SUMSELDAILY.CO.ID, PALEMBANG – Kota Palembang kembali menjadi sorotan dalam upaya penanggulangan penyakit dengue di Indonesia. Kali ini, melalui peresmian program pemantauan aktif vaksinasi dengue yang menempatkan Palembang sebagai salah satu daerah prioritas dengan beban kasus tinggi di Sumatera Selatan.
Program ini merupakan kelanjutan dari peluncuran nasional di Jakarta dan kini diperluas ke daerah, hasil kolaborasi antara Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan Kota Palembang, serta Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru menegaskan bahwa pendekatan pengendalian dengue harus dilakukan secara berkelanjutan dan berbasis kolaborasi lintas sektor. Ia menilai, langkah ini menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem kesehatan daerah sekaligus menjawab tantangan jangka panjang.
“Dengue bukan lagi persoalan musiman, tetapi tantangan kesehatan yang harus ditangani secara terencana. Upaya ini juga menjadi bagian dari target menuju nol kematian akibat dengue pada 2030,” ujarnya di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Rabu (18/02/2026).
Data Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025 terdapat 4.437 kasus dengue di Sumatera Selatan dengan 22 kematian.
Palembang menjadi penyumbang kasus tertinggi, yakni 968 kasus dan tiga kematian. Kondisi ini menegaskan pentingnya intervensi yang lebih komprehensif, terutama bagi kelompok rentan seperti anak usia sekolah.
Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, dr. H. Trisnawarman, menekankan bahwa pendekatan konvensional seperti 3M Plus, edukasi lingkungan, serta peran juru pemantau jentik tetap menjadi fondasi utama. Namun, inovasi seperti vaksinasi dinilai penting untuk melengkapi strategi tersebut.
Sementara itu, Ketua Pelaksana program, dr. Ariesti Karmila, menjelaskan bahwa pemantauan aktif di Palembang akan menjangkau 7.500 anak di 60 sekolah dasar yang tersebar di 10 wilayah puskesmas dengan angka kasus tinggi. Dari jumlah tersebut, sekitar 5.000 anak akan mendapatkan vaksinasi dengue.
“Program ini tidak hanya fokus pada vaksinasi, tetapi juga pemantauan kesehatan jangka panjang untuk memperoleh gambaran komprehensif terkait pencegahan dengue,” jelasnya.
Dari sisi akademik, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Prof. Mgs. Irsan Saleh, menyebut program ini sebagai bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Selain memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, kegiatan ini juga menghasilkan data ilmiah yang dapat menjadi dasar kebijakan kesehatan ke depan.
Program ini juga merupakan bagian dari studi multinegara yang melibatkan negara seperti Thailand dan Malaysia serta dilaksanakan di tiga kota di Indonesia, yakni Jakarta, Palembang, dan Banjarmasin.
Penanggung jawab nasional kegiatan ini, Prof. Sri Rezeki Hadinegoro, menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dalam memperkuat strategi pencegahan. Ia juga menyebut bahwa vaksinasi dengue telah diterapkan di sejumlah daerah lain sebagai inisiatif pemerintah daerah.
Dukungan sektor swasta turut hadir melalui Tekade Innovative Macines yang berkomitmen memperkuat kolaborasi berbasis sains dalam menghadapi dengue.
Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta, Palembang diharapkan dapat menjadi model pengendalian dengue berbasis inovasi, sekaligus memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan menuju target “zero dengue death” pada 2030.














