Oleh: Adhie Rasmiadi (Leader WCD OKI/Pembina WCD Sumsel)
SUMSELDAILY.CO.ID, OKI – OGAN KOMERING ILIR (OKI) dikenal sebagai daerah dengan keindahan alam yang memikat dan potensi sumber daya alam yang melimpah. Namun, di balik keindahan tersebut, masalah serius mengintai: pengelolaan sampah yang buruk dan semakin mengancam lingkungan serta kehidupan masyarakat. Tumpukan sampah di pinggir jalan, sungai yang mulai tercemar, hingga aroma tidak sedap dari sampah yang dibiarkan menumpuk—semua ini bukan hanya masalah estetika, tetapi juga ancaman bagi kesehatan kita dan anak-anak kita di masa depan.
Apakah kita ingin membiarkan anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat? Apakah kita akan terus menutup mata saat limbah plastik menghancurkan ekosistem sungai dan lautan kita? Inilah saatnya kita sadar bahwa pengelolaan sampah bukan lagi masalah kecil. Dengan kepemimpinan baru di depan mata, ada harapan besar bahwa perubahan nyata bisa dilakukan untuk memastikan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan layak huni bagi kita semua.
Salah satu masalah utama di OKI adalah minimnya infrastruktur untuk mengelola sampah dengan benar. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ada belum dilengkapi teknologi yang memadai, dan kebiasaan membakar sampah masih dilakukan. Akibatnya, polusi udara meningkat dan lingkungan semakin rusak. Jika masalah ini tidak segera ditangani, limbah yang kita hasilkan setiap hari hanya akan semakin menumpuk dan menjadi bom waktu bagi kesehatan masyarakat.
Namun, perubahan itu bisa terjadi—dan kita semua bisa berperan. Masyarakat OKI tidak boleh hanya bergantung pada pemerintah. Kita bisa mulai dari langkah-langkah sederhana: memilah sampah di rumah, mendaur ulang bahan yang bisa digunakan kembali, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Langkah kecil ini, jika dilakukan oleh seluruh masyarakat, akan membawa perubahan besar.
Pemerintah daerah, bersama pemimpin baru, harus lebih serius dalam menangani krisis sampah ini. Mereka perlu berinvestasi dalam program edukasi lingkungan yang melibatkan sekolah, komunitas, dan sektor usaha. Bayangkan jika seluruh warga OKI bersatu dalam gerakan “Zero Waste”! Setiap orang memilah sampah, mendaur ulang, dan menjaga kebersihan lingkungan. Dalam waktu singkat, kita bisa melihat sungai kita bersih kembali, jalan-jalan bebas dari sampah, dan udara yang lebih segar untuk dihirup.
Tapi tentunya, peran pemerintah tetap sangat vital. Pemimpin baru harus berani mencanangkan kebijakan yang lebih tegas dan berpihak pada lingkungan. Zero Waste bukan sekadar slogan, melainkan sebuah gerakan yang bisa menjadi solusi jangka panjang. Pemimpin yang peduli akan masa depan pasti tidak ragu untuk berinvestasi dalam infrastruktur pengelolaan sampah, membangun tempat pengolahan daur ulang yang memadai, serta mendorong inovasi dalam industri ramah lingkungan.
Tidak hanya itu, kepemimpinan baru juga harus bisa memfasilitasi industri lokal untuk bertanggung jawab atas limbah mereka sendiri. Extended Producer Responsibility (EPR) bisa menjadi salah satu pendekatan, di mana produsen turut bertanggung jawab atas sampah dari produk yang mereka hasilkan. Dengan cara ini, beban lingkungan dapat dikurangi, sekaligus mendorong inovasi dalam menciptakan produk yang lebih ramah lingkungan.
Sebagai masyarakat OKI, kita semua memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Pemimpin baru harus hadir sebagai garda terdepan dalam menciptakan perubahan. Tanpa kebijakan yang tepat, kolaborasi yang kuat, dan partisipasi aktif dari seluruh warga, masalah sampah ini tidak akan pernah selesai. Ini bukan lagi saatnya untuk menunda. Masa depan kita dan generasi mendatang bergantung pada tindakan kita hari ini.(*)














