Dari Perut Bumi Ke Otak Digital

  • Bagikan

Menelusuri Jejak Energi PTBA di Balik Ledakan AI

SUMSELDAILY.CO.ID – Pukul 01.45 WIB, kamar berukuran 3×4 meter itu cuma diterangi pendar cahaya monitor komputer, sementara tiga biji pempek adaan dan dua lenjer mulai kehilangan hangatnya di atas meja. Ajie, 27 tahun, konten kreator asal Palembang yang sedang merintis akun edukasi dan hiburan, masih bersandar di kursinya sambil mengacak-acak rambut. Besok pagi sebuah video harus tayang, tetapi ide belum juga datang.

Ajie bukan tipe yang langsung mengetik perintah formal kepada kecerdasan buatan atau AI. Ia punya kebiasaan sendiri setiap kali palaknya mulai buntu: mengajak AI berbicara seperti teman nongkrong. Jemarinya kemudian bergerak santai di atas keyboard.

“Oi bro, pening nian palak aku malam ini. Deadlinenya besok pagi tapi ide belum ado yang masuk. Bantu aku dulu lah, cari ide skrip yang lucu tapi masuk akal buat budak mudo Palembang!”

Beberapa detik kemudian, jawaban muncul di layar. Ada ide, susunan cerita, bahkan beberapa lelucon yang bisa dikembangkan. Senyum Ajie mengembang sebelum jemarinya kembali bergerak.

“Nah mantap nian ini! Poin nomor dua itu lemak nian dikembangkan. Makasih banyak ya, dulur!”

Bagi Ajie, percakapan itu sederhana. Ia hanya membutuhkan sebuah ide, lalu sebuah mesin memberikannya dalam hitungan detik. Namun, agar beberapa kalimat itu muncul di layar, ada perjalanan yang jauh lebih panjang.

Ada komputer, server, pusat data, jaringan, sistem pendingin, perangkat kelistrikan, dan energi yang bekerja tanpa henti. Di belakang benda-benda yang terlihat begitu digital itu terdapat sesuatu yang jauh lebih tua daripada kecerdasan buatan energi. Dan di situlah cerita tentang AI perlahan membawa kita kembali ke bumi.

AI Ternyata Tidak Tinggal di Awan

Kita sering membayangkan AI sebagai sesuatu yang tidak memiliki tubuh. Ia hidup di cloud, berada di balik layar, dan terasa seolah tidak membutuhkan ruang fisik. Padahal, AI memiliki rumah yang sangat nyata bernama data center.

Di dalam bangunan itu terdapat server berperforma tinggi, perangkat jaringan, sistem penyimpanan, baterai, sistem pendingin, serta infrastruktur kelistrikan. Semakin besar model AI dan semakin banyak manusia menggunakannya, semakin besar pula kebutuhan energi yang harus disediakan. Teknologi yang tampak ringan di layar ternyata memiliki tubuh fisik yang sangat besar.

International Energy Agency atau IEA mencatat pusat data mengonsumsi sekitar 415 terawatt-jam (TWh) listrik pada 2024, dan angka tersebut diproyeksikan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 945 TWh pada 2030, dengan AI menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan. Semakin pintar mesin, semakin besar pula persoalan energi yang mengikutinya.

Pertanyaannya kemudian berubah. Ketika dunia berlomba menciptakan model AI paling pintar, dari mana listrik yang membuat mesin tersebut berpikir? Jawabannya tidak sederhana, tetapi penelusurannya membawa kita dari pusat data menuju sistem energi.

Ketika AI Bertemu Energi

Pusat data dapat memperoleh listrik dari berbagai sumber, mulai dari energi surya, angin, hidro, gas, nuklir hingga batu bara. Karena listrik mengalir melalui sistem yang saling terhubung, tidak tepat menunjuk satu bongkah batu bara kemudian mengatakan bahwa batu bara tersebut secara langsung menghidupkan sebuah percakapan AI.

Namun, hubungan antara pertumbuhan AI dan kebutuhan energi tetap nyata. IEA memperkirakan konsumsi listrik pusat data global akan meningkat tajam dalam beberapa tahun ke depan, sementara Indonesia sendiri sedang menghadapi pertumbuhan kebutuhan listrik dari ekonomi digital dan pusat data.

PLN bahkan menyebut pertumbuhan permintaan dari sektor data center menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong kebutuhan pengembangan kapasitas kelistrikan. Artinya, ledakan digital bukan lagi sekadar cerita perusahaan teknologi, tetapi mulai menjadi cerita tentang sistem energi.

