Menjaga Jejak Kayu dan Pasak: Pameran Arsitektur Tradisional Sumatera Selatan di Tengah Zaman Beton

  • Bagikan
Oplus_131072

SUMSELDAILY.CO.ID, PALEMBANG – Di tengah hiruk-pikuk bangunan modern yang menjulang di Palembang, sekelompok arsitek, budayawan, dan mahasiswa bersepakat untuk kembali menengok akar: rumah-rumah kayu yang berdiri di atas tiang, berdinding papan, dan berpaku pasak warisan para leluhur Sumatera Selatan.

Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI Sumatera Selatan kembali menggelar pameran kebudayaan tahunan, kali ini bertema “Arsitektur Tradisional Sumatera Selatan”, pada 7–9 November 2025 di OPI Mall Palembang.

Setelah sempat bergeser dari jadwal biasanya di bulan Agustus, pameran ini tetap konsisten menjadi ruang belajar publik tentang warisan budaya yang kian tergerus zaman.

“Setiap tahun kami berusaha menghadirkan wajah berbeda dari kekayaan budaya Sumatera Selatan,” ujar Kristianto Januardi, Kepala BPK Wilayah VI.

“Kalau tahun lalu kami angkat tema kuliner ‘warisan rasa’, tahun ini kami ingin masyarakat mengenal dan mewarisi pengetahuan tentang arsitektur tradisional. Ini bagian dari upaya menjaga eksistensi rumah adat agar tak hilang ditelan modernisasi.”

Rumah yang Bercerita

Dalam pameran ini, sembilan miniatur rumah tradisional dihadirkan untuk mewakili kekayaan arsitektur lintas suku di Sumatera Selatan.

Ada Rumah Limas khas Palembang yang megah, Rumah Gudang di tepian Sungai Musi, Ghumah Baghi milik Suku Basemah, Lamban Tua dari Suku Ranau, Rumah Ulu Ogan, Rumah Ulu Musi, serta Lamban Puhak dan beberapa varian rumah panggung dari Musi Banyuasin dan Ogan Ilir.

Setiap rumah bukan sekadar bentuk fisik, melainkan simbol pengetahuan dan filosofi hidup masyarakat adat.

“Filosofi yang kami angkat adalah Sambayan Ramin—semangat gotong royong dalam membangun,” jelas Dedy Afrianto, dari BPK Wilayah VI.

“Dulu rumah-rumah tradisional dibangun tanpa tukang berbayar. Semua warga ikut bergotong royong, mulai dari menebang pohon, memahat, hingga memasang struktur kayu. Bahkan banyak rumah disusun tanpa paku, hanya dengan pasak dan ikatan.”

Baca Juga :   Gubernur Sumsel Jumpai Para Buruh di DPRD Sumsel

Jejak Penelitian yang Panjang

Pameran ini juga menjadi puncak dari kerja panjang riset yang dilakukan oleh Iwan Muraman Ibnu, dosen Arsitektur Universitas Sriwijaya (Unsri). Ia bersama tim mahasiswa telah meneliti rumah-rumah tradisional sejak tahun 2003, dan secara intensif sejak 2014.

“Kami melakukan pendataan, penggambaran ulang, hingga pembuatan animasi dari rumah-rumah tradisional,” kata Iwan.

“Pameran ini adalah muara dari kerja panjang kami, hasil kolaborasi antara kampus dan BPK Wilayah VI. Tujuannya sederhana: agar masyarakat tahu bahwa arsitektur tradisional bukan milik masa lalu, tapi fondasi masa depan.”

Menurutnya, sembilan rumah yang ditampilkan hanyalah potongan kecil dari kekayaan arsitektur Sumatera Selatan. “Enam rumah rakyat dan tiga rumah bangsawan kami tampilkan untuk menunjukkan bagaimana keragaman sosial-budaya berwujud dalam desain arsitektur,” ujarnya.

Iwan menegaskan bahwa rumah tradisional tidak bisa dipahami lewat batas administratif, melainkan batas budaya dan suku.

