SUMSELDAILY.CO.ID – Tidak ada bunyi saat mata mulai kering. Tidak ada alarm, tidak ada nyeri yang memaksa seseorang berhenti. Yang ada hanya rasa samar sepet sedikit, perih tipis, lelah yang datang lebih cepat dari seharusnya. Rasa-rasa kecil yang mudah disingkirkan oleh rutinitas.
Di kota besar, rasa tidak nyaman jarang diberi ruang. Ia dianggap bagian dari harga yang harus dibayar agar hari tetap berjalan.
Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari benar-benar naik, mata sudah bekerja. Layar ponsel dibuka. Pesan dibaca. Berita disapu. Mata belum sepenuhnya sadar, tetapi sudah dipaksa fokus. Ada yang terasa ganjil, tapi tak cukup penting untuk dihentikan.
Padahal, diam-diam, kota ini sedang mengalami sesuatu yang jauh dari sepele.
Data menunjukkan, 41 persen masyarakat di Jabodetabek dan Bandung mengalami mata kering. Angka itu berarti empat dari setiap sepuluh orang menjalani hari dengan mata yang tidak lagi bekerja optimal. Yang lebih sunyi dari angka itu: separuh dari mereka tidak menyadari sedang mengalaminya. (Sumber: Data Survey Insto)
Penyakit yang Tidak Pernah Meminta Izin
Mata kering bukan penyakit yang mencuri perhatian. Ia tidak menuntut cuti. Tidak memaksa seseorang berbaring. Ia justru ramah terhadap jadwal membiarkan penderitanya tetap produktif, sambil perlahan menggerogoti kenyamanan.
Dalam survei terhadap 710 responden usia 15 tahun ke atas, tercatat 20 persen mengalami mata kering tanpa kesadaran apa pun. (Sumber : Data Survey Insto)
Mereka tetap menatap layar berjam-jam, tetap menyelesaikan pekerjaan, tetap merasa “baik-baik saja”, meski mata mereka sebenarnya sedang kekurangan pelumas alami.
Sebagian dari mereka mencoba menolong diri sendiri, tetapi keliru. Tetes mata yang dipilih bukan untuk mata kering, melainkan tetes mata untuk iritasi ringan atau mata merah. Sebagian lainnya memilih diam tidak berbuat apa-apa seolah berharap mata bisa pulih sendiri.
Di titik ini, mata kering tak lagi sekadar urusan medis. Ia menjadi cermin dari cara kita memperlakukan tubuh: dipaksa patuh, jarang didengar.
Mereka yang Datang Setelah Terlalu Lama Bertahan
Di ruang praktik dokter mata, cerita yang sama berulang.
“Sebagian besar pasien mata kering datang ketika kondisinya sudah cukup parah,” kata Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, Dokter Spesialis Mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics. Gejala awal mata terasa sepet, perih, dan lelah sebenarnya telah muncul sejak lama, namun dianggap efek kurang tidur atau kelelahan biasa
Padahal, mata kering memiliki derajat dan penyebab yang berbeda-beda. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, kondisi ini berpotensi berkembang dan mengganggu kualitas hidup. Masalahnya, di kota besar, kesadaran sering kalah oleh kebiasaan bertahan.
Dalam masyarakat yang memuja daya tahan, rasa tidak nyaman kerap ditoleransi terlalu lama. Mata yang lelah dianggap konsekuensi kerja keras, bukan sinyal peringatan.
Normalisasi yang Pelan-Pelan Merusak
Pengalaman itu juga dialami Yuki Kato, figur publik yang lama mengira mata sepet dan perih sebagai hal sepele. Hingga keluhan tersebut mulai mengganggu konsentrasi dan pekerjaan, barulah ia menyadari bahwa yang dialaminya adalah gejala mata kering
Cerita itu terdengar sederhana, nyaris banal. Justru di situlah letak bahayanya. Ia mewakili jutaan orang lain pekerja, pelajar, jurnalis, hingga kreator digital yang hidup di bawah paparan layar, udara ber-AC, dan polusi, tanpa pernah benar-benar diajari cara menjaga kesehatan mata.
Dalam kota yang mengajarkan orang bertahan tanpa bertanya, rasa sakit tidak lagi diperlakukan sebagai tanda bahaya, melainkan sebagai kebiasaan.
Upaya Menginterupsi Kebiasaan yang Terlanjur Normal
Berangkat dari kondisi tersebut, INSTO dari Combiphar meluncurkan kampanye “Bebas Mata SePeLe” sebuah upaya mengganggu kebiasaan lama: menganggap mata SEpet, PErih, dan LElah sebagai sesuatu yang wajar dan tak perlu ditangani
Alih-alih berbicara tentang penyakit, kampanye ini memilih menamai pengalaman sehari-hari yang sering diabaikan. Melalui pemeriksaan mata kering gratis dan ruang edukasi interaktif di berbagai kota, masyarakat diajak berhenti sejenak, lalu mengenali apa yang sebenarnya terjadi pada mata mereka.
Langkah ini menjadi relevan ketika data menunjukkan bahwa bahkan mereka yang sudah sadar mengalami mata kering pun masih kerap salah memilih penanganan atau tidak melakukan tindakan apa pun.
Tentang Ketepatan, Bukan Sekadar Tetes
Dalam penanganan mata kering, ketepatan menjadi kunci. Salah satu pendekatan awal yang direkomendasikan adalah penggunaan artificial tears yang sesuai dengan kondisi mata kering.
INSTO Dry Eyes menjadi salah satu pilihan yang diformulasikan khusus untuk kondisi tersebut, dengan kandungan Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) pelumas yang bekerja menyerupai air mata dan telah diajukan sebagai bagian dari panduan terapi mata kering oleh International Council of Ophthalmology ke Organisasi Kesehatan Dunia
Namun, solusi apa pun akan kehilangan makna jika gejalanya terus diabaikan. Yang paling dibutuhkan bukan hanya produk, melainkan kesediaan untuk mengenali sinyal kecil sebelum ia berkembang menjadi masalah besar.
Kota yang Terus Menatap, Jarang Berkedip
Mata adalah organ yang paling setia. Ia bekerja paling awal dan paling lama, tetapi sering menjadi yang terakhir diperhatikan. Di kota besar, kesetiaan itu kerap disalahartikan sebagai ketahanan tanpa batas.
Epidemi mata kering mengingatkan kita pada satu hal penting:
yang paling berbahaya bukanlah penyakit yang datang tiba-tiba, melainkan rasa sakit yang dibiarkan menjadi kebiasaan.
Mungkin, di tengah kota yang terlalu lama menatap, menjaga mata bukan soal teknologi atau kecepatan hidup. Ia tentang keberanian kecil untuk berhenti, berkedip, dan mendengarkan tubuh sendiri sebelum semuanya benar-benar lelah.














