetrasi kendaraan listrik. PTBA berada di posisi strategis karena memiliki bahan baku, infrastruktur, dan dukungan pemerintah melalui regulasi hilirisasi,” kata Budi.

Transformasi PTBA: Dari Tambang ke Energi dan Material Canggih

Hilirisasi batu bara menjadi material baterai merupakan bagian dari roadmap transformasi PTBA menuju perusahaan energi dan kimia kelas dunia. Selain proyek grafit dan anode, PTBA juga mengembangkan gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) sebagai substitusi LPG, serta memperluas bisnis energi terbarukan melalui pembangunan PLTS 100 MWp di lahan pascatambang Ombilin.

“PTBA berkomitmen mendukung transisi energi dan kemandirian teknologi nasional. Hilirisasi bukan hanya bisnis baru, tetapi juga solusi masa depan yang memperkuat daya saing Indonesia di era elektrifikasi,” tegas Venpri.

Dengan langkah ini, PTBA menegaskan posisinya sebagai pionir transformasi industri batu bara Indonesia, memasuki pasar global bernilai miliaran dolar yang didorong oleh revolusi kendaraan listrik dan energi bersih.

 

  • Bagikan