Pertanyaan berikutnya menjadi semakin penting: ketika Indonesia membangun otak digital, siapa yang menyediakan otot energinya? Jawabannya membawa kita kembali ke Sumatera Selatan. Tepatnya ke sebuah kawasan yang selama puluhan tahun hidup bersama industri pertambangan: Tanjung Enim.

Dari Tanjung Enim

Di kawasan ini, PT Bukit Asam Tbk atau PTBA masih melakukan pekerjaan yang sangat tua: mengeluarkan batu bara dari perut bumi. Pada 2025, produksi batu bara PTBA mencapai sekitar 47,2 juta ton, sementara volume angkutan batu bara mencapai sekitar 40,4 juta ton.

Angka itu sekilas terasa sangat jauh dari dunia AI. Tidak ada prompt, GPU, atau chatbot di dalam proses tersebut. Yang ada adalah alat berat, pekerja, jalan tambang, kereta api, pelabuhan, pembangkit dan jaringan listrik.

Baca Juga :   Kanwil Kemenag Sumut Gelar Buka Puasa Bersama, 200 Paket Ramadan Diserahkan untuk Anak Yatim dan Dhuafa

Tetapi justru di sanalah cerita ini menjadi menarik. Batu bara PTBA tidak perlu masuk langsung ke sebuah server agar memiliki hubungan dengan dunia digital; ia berada di dalam ekosistem energi yang memungkinkan berbagai aktivitas ekonomi berjalan, sementara PTBA sendiri sedang mengubah cara mengelola tambangnya dengan teknologi digital.

Dua Layar

Pagi di Tanjung Enim memiliki wajah berbeda dengan malam di kamar Ajie. Di satu tempat, seorang pekerja melihat layar berisi angka-angka operasi tambang, sementara di tempat lain seorang anak muda Palembang menatap layar yang berisi jawaban AI. Dua layar tersebut tampak tidak memiliki hubungan, tetapi keduanya sama-sama bergantung pada teknologi dan energi.

Cahyadi, pekerja di lingkungan operasi PTBA, setiap hari berhadapan dengan dunia fisik tambang yang semakin dipenuhi data. Ia mengenakan perlengkapan keselamatan, memantau aktivitas operasi, dan membaca informasi yang muncul dari sistem kerja di lapangan. Di hadapannya bukan percakapan dengan AI seperti milik Ajie, melainkan angka-angka yang membantu menentukan apa yang harus dilakukan berikutnya.

“Sekarang pekerjaan kami bukan cuma melihat alat bekerja. Data dari operasi juga harus dibaca supaya keputusan bisa lebih cepat dan tepat.”

Kalimat itu memperlihatkan perubahan yang terjadi di dunia pertambangan. Tambang modern tidak lagi hanya bergantung pada kekuatan alat berat, tetapi juga pada kemampuan manusia membaca data. Teknologi yang sama sekali tidak terlihat oleh pengguna AI di kota ternyata perlahan mengubah cara manusia bekerja di dalam tambang.

Ajie menggunakan teknologi untuk menemukan ide. Cahyadi menggunakan teknologi untuk memahami operasi. Satu bekerja di depan layar pada tengah malam, sementara yang lain bekerja di lingkungan tambang ketika hari dimulai.

Dua layar, dua manusia, dua dunia. Tetapi keduanya berada dalam ekosistem teknologi yang sama.

Ketika Tambang Mulai Membutuhkan Data

Perubahan teknologi tidak hanya terjadi di pusat data. Ia juga masuk ke kawasan pertambangan melalui sensor, sistem pemantauan, otomasi, analisis data hingga kecerdasan buatan. Data mengenai alat berat, produksi, cuaca, kondisi medan, konsumsi energi dan keselamatan pekerja semakin penting dalam pengambilan keputusan.

Di PTBA, digitalisasi telah menjadi bagian dari strategi operasional. Sekretaris Perusahaan PTBA Niko Chandra pernah menjelaskan bahwa transformasi tersebut bukan sekadar memasang perangkat digital di kawasan tambang.

“Transisi teknologi adalah sesuatu yang tak bisa kita elakkan. Digitalisasi adalah state of the art technology. Bukit Asam sudah ada di sana dan terus mengembangkan dirinya dengan teknologi terbaik yang ada.”

Digitalisasi pertambangan PTBA dimulai sejak 2020 dan memungkinkan sejumlah aktivitas dipantau secara real time. Berdasarkan perhitungan internal perusahaan, penerapan digitalisasi tersebut dapat meningkatkan produksi batu bara sekitar 10–20 persen dibandingkan proses penambangan manual.