“Suku Semende, Basemah, Ranau, dan Ogan memiliki identitas arsitektur yang kuat. Mereka membangun bukan hanya dengan kayu, tapi dengan filosofi dan adat.”

Inspirasi untuk Masa Kini

Selain pameran maket dan foto, BPK Wilayah VI juga menyiapkan mahasiswa arsitektur sebagai pemandu (guide) yang akan menjelaskan konsep, struktur, dan filosofi setiap rumah kepada pengunjung.

Rangkaian kegiatan pameran mencakup dialog budaya bersama peneliti rumah tradisional Adisyuswanto, lomba sketsa on the spot, serta kelas pengenalan rumah tradisional untuk anak-anak.

“Dengan cara ini, generasi muda bisa mengenal detail dan karakter rumah adat sejak dini,” ujar Iwan. “Jangan sampai kemampuan membangun rumah tradisional hilang di masa kita.”

Kristianto menambahkan, arsitektur tradisional justru bisa menjadi inspirasi bagi pembangunan modern.

“Banyak bandara dan gedung modern di Indonesia terinspirasi dari rumah adat—baik dari bentuk atap, sistem ventilasi, maupun filosofinya. Itulah yang membedakan arsitektur kita dari yang lain: punya jiwa, bukan hanya gaya,” ujarnya.

Baca Juga :   Soal Pembatalan Ijazah, Ini Kata Rektor UKB!

Seni, Musik, dan Ingatan Kolektif

Untuk memperkaya suasana, pameran juga menghadirkan pertunjukan kesenian seperti wayang Palembang yang jarang dipentaskan, teater rakyat, Pagai Cangcang, Pagai Roki, serta grup musik tradisional dari berbagai daerah di Sumatera Selatan.

“Semua bisa dinikmati gratis. Kami ingin masyarakat datang bukan hanya menonton, tapi merasakan,” kata Dedy Afrianto. “Melalui pameran ini, kami ingin menumbuhkan kembali rasa bangga terhadap warisan budaya sendiri.”

Menjaga dari Kita Sendiri

Bagi Iwan, pameran ini juga menjadi bentuk refleksi.

“Dulu, ironisnya, kami belajar arsitektur tradisional Indonesia dari penelitian orang luar—Jepang, Jerman, Belanda. Mereka lebih dulu meneliti rumah-rumah kita,” ujarnya.

“Sekarang saatnya kita mengenali diri sendiri. Kita yang meneliti, mendokumentasikan, dan mewariskan. Itu yang kami perjuangkan.”

Ia berharap ke depan, hasil penelitian dan dokumentasi rumah tradisional bisa menjadi database nasional arsitektur Nusantara.

“Kalau ada masyarakat yang ingin membangun rumah tradisional seperti Lamban Tua atau Rumah Ulu, kami siap memberikan desainnya secara gratis,” katanya tersenyum. “Yang penting pengetahuan ini tidak hilang.”

Arsitektur yang Tak Sekadar Bentuk

Melalui pameran ini, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI ingin menegaskan bahwa arsitektur tradisional bukan sekadar bentuk fisik atau estetika, melainkan cerminan peradaban dan karakter masyarakat.

“Arsitektur tradisional mengajarkan kita tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya,” kata Kristianto Januardi. “Dan tugas kita hari ini bukan sekadar melestarikan bentuknya, tetapi menumbuhkan semangat gotong royong dan kearifan di baliknya.”

Di tengah dunia modern yang serba instan, semangat Sambayan Ramin menjadi pengingat: membangun bukan hanya dengan tangan, tapi dengan hati, kebersamaan, dan cinta pada warisan sendiri.

Fakta Kegiatan

Judul: Pameran Arsitektur Tradisional Sumatera Selatan

Baca Juga :   KPJ Palembang Sukses Gelar Acara Bertajuk "Kembali Pulang"

Tanggal: 7–9 November 2025

Tempat: OPI Mall Palembang

Penyelenggara: Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI Sumatera Selatan

Kolaborator: Universitas Sriwijaya

  • Bagikan