Menakar Arus Dukungan Relawan yang Bergeser

  • Bagikan

Oleh : Adi Rasmiadi

FENOMENA peralihan dukungan relawan dalam pesta demokrasi seharusnya bukan hal baru. Namun, ketika arusnya bergerak dengan cukup masif, itu lebih dari sekadar dinamika politik yang biasa. Di beberapa daerah, termasuk di antara relawan calon kepala daerah, gejala ini menjadi tanda tanya besar: mengapa para pendukung setia, mereka yang biasanya berdiri di garis depan, justru memilih berpaling ke arah lain?

Sebagai poros pertama, relawan kerap menjadi jembatan antara calon dengan lapisan masyarakat. Mereka adalah agen yang tidak hanya berperan menyampaikan visi-misi kandidat, tetapi juga menyerap berbagai aspirasi dari masyarakat akar rumput. Ironisnya, pada beberapa kandidat, para relawan ini justru merasa semakin sulit untuk dapat menyampaikan suara masyarakat kepada sang calon kepala daerah. Masalah utama, menurut banyak laporan dari arus bawah, adalah peliknya sang calon untuk ditemui, bahkan oleh relawannya sendiri. Tidak sedikit yang mengaku, akses langsung kepada calon menjadi semakin terbatas karena adanya “lingkar utama” yang terkesan eksklusif dan berfungsi sebagai “filter” yang ketat.

Lingkar utama atau inner circle dalam sebuah kampanye seharusnya memainkan peran strategis. Mereka seharusnya menjadi fasilitator, bukan malah menjadi dinding pemisah. Namun, beberapa relawan justru merasa bahwa inner circle ini kerap “mematikan” suara mereka, termasuk berbagai program atau masukan yang mereka sampaikan. Usulan dari relawan yang langsung berhadapan dengan masyarakat sering kali dianggap kurang relevan atau bahkan diabaikan.

Perasaan terpinggirkan ini perlahan-lahan memicu kekecewaan di kalangan relawan. Mereka, yang awalnya berjuang atas nama idealisme atau kepercayaan pada visi calon, merasa seolah suara mereka tak lagi penting. Pada akhirnya, hal ini mengakibatkan pergeseran sikap, bahkan peralihan dukungan ke calon lainnya yang mungkin lebih terbuka dan memberi ruang bagi suara mereka. Bukankah hal ini mengirimkan sinyal jelas tentang betapa pentingnya aksesibilitas dan sikap inklusif dari seorang kandidat kepala daerah?

Baca Juga :   Kolaborasi Kuatkan Sektor Perdagangan Produk UMKM, Menkop dan UMKM Teten Masduki Apresiasi Herman Deru dan Ridwan Kamil

Keberpihakan relawan merupakan cerminan dari bagaimana seorang calon kepala daerah diterima oleh publik. Ketika banyak relawan mengalihkan dukungan, ini bukan hanya tentang berkurangnya jumlah penggerak di lapangan, melainkan juga potret dari kekecewaan yang sedang membesar di antara pendukung. Bagi calon yang bersangkutan, hal ini menjadi kerugian besar. Pasalnya, relawan sering kali bekerja tanpa pamrih, digerakkan oleh kepercayaan pada figur yang didukung. Jika kepercayaan itu mulai pudar, mereka yang masih bertahan mungkin tak lagi bekerja dengan semangat penuh, bahkan bisa jadi hanya tinggal menunggu momen untuk mengundurkan diri.

Kita juga perlu mempertanyakan dampak dari strategi kampanye yang dikelola secara eksklusif oleh inner circle. Apakah lingkaran dekat ini sadar bahwa pengabaian suara relawan bisa memicu efek bola salju yang merugikan? Lebih jauh, apakah mereka mempertimbangkan bahwa setiap relawan yang berpindah dukungan juga membawa narasi ketidakpuasan yang dapat merembet ke lingkungan di sekitarnya?

Bagi kandidat yang bertarung di medan Pilkada, aksesibilitas adalah kunci untuk menumbuhkan rasa keterhubungan antara mereka dengan rakyat. Jika calon terlalu sulit dijangkau oleh relawan, bahkan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, maka kesan yang terbentuk adalah sikap antusiasme hanya terlihat dari permukaan. Publik tentu ingin melihat calon pemimpin yang benar-benar mendengarkan mereka dan tidak hanya terisolasi di menara gading, dikelilingi oleh sekumpulan “penasihat” yang memfilter segala bentuk komunikasi.

Membangun sinergi dengan relawan bukan sekadar taktik kampanye, tetapi merupakan esensi dari pelayanan publik yang seharusnya dimiliki oleh seorang calon pemimpin. Lingkar utama boleh saja ada untuk menata strategi, tetapi suara relawan tidak boleh diabaikan. Mereka bukan sekadar penonton yang diam, melainkan pelaku aktif yang memiliki hak untuk bersuara.

Baca Juga :   Ketua PMI Palembang Apresiasi PLN Mobile Color Run 2025

Dalam kontestasi Pilkada, semua faktor adalah krusial, termasuk relawan. Mereka adalah wajah dan penggerak utama yang tak jarang lebih dipercaya oleh masyarakat daripada kandidat itu sendiri. Relawan, pada akhirnya, adalah cerminan dari kepercayaan masyarakat.

Jika seorang calon tidak dapat mempertahankan dukungan dari para relawannya sendiri, lantas bagaimana masyarakat dapat yakin bahwa ia mampu mempertahankan aspirasi rakyat ketika terpilih kelak?

  • Bagikan