Niko menjelaskan, PTBA menggunakan sejumlah sistem seperti Map Operational (Mapo), Slope Stability Radar, Mine Operation System, SCADA, Cargo Tracking System, dan Automatic Train Loading Station (ATLS). Di pelabuhan, digitalisasi juga diterapkan melalui Coal Handling Facility, Vessel Track, dan Customer Information System.

Kalau dilihat dari luar, semua itu mungkin hanya tampak seperti perangkat lunak dan layar. Tetapi bagi perusahaan tambang, data tersebut memiliki konsekuensi yang sangat fisik: waktu kerja, pergerakan alat, konsumsi bahan bakar, keselamatan, produksi, hingga jumlah batu bara yang akhirnya keluar dari kawasan tambang.

Ketika Tambang Memiliki Data Center

Ada fakta lain yang membuat hubungan antara tambang dan dunia digital menjadi lebih menarik. PTBA ternyata tidak hanya menggunakan teknologi digital sebagai alat bantu operasi, tetapi juga memiliki infrastruktur pusat data sendiri.

Dalam laporan tahunan perusahaan, PTBA mencatat penguatan infrastruktur teknologi informasi melalui Data Center, Disaster Recovery Center, Security Operations Center, serta berbagai pengembangan aplikasi digital. Infrastruktur tersebut menjadi fondasi bagi aktivitas perusahaan yang semakin bergantung pada data.

Di titik ini, perusahaan tambang yang selama ini identik dengan excavator dan batu bara ternyata memiliki dunia lain yang penuh server, jaringan, data dan sistem keamanan digital.

Artinya, perjalanan tulisan ini ternyata tidak hanya berjalan dari tambang menuju AI. Ia juga bergerak ke arah sebaliknya: tambang menuju data, data menuju sistem digital, lalu teknologi kembali digunakan untuk mengelola tambang.

AI Turun ke Lantai Industri

Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di PTBA. Di Sumatera Selatan, penerapan AI dan data science mulai masuk ke lingkungan industri. Tim Smart Industry Fasilkom Universitas Sriwijaya mengembangkan pendekatan berbasis AI, data science dan Internet of Things untuk membantu persoalan industri, termasuk predictive maintenance, analisis anomali dan efisiensi energi.

Baca Juga :   PLN UID S2JB Gelar Ranger Bootcamp Untuk Perkuat Sinergi Demi Pelayanan yang Lebih Baik

Salah satu akademisi yang bergerak di bidang ini adalah Huda Ubaya, dosen Sistem Komputer UNSRI yang memiliki bidang riset antara lain artificial learning, Internet of Things dan embedded system. Rekam penelitian UNSRI menunjukkan keterlibatannya dalam pengembangan teknologi berbasis pengenalan pola dan sistem cerdas.

Bagi dunia industri, AI bukan lagi sekadar chatbot. Ia dapat digunakan untuk membaca pola dari data mesin, mendeteksi anomali, memprediksi gangguan dan membantu manusia mengambil keputusan. Ketika teknologi itu masuk ke pabrik, maka pertanyaan berikutnya menjadi lebih besar: seberapa jauh AI dapat mengubah industri yang jauh lebih kompleks seperti pertambangan?

Di sinilah PTBA menjadi menarik. Perusahaan tidak hanya menghasilkan komoditas energi untuk sistem ekonomi, tetapi pada saat yang sama sedang membangun sistem digital untuk mengelola proses produksinya.

Suara dari Dunia Energi

Dari sisi energi, David Bahrin, akademisi UNSRI dari bidang Teknik Kimia dengan kepakaran energi dan electrochemical engineering, menjadi salah satu suara yang relevan untuk membaca perubahan tersebut. Profil resmi UNSRI mencatat David Bahrin sebagai dosen Teknik Kimia dengan bidang keilmuan energi dan electrochemical engineering.

Perspektif akademisi seperti David penting karena pertanyaan tentang masa depan PTBA tidak cukup dijawab dari sisi produksi. Ada persoalan yang lebih besar: bagaimana perusahaan batu bara bertahan ketika kebutuhan energi terus tumbuh, tetapi sistem energi juga bergerak menuju dekarbonisasi.

Di sinilah tulisan ini tidak ingin menempatkan AI sebagai penyelamat batu bara. AI justru menjadi cermin perubahan: kebutuhan listrik bertambah, tetapi sumber energi yang memasoknya juga dituntut semakin rendah karbon. PTBA harus membaca perubahan tersebut jauh sebelum perubahan itu sampai ke lubang tambang.

