ESG dalam Aksi: Martabe Mencari Titik Temu antara Emas, Hutan, dan Hidup Warga

  • Bagikan

Kabut, Hutan, dan Detak Tambang

SUMSDELDAILY.CO.ID, TAPANULI – Kabut tipis masih menggantung di sela mahoni dan meranti ketika suara alat berat dari kejauhan terdengar—ritmis, seperti detak jam raksasa. Inilah Batangtoru, bentang alam yang tak hanya menyimpan emas, tapi juga rumah terakhir orangutan Tapanuli, spesies kera besar paling langka di muka bumi.

Di tempat inilah PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, harus menjawab satu pertanyaan besar: bisakah emas digali tanpa merampas masa depan air, hutan, dan satwa—sekaligus memberi harapan bagi warga yang hidup di sekelilingnya?

“Orang selalu bilang tambang itu merusak. Pertanyaannya, apakah ada jalan lain? Kalau nggak ditambang, emas nggak keluar. Tapi kalau sembarangan, kita semua yang rugi,” ujar Budi Siregar (42), warga yang tinggal tak jauh dari Sungai Batangtoru.

Air: Mata Rantai Legitimasi

Di pos pantau Sungai Batangtoru, petugas mengenakan rompi hijau mencelupkan botol kaca ke arus. “Kami ambil sampel dua kali sebulan. Hasilnya dipublikasikan, biar masyarakat tahu,” kata Irwan Lubis, anggota Processed Water Quality Monitoring Integrated Team—tim yang dibentuk Pemprov Sumut dan diketuai langsung Bupati Tapanuli Selatan.

Hasil uji terakhir, Desember 2024, mencatat 11 parameter kualitas air olahan berada di bawah baku mutu nasional. “Sejak awal operasi, konsistensinya cukup baik. Tapi pengawasan tetap harus ketat,” tambah Irwan.

Di pihak perusahaan, pengelolaan air digambarkan sebagai prioritas. Siti Rahma, Kepala Divisi Lingkungan PTAR, menegaskan:

“Air ini bukan hanya kepatuhan, ini soal kepercayaan. Kami punya sistem berlapis—mulai dari kolam pengendap, pengolahan air asam tambang, sampai pemantauan daring yang bisa diaudit.”

Data internal menunjukkan 17,8 juta meter kubik air dikelola sepanjang 2022. PTAR juga menyebut inovasi teknis seperti vertical mill yang lebih hemat energi, serta gudang kapur baru untuk menstabilkan pH.

Baca Juga :   Ade Mulyana Resmi Jabat Ketum IWO

Namun, Dr. Zulkifli Nasution, pakar hidrologi Universitas Sumatera Utara, memberi catatan:

“Publikasi hasil lab itu bagus, tapi jangan hanya parameter kimia. Kita juga perlu tahu kondisi biota air, sedimen, dan dampak kumulatifnya. Itu yang menentukan sehat-tidaknya sungai.”

Kanopi yang Terkoyak dan Upaya Menyambungnya

Batangtoru bukan hutan biasa. Ia bentang terakhir bagi orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)—populasinya diperkirakan tak sampai 800 ekor. Bersamanya hidup trenggiling, siamang, dan puluhan spesies burung endemik.

“Ini hotspot global. Kalau hutan ini hilang, mereka pun punah,” tegas Dr. Arifin Lubis, ahli primata.

Di area konsesi Martabe, PTAR mengklaim menerapkan hirarki mitigasi: avoid–minimize–restore–offset. Pada 2024, mereka memasang 13 jembatan arboreal—tali tambang yang melintang di atas jalur operasi untuk menghubungkan kanopi pohon.

“Kalau satwa turun ke tanah, risikonya tinggi. Dengan jembatan, mereka tetap bisa menyeberang,” kata Siti Rahma.

Budi, warga Batangtoru yang juga relawan pemantau kamera jebak, mengangguk.

“Dulu saya jarang lihat lutung di sini. Sekarang, sesekali kelihatan lagi di jembatan itu.”

Selain jembatan, PTAR mendukung Macaque Rescue Centre seluas 2,5 hektare untuk menyelamatkan satwa makaka yang terjebak konflik manusia. “Fasilitas ini yang pertama di kabupaten ini,” ujar Siti.

