Gelar Kesenian Tradisi Tiban, Begini Harapan Ketua BKN PDI Perjuangan Tulungagung

  • Bagikan

SUMSELDAILY.CO.ID, TULUNGAGUNG Ketua Badan Kebudayaan Nasional Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Tulungagung, Hj. Binti Luklukah, SM., menyebut melestarikan budaya leluhur merupakan kewajiban generasi muda dalam merawat dan memelihara sejarah dan tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

Anggota Komisi A DPRD Tulungagung dari Fraksi PDI Perjuangan mengatakan nguri-nguri budaya itu sebenarnya seperti yang disampaikan oleh the founding fathers Bung Karno selalu mengingat akan jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Hal ini dikatakan pada saat memberikan sambutan dalam gelaran kesenian Tiban dan festival sholawat di lapangan Desa Pojok Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

“Kita gelar kesenian Tiban dan festival sholawat ini dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila pada 1 Juni lalu,” kata Binti.

“Nguri-nguri budaya merupakan kearifan lokal selalu kita jaga bersama sebagai generasi muda penerus bangsa,” imbuhnya.

Legislator PDI Perjuangan Dapil 1 Kabupaten Tulungagung menambahkan seni tradisi tiban atau lebih akrab sebutan tari tiban ini merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat sebagai upaya mendatangkan hujan.

Pagelaran seni tiban ini biasanya dilakukan pada saat musim kemarau, sebagai upaya meminta datangnya hujan.

“Seni tari tiban itu sendiri berasal dari Desa Wajak Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung,” tambahnya.

“Seiring berjalannya waktu, ritual tiban ini berkembang di pesisir selatan Jawa Timur diantaranya Trenggalek, Blitar, hingga Kediri,” sambungnya.

“Ritual tiban dilakukan dalam bentuk adu kekuatan antara dua kelompok yang masing-masing membawa senjata berupa cambuk dari lidi daun aren,” kata Binti menambahkan.

Lebih lanjut Dia menjelaskan seni tiban itu sebenarnya berasal dari bahasa Jawa yakni dari kata tiba artinya jatuh, atau sesuatu yang secara tiba-tiba jatuh.

Bicara dalam konteks tiban adapun dimaksud dengan tiba-tiba jatuh tersebut sebenarnya upaya dari ritual tiban dalam rangka mendatangkan hujan.

Baca Juga :   Dorong Wartawan, Ini Tampang Oknum Humas Menteri ATR

“Kita berharap dengan melestarikan seni ritual tiban ini sebagai upaya memperkuat tali silaturahmi antar masyarakat di Tulungagung sekaligus memupuk rasa persatuan dan kesatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung Sodik Purnomo menuturkan melestarikan seni tradisi tiban merupakan salah upaya menjaga menjaga budaya. Dan menjaga budaya adalah bagian menjaga bhineka tunggal ika.

“Hal ini seperti tertuang dalam isi Tri Sakti Bung Karno adalah kemandirian dalam bidang budaya, maka melestarikan budaya bangsa adalah bagian dari menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila,” tuturnya.

Selain itu, dalam era derasnya pengaruh budaya luar yg lambat laun akan mengikis budaya tradisional, menjadi hal penting untuk selalu menjaga nilai-nilai luhur budaya bangsa agar tidak terpengaruh dengan budaya global yang masuk.

  • Bagikan