Dari Tambang ke Rel

Rantai energi PTBA dapat dilihat dari perjalanan fisik batu bara itu sendiri. Setelah keluar dari tambang, batu bara harus bergerak menuju konsumen melalui sistem angkutan yang menjadi salah satu urat nadi bisnis perusahaan.

Pada 2025, volume angkutan batu bara PTBA mencapai sekitar 40,4 juta ton, meningkat sekitar 6 persen dari 2024. Data tersebut menunjukkan bahwa setelah batu bara ditambang, pekerjaan belum selesai, masih ada perjalanan panjang sebelum energi itu sampai ke pengguna.

Salah satu mata rantai pentingnya adalah kereta api. Batu bara dari Tanjung Enim dibawa menuju fasilitas distribusi seperti Tarahan di Lampung dan Kertapati di Palembang, sebelum diteruskan menuju konsumen. Di sinilah batu bara berubah dari komoditas tambang menjadi bagian dari rantai energi yang lebih luas.

General Manager Unit Pelabuhan Tarahan PTBA Hengki Burmana pernah menggambarkan betapa pentingnya jalur tersebut bagi sistem energi.

“Kita support batubara yang ada di Pelabuhan Tarahan Lampung untuk pembangkit di Indonesia. Sedikit saja terjadi goncangan, apa sampai angkutan KA Babaranjang dari Muara Enim terhenti, akan berdampak ke Pulau Jawa.”

Kalimat Hengki memperlihatkan sesuatu yang sering tidak terlihat dari layar komputer. Sebelum listrik sampai ke konsumen, ada kereta yang bergerak, pelabuhan yang bekerja, alat bongkar yang beroperasi dan manusia yang memastikan seluruh rantai tidak berhenti.

Dari Batu Bara Menjadi Listrik

Rantai tersebut menjadi semakin konkret ketika melihat PLTU Mulut Tambang Sumsel-8. Pembangkit yang dikembangkan melalui PT Huadian Bukit Asam Power itu memiliki kapasitas 2×620 megawatt dan menggunakan konsep pembangkit mulut tambang.

Kebutuhan batu bara pembangkit tersebut sekitar 5,4 juta ton per tahun. Batu bara dari kawasan tambang kemudian diubah menjadi energi listrik dan disalurkan melalui sistem kelistrikan. Di sini perjalanan dari perut bumi menuju jaringan listrik terlihat secara nyata.

Namun, sekali lagi, kita tidak boleh melompat pada kesimpulan bahwa listrik dari Sumsel-8 kemudian secara khusus mengalir ke server AI tertentu. Sistem kelistrikan bekerja sebagai jaringan yang jauh lebih kompleks. Yang dapat dikatakan adalah bahwa pembangkit seperti Sumsel-8 merupakan bagian dari infrastruktur energi yang menopang aktivitas ekonomi dan masyarakat.

Dan ketika kebutuhan listrik dari pusat data meningkat, sistem energi tersebut menghadapi tantangan baru.

AI Membutuhkan Daya Besar

Ledakan AI membuat kebutuhan listrik pusat data menjadi persoalan strategis. Data center tidak hanya membutuhkan server, tetapi juga sistem pendinginan, jaringan, penyimpanan dan pasokan listrik yang sangat andal.

Di Indonesia, kebutuhan tersebut mulai terlihat dalam skala besar. Sejumlah pengembang data center telah mengamankan pasokan listrik dalam skala ratusan megawatt hingga gigawatt untuk mendukung ekspansi pusat data dan AI. Angka-angka itu menunjukkan bahwa ekonomi digital tidak lagi menjadi konsumen listrik kecil.

Baca Juga :   Infrastruktur Kelistrikan PLN Rampung, Siap Dukung Gelaran F1 Powerboat di Danau Toba Sumut Mulai 24 Februari 2023

Di sisi lain, sistem energi Indonesia masih berada dalam masa transisi. Batu bara masih menjadi salah satu sumber utama pembangkitan, sementara energi terbarukan terus dikembangkan. Karena itu, ledakan AI menciptakan pertanyaan baru bagi industri energi: bagaimana menyediakan listrik yang cukup, andal, terjangkau sekaligus semakin rendah emisi?

Pertanyaan itu pada akhirnya juga sampai ke PTBA.

Apakah AI Akan Memperpanjang Umur Batu Bara?

Ini mungkin pertanyaan paling tidak nyaman dalam cerita ini. Jika pusat data terus bertambah, kebutuhan listrik meningkat, dan ekonomi digital berkembang, permintaan terhadap energi ikut tumbuh. Tetapi peningkatan kebutuhan energi tersebut tidak otomatis berarti batu bara akan menjadi pemenangnya.