Bibit, Rehabilitasi, dan “Sekolah” Ekologi

Rehabilitasi tapak tambang jadi program berkelanjutan. Laporan 2022 mencatat lebih dari 41.000 bibit pohon ditanam—mulai dari meranti, trembesi, hingga pohon buah lokal.

“Kami nggak cuma nanam pohon, tapi memikirkan rantai ekologi: pohon pakan satwa, penutup tanah, sampai jenis yang mengikat nitrogen,” jelas Andi Pratama, manajer reklamasi PTAR.

Program edukasi juga masuk ke sekolah. Anak-anak diajak praktik biopori dan memantau fenologi pohon. “Supaya mereka ngerti, ekologi itu bukan teori, tapi hidup sehari-hari,” tambah Andi.

Baca Juga :   Komitmen Pertamina Perangi Stunting di Pangkalpinang Melalui Bantuan Madu Kelulut

Energi Bersih dan Jejak Karbon

Dekarbonisasi tambang? PTAR mengklaim mulai melangkah. Pada 2022, mereka meresmikan pembangkit surya atap 1.766 kWp yang tersebar di 42 gedung.

“Ini baru 10 persen dari target jangka panjang, tapi kami terus menambah,” kata Johan Sitompul, Kepala Infrastruktur PTAR.

Namun, menurut Dwi Prasetyo, analis energi terbarukan, langkah ini belum cukup:

“Pemasangan panel surya itu bagus, tapi kalau ekspansi tambang jalan terus, emisi pasti naik. Dekarbonisasi harus diiringi peta jalan yang jelas.”

Suara dari Hilir: Warga Bicara

Di Desa Batu Horing, sore itu anak-anak bermain di tepian sungai. Mariana (37), ibu dua anak, bercerita:

“Dulu kami khawatir, kalau mandi di sungai takut gatal. Sekarang agak tenang, apalagi setelah ada benih ikan jurung dan nila dilepas lagi.”

Pada 2022, PTAR melepas 5.000 benih ikan jurung—ikan endemik—dan 10.000 nila di sungai setempat. “Kalau ikan bisa hidup, berarti airnya sehat,” ucap Mariana sambil tersenyum.

Catatan Kritis: Apakah Semua Ini Cukup?

Di balik deret program, kritik tetap berdatangan. Mongabay dan koalisi konservasi melaporkan hilangnya tutupan hutan di konsesi Martabe pada 2016–2020, dengan tren berlanjut hingga 2022. Pada 2024, Norwegian Sovereign Wealth Fund mendivestasikan saham dari induk perusahaan karena risiko ekologis.

“Jembatan satwa itu bagus, tapi kalau hutan terus berkurang, itu cuma plester di luka yang makin lebar,” kata Eko Prasetyo, aktivis lingkungan dari Koalisi Hijau Sumatera.

ARRC Task Force, panel ilmiah yang sempat terlibat, juga mengkritik keterbatasan akses data. “Kami butuh data populasi orangutan yang independen. Tanpa itu, sulit percaya,” tulis mereka dalam laporan terakhir.

Apa yang Perlu Ditagih?

Para ahli menyebut tiga hal yang harus jadi sorotan publik:

Baca Juga :   Pertamina Fasilitasi Legalitas dan Program Pengembangan UMKM Desa Air Mesu

Dashboard biodiversitas yang menampilkan tren satwa kunci, diaudit independen.

Rencana fasilitas tailing yang benar-benar menghindari zona bernilai konservasi tinggi.

Pemantauan kualitas air sampai hilir, termasuk sedimen dan biota, bukan hanya parameter kimia.

“Kepercayaan itu mata uang ESG. Dan sekarang nilainya mahal sekali,” kata Dr. Arifin.

Kesimpulan: Audit Terbesar Ada di Alam

Di Martabe, harmoni bukan kata puitis, tapi pekerjaan harian: menjaga air tetap jernih, kanopi tetap tersambung, dan warga tetap percaya—sementara roda tambang berputar.

“Kalau ESG cuma jadi brosur, kita gagal. Tapi kalau sains, tata kelola, dan empati bisa jalan bareng, ini bisa jadi contoh,” tutup Siti Rahma.

Hutan, sungai, dan satwa mungkin tak bisa bicara. Tapi mereka punya cara sendiri untuk memberi nilai rapor. Dan ketika audit itu datang, tidak ada yang bisa disembunyikan.

Penulis: Riki Okta PutraEditor: ROP
  • Bagikan