Musi yang Berubah Haluan: Revolusi Senyap Pusri Menjaga Pangan Sumbagsel dan Indonesia

  • Bagikan
Ilustrasi (ROP)

Pagi ketika Musi Menyimpan Rahasia Baru

SUMSELDAILY.CO.ID, PALEMBANG, 11 Oktober 2025 – Kabut tipis naik perlahan dari permukaan Sungai Musi, seperti tirai yang dibuka pelan-pelan sebelum pertunjukan besar dimulai. Di balik kabut itu, siluet pipa dan menara pendingin Kompleks PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) tampak biru keperakan diterpa matahari pagi.

Dulu, tempat ini lebih dikenal dengan aroma amonia, ritme mesin tua, dan buku catatan tebal para operator. Namun kini, layar-layar digital menyala seperti gugus bintang: berdenyut, mengirim peringatan, memantau stok, hingga menentukan jalur distribusi terbaik menuju ribuan hektare sawah.

Musi masih mengalir seperti biasa. Tapi cara Pusri menjaga pangan Sumbagsel dan Indonesia sudah berubah total.

Dan perubahan itu paling terasa ketika sawah-sawah di Pampangan hampir kehilangan musim tanamnya.

 

Ketika Tanah Rawa Menagih Kepastian

Di Desa Air Pedara, Pampangan, OKI, Imron Saman (52) masih mengingat betul hari ketika banjir pasang memutus akses darat. Jalan lumpur berubah seperti kolam, dan truk pupuk tak bisa masuk.

“Kalau pupuk mundur tiga hari saja, panen bisa hancur sebulan,” ujarnya sambil menunjuk petak sawah yang baru ia tanami.

Namun hari itu berbeda. Ketua kelompok tani mengirim tangkapan layar dari aplikasi RMS: stok kios ada, dan pengiriman dialihkan lewat sungai.

Imron semula tak percaya. Tapi sore itu, ketek bermuatan karung putih benar-benar merapat di tepi desa.

“Aku tertegun. Pusri pakai jalur Musi waktu darat putus. Itu pertama kali saya merasa teknologi benar-benar berpihak ke petani,” kata Imron.

Di balik kejadian itu, DPCS (Distribution Planning & Control System) milik Pupuk Indonesia mendeteksi penurunan stok lebih cepat daripada laporan manual. Sistem otomatis memberi alarm kepada tim distribusi, dan jalur sungai dipilih sebagai rute darurat.

 

Teknologi menjadi penyelamat musim tanam.

Dari Deru Mesin ke Denyut Data: Lahirnya Pabrik Generasi Baru

Di kawasan Sei Selayur, berdiri raksasa industri yang menjadi lompatan besar Pusri: Pabrik Pusri III-B, produk transformasi industri pupuk nasional menuju era low energy dan otomasi penuh.

Baca Juga :   Pusri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional lewat Distribusi Digital dan Pabrik Efisiensi Energi

Di ruang kendalinya yang bercahaya terang, operator muda memantau grafik tekanan, suhu reaktor, aliran amonia, dan konsumsi gas. Deru mesin yang dulu dominan kini digantikan suara halus pendingin ruangan.

Kapasitas Pusri III-B:

1.350 ton amonia per hari (± 445.500 ton/tahun)

2.750 ton urea per hari (± 907.500 ton/tahun)

Sementara Pabrik Pusri 2B tetap menjadi tulang punggung dengan kapasitas produksi ± 907.000 ton urea per tahun.

Daconi Khotob, Direktur Utama PT Pusri Palembang, menegaskan:

“Kami tidak sekadar memperbarui pabrik, kami membangun generasi baru industri pupuk Indonesia. Efisiensi energi dan digitalisasi adalah pondasi kami memastikan suplai pupuk untuk Sumsel dan Sumbagsel tetap aman dalam jangka panjang.”

Transformasi ini bukan hanya soal mesin. Ini tentang masa depan kedaulatan pangan Indonesia.

 

Transparansi dari Gudang hingga Pematang Sawah

Dulu, isu distribusi pupuk kerap memicu keresahan. Kini, Pusri menerapkan sistem digital terpadu yang membuat arus pupuk bisa dilacak layaknya paket ekspedisi.

Tiga teknologi utamanya:

DPCS – memantau alur stok dari kapal, truk, gudang, hingga kios.

RMS (Retail Management System) – mencatat setiap penebusan oleh petani.

Dashboard real-time – memetakan lonjakan permintaan dan risiko kekurangan stok.

Hasilnya: 95% kios resmi Sumsel sudah terhubung digital.

Asep Rahman, pengelola kios di Tulung Selapan, merasakan perubahan besar:

“Dulu saya sering dicurigai menimbun. Sekarang semua terekam. Data yang bicara. Hubungan kami dengan petani jauh lebih sehat.”

Transparansi bukan hanya menghilangkan kecurigaan—ia menciptakan ekosistem yang adil.

Ilustrasi (ROP)

Menanam Sains, Memanen Kepastian: MAKMUR dan Revolusi Pendampingan

Di lahan rawa Banyuasin, agronomis Pusri, Wahyu Agustian, membawa alat uji tanah portabel. Hasilnya: nitrogen rendah, kalium kurang.

“Jangan kebanyakan pupuk. Pemupukan itu presisi, bukan tebak-tebakan,” ujarnya kepada petani yang mengelilinginya.

Melalui Program MAKMUR (Mari Kita Majukan Usaha Rakyat), Pusri memberikan:

rekomendasi dosis berbasis uji tanah,

pemantauan pertumbuhan tanaman,

Baca Juga :   Pemkab Muba Dorong Pembentukan PPID Tingkat Desa, Sekolah dan BUMD

pendampingan pemupukan presisi,

digital tracking hasil panen.