Justru sebaliknya, pertumbuhan AI dapat mempercepat tekanan terhadap industri energi untuk menyediakan listrik yang lebih bersih. Data center global semakin memperhatikan sumber listrik rendah karbon, sementara perusahaan teknologi berlomba memenuhi target emisi masing-masing.

Bagi PTBA, tantangannya menjadi lebih besar. Perusahaan harus tetap mampu menyediakan energi ketika dibutuhkan, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi perubahan struktur energi nasional dan global. Masa depan PTBA akhirnya bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak batu bara yang masih berada di dalam bumi, tetapi oleh seberapa cerdas perusahaan membaca perubahan energi.

Teknologi untuk Tambang

Direktur Operasi dan Produksi PTBA Suhedi pernah menjelaskan bahwa digitalisasi menjadi bagian dari upaya perusahaan menjalankan praktik pertambangan yang baik.

“Transformasi digital merupakan bagian dari langkah PTBA untuk menjalankan Good Mining Practice. Penggunaan teknologi digital juga meningkatkan efisiensi dan keberlangsungan usaha.”

PTBA juga mengembangkan Bukit Asam Mining System and Information atau Mister BA, yang mengintegrasikan berbagai proses pertambangan. Menurut Suhedi, digitalisasi tersebut memberikan dampak terhadap pengurangan konsumsi energi dan bahan bakar, yang kemudian berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca.

Pernyataan itu mengubah cara kita melihat teknologi di pertambangan. Digitalisasi bukan sekadar komputer yang semakin banyak di kantor, tetapi tentang bagaimana keputusan di lapangan dibuat berdasarkan data yang semakin cepat dan akurat.

Tambang modern tidak hanya menggali lebih banyak. Ia berusaha memahami lebih banyak sebelum menggali.

Kembali ke Ajie

Pukul 01.45 WIB tadi, Ajie hanya melihat layar. Ia tidak melihat pembangkit, jaringan transmisi, data center, server, GPU atau Tanjung Enim. Yang ia lihat hanyalah sebuah jawaban yang muncul beberapa detik setelah ia mengirimkan pertanyaan.

Namun, di balik jawaban itu terdapat sistem fisik yang sangat panjang. Server bekerja, pendingin berputar, jaringan mengalirkan data, dan listrik terus tersedia. Jauh di Sumatera Selatan, aktivitas pertambangan juga terus bergerak mengikuti ritme industrinya sendiri.

Ajie tidak pernah melihat tambang itu. Pekerja tambang mungkin tidak pernah melihat server yang menjawab pertanyaan Ajie. Tetapi di antara keduanya terdapat sebuah jembatan yang tidak terlihat: energi.

Dari Perut Bumi ke Otak Digital

Mungkin itulah paradoks terbesar zaman kita. Manusia sedang menciptakan mesin yang semakin pintar, tetapi mesin tersebut tetap membutuhkan sesuatu yang sangat sederhana: energi.

Kita dapat membuat algoritma semakin canggih, server semakin cepat dan AI semakin pintar, tetapi selama mesin-mesin itu masih membutuhkan listrik, dunia digital tidak pernah benar-benar terpisah dari dunia fisik. Ia tetap membutuhkan jaringan, pembangkit, material, infrastruktur dan manusia.

Maka ketika Ajie mengetik, “Oi bro, pening nian palak aku malam ini…”, lalu sebuah mesin menjawab beberapa detik kemudian, sesungguhnya ada perjalanan panjang yang tidak pernah ia lihat. Perjalanan itu bergerak dari server menuju jaringan, dari jaringan menuju sistem listrik, dari sistem listrik menuju sumber energi, dan pada salah satu rantainya dapat ditelusuri kembali ke batu bara.

Ke bumi. Ke Sumatera Selatan. Ke Tanjung Enim.

Dan ke sebuah perusahaan yang kini menghadapi pertanyaan jauh lebih besar daripada sekadar berapa banyak batu bara yang bisa ditambang.

Bagaimana mengubah kekayaan dari perut bumi menjadi energi, teknologi, nilai dan masa depan ketika dunia bergerak menuju era digital sekaligus rendah karbon?

Jawabannya mungkin tidak akan ditemukan di satu lubang tambang, satu server, atau satu algoritma.

Ia berada di antara semuanya.

AI mungkin adalah otak digital masa depan. Namun selama ia masih membutuhkan listrik, salah satu urat nadinya tetap tertanam di bumi.

Dan di Sumatera Selatan, salah satu bagian penting dari perjalanan itu dapat ditelusuri hingga Tanjung Enim.

Dari perut bumi ke otak digital.

 

  • Bagikan