Di Telang Rejo, pendampingan dua musim meningkatkan produktivitas 18,3%.

Kepala Dinas Pertanian Sumsel, Dr. Ir. H. R. Bambang Pramono, menguatkan:

“Stabilnya pasokan pupuk Pusri dan pemupukan presisi melalui MAKMUR adalah faktor penting mengapa Sumsel mampu mempertahankan surplus beras lebih dari 600 ribu ton dua tahun terakhir.”

Dari rawa-rawa Sumbagsel, sains bekerja diam-diam menjaga perut bangsa.

 

Industri yang Tak Lagi Mengorbankan Bumi

Di luar pabrik, panel-panel surya memantulkan cahaya pagi simbol komitmen baru Pusri pada energi bersih. Revamping pabrik menekan konsumsi gas. Sensor digital mencatat emisi lebih akurat. Area hijau di lingkar pabrik diperluas.

Langkah-langkah keberlanjutan itu menyatu dalam strategi jangka panjang Pusri dan Pupuk Indonesia menuju clean ammonia, calon energi masa depan rendah karbon.

Daconi menegaskan kembali:

“Tidak ada masa depan pangan tanpa masa depan lingkungan. Industri pupuk harus tumbuh tanpa mengorbankan bumi tempat petani menanam kehidupan.”

Pabrik pupuk kini bukan hanya pusat produksi, melainkan pusat inovasi energi bersih.

Konteks Nasional: Pupuk Indonesia dan Pangan Berdaulat

Indonesia membutuhkan 6,5–7 juta ton urea per tahun untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional. Dari kebutuhan itu, Holding Pupuk Indonesia memasok lebih dari 90% pasokan domestik, dengan total produksi urea tahun 2024 mencapai 8,3 juta ton.

Dari porsi tersebut, Pusri Palembang memegang peran vital bagi kawasan Sumatera Bagian Selatan, yang mencakup lima provinsi: Sumsel, Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Bangka Belitung, dengan kontribusi rata-rata 15–18% dari total distribusi nasional.

Secara nasional, digitalisasi distribusi yang diinisiasi Pupuk Indonesia melalui DPCS dan RMS telah mencakup lebih dari 42 juta petani terdaftar dan lebih dari 25 ribu kios resmi di seluruh Indonesia.

Sejak 2022–2024, Holding Pupuk Indonesia juga mencatat peningkatan efisiensi energi lintas pabrik sebesar 12–18%, dan program pemupukan presisi (MAKMUR) telah menjangkau lebih dari 250 ribu hektare lahan di berbagai daerah, dengan rata-rata peningkatan produktivitas 10–20%.

Baca Juga :   Wujud Kemitraan, Polres Prabumulih Cek Kesehatan dan Bagi Vitamin pada Awak Media

Semua data ini menempatkan transformasi Pusri bukan hanya sebagai perubahan lokal di Sumbagsel, namun bagian dari strategi besar nasional menjaga kedaulatan pangan Indonesia.

 

Kutipan Akademisi dan Data Stok Nasional

Untuk memberikan perspektif yang lebih luas, akademisi pangan nasional turut menegaskan pentingnya transformasi industri pupuk terhadap ketahanan pangan Indonesia.

Prof. Dr. Ir. Suryana, pakar kebijakan pangan dari IPB University, menyatakan:

“Stabilitas pupuk adalah titik awal stabilitas pangan. Tanpa distribusi dan produksi pupuk yang terjaga, kita tidak hanya menghadapi penurunan produksi, tetapi juga hilangnya kepercayaan petani. Transformasi digital dan efisiensi energi yang dilakukan Pusri serta Pupuk Indonesia adalah fondasi nyata menuju kedaulatan pangan.”

Sementara itu, data stok nasional Pupuk Indonesia pada 2024 menunjukkan kesiapan yang kuat menghadapi musim tanam:

Stok urea subsidi nasional: ± 1,42 juta ton (di atas ketentuan minimal 1,2 juta ton)

Stok NPK subsidi nasional: ± 650 ribu ton

Stok urea nonsubsidi: ± 380 ribu ton

Stok NPK nonsubsidi: ± 210 ribu ton

Dengan stok yang berada di atas ketentuan pemerintah dan didukung sistem distribusi digital terintegrasi, Indonesia berada pada posisi yang lebih siap menghadapi tantangan pangan global.

Ilustrasi (ROP)

Dari Musi, Pangan Indonesia Mengalir

Dari layar gawai petani di Pampangan, dari logistik yang menembus rawa, dari ruang kendali berpendingin data, dari kios yang kini jujur dan transparan mengalir sebuah perubahan senyap.

Perubahan yang tidak heboh, tapi menentukan.

Transformasi Pusri bukan hanya menghasilkan pupuk:

Ia menghasilkan kepastian musim tanam.

Ia membangun kepercayaan antara pabrik, kios, petani.

Ia menguatkan ketahanan pangan Sumbagsel.

Ia menyambung visi besar Indonesia menuju kedaulatan pangan.

Seperti Sungai Musi yang tak pernah berhenti bergerak, transformasi ini terus mengalir melewati pipa, layar digital, jalur logistik, hingga berakhir pada sepiring nasi di meja jutaan keluarga.

Inilah revolusi senyap dari Palembang. Revolusi data, energi, dan kepastian. Revolusi yang menjaga masa depan pangan Indonesia.

  • Bagikan