Dari Pantai Maksiat ke Pantai Sejarah

  • Bagikan
Mangrove Park, Pantai Sejarah, Batubara, Sumatera Utara. (INALUM)

Jejak Kebangkitan Hijau di Pesisir Batubara

SUMSELDAILY.CO.ID, BATUBARA – Di pesisir Batubara, Sumatera Utara, Pantai Sejarah dulu dikenal dengan nama suram: “Pantai Maksiat.” Abrasi, eksploitasi pasir, dan perilaku manusia membuatnya nyaris hilang. Namun, lewat keberanian warga lokal bernama Azizi dan kolaborasi dengan PT INALUM (anggota MIND ID Group), kawasan ini berubah menjadi destinasi wisata edukasi berbasis konservasi mangrove. Dari hanya seribu bibit, kini tujuh hektare pesisir kembali hijau, menjadi pelindung alam sekaligus sumber ekonomi warga. Tulisan ini merekam perjalanan luar biasa itu, kisah perubahan dari maksiat menjadi manfaat, dari dosa menjadi doa.

Babak Kelam di Tepi Selat Malaka

Di antara desir ombak Selat Malaka, angin laut mengibas lembut deretan mangrove yang tumbuh rimbun di tepian Pantai Sejarah, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Burung laut terbang rendah di langit jingga, sesekali hinggap di menara pantau kayu yang berdiri di antara rimbun bakau.

Sulit membayangkan bahwa tempat yang kini hijau dan hidup ini dulu nyaris menjadi tanah mati bukan hanya oleh abrasi laut, tapi juga oleh perilaku manusia.

“Dulu ini disebut pondok titik-titik,” kenang Azizi, sambil tersenyum getir.
“Tempat orang minum, berjudi, bahkan berbuat maksiat. Pantainya rusak, pasirnya dijual, pohon habis ditebang. Tak ada lagi kehidupan selain lumpur dan kenangan kelam.” (Selasa, 22 Oktober 2025).

Di masa itu, warga sekitar pesisir Desa Perupuk dan Gambus Laut hanya bisa pasrah. Ombak menggigit daratan sedikit demi sedikit, menggerus kebun kelapa dan rumah-rumah nelayan. Tidak ada lagi wisatawan yang datang. Pantai yang dulu disebut “indah” tinggal nama berganti menjadi tempat sunyi dan penuh cerita gelap.

Azizi, Pelopor Kelompok Tani Cinta Mangrove (KTCM) Pantai Sejarah (godang)

 

Dari Pantai Indah ke Tanah Rusak

Azizi lelaki berkulit sawo matang, dengan topi yang hampir tak pernah lepas dari kepalanya tumbuh di pesisir Asahan pada era 1980-an, saat Pantai Sejarah masih menjadi kebanggaan daerah.

“Dulu pasirnya putih, orang datang piknik, TNI latihan di sini,” katanya sambil menunjuk ke arah laut. “Tapi sejak pasir kuarsa dijual dan mangrove ditebang, laut balas dendam.”

Abrasi menjalar cepat. Dalam satu dekade, garis pantai mundur hingga puluhan meter. Pohon-pohon kelapa tumbang, tambak-tambak warga tergerus air asin. Orang-orang pergi mencari peruntungan lain. Yang tersisa hanyalah pondok-pondok remang di tepi laut simbol suram dari pantai yang kehilangan sejarahnya.

Namun bagi Azizi, kisah itu tidak boleh berakhir di sana.

 

Izin dari Hutan yang Terlupakan

Baca Juga :   Bahas Percepatan Pembangunan Listrik Desa Provinsi Sumsel, PLN UIW S2JB Gelar Rapat Bersama Dirjen Ketenagalistrikan, Dinas ESDM, dan Pemkab di Provinsi Sumsel

Tahun 2018 menjadi titik balik. Dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan, Azizi mengajukan izin Perhutanan Sosial ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Setelah proses panjang, izin itu turun  mencakup lahan seluas 456 hektare di kawasan pesisir Gambus Laut hingga Prupuk.

Dengan selembar surat izin itu, lahirlah Kelompok Tani Cinta Mangrove (KTCM). Di bawah bendera kecil ini, Azizi dan rekan-rekannya mulai bermimpi: mengembalikan pantai yang mati menjadi tempat hidup.

“Saya bilang ke kawan-kawan, ayo kita ubah pantai maksiat ini jadi wisata,” ujarnya.
“Semua ketawa. Tak ada yang percaya. Tapi saya yakin, kalau niatnya baik, pasti ada jalan.”

Dan jalan itu benar-benar datang setahun kemudian, lewat kolaborasi tak terduga.

 

Pertemuan di Tengah Lumpur

Tahun 2019, Azizi bertemu dengan perwakilan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), perusahaan peleburan aluminium milik negara yang tengah memperluas program tanggung jawab sosialnya di bidang lingkungan.

Pertemuan itu sederhana. Tanpa seremonial, tanpa tanda tangan. Hanya segelas kopi, selembar peta, dan semangat yang sama: menyelamatkan pesisir.

“Waktu itu kami lihat potensi besar di Pantai Sejarah,” kenang Alex, perwakilan INALUM yang ikut memantau program.
“Ekosistemnya rusak, tapi semangat masyarakatnya luar biasa. Kami mulai dari hal kecil seribu-dua ribu bibit mangrove dulu. Tapi dari situ, eskalasi program makin besar.”

Kini, setelah lima tahun berjalan, hasilnya nyata: lebih dari tujuh hektare kawasan pesisir kembali hijau oleh mangrove berbagai jenis Rhizophora, Avicennia, hingga Sonneratia.

 

Dari Seribu Bibit ke Hutan Harapan

Bagi warga sekitar, penanaman mangrove bukan sekadar penghijauan. Ia menjadi simbol kebangkitan, bahkan penyambung hidup.

INALUM menerapkan dua sistem penanaman:

  1. Penanaman langsung bersama warga dan TNI.
  2. Program “Pohon Asuh”, di mana setiap bibit diadopsi untuk dirawat hingga tiga tahun pertama agar tumbuh optimal.

“Hasilnya luar biasa,” ujar Alex. “Bibit yang dulu ditanam di tanah berlumpur sekarang sudah setinggi dua meter. Satwa mulai kembali, ikan dan udang banyak, burung datang setiap sore.”

Di tengah kawasan konservasi, berdiri jembatan kayu panjang menuju menara pantau burung ikon baru wisata Pantai Sejarah. Dari atas menara, tampak hijau rimbun bakau dan riuh aktivitas warga yang menanam, berjualan, dan memelihara ekosistem.

Tanam Bibit Mangrove (INALUM)

Kolaborasi yang Menyembuhkan

Kerja sama INALUM dengan masyarakat tak berhenti pada penanaman.
Pada Oktober 2023, kolaborasi antara INALUM, Kodim 022/Asahan, dan KTCM berhasil menanam 15.000 bibit mangrove di Desa Perupuk.

Baca Juga :   Mangrove, Karbon, dan Mimpi Besar “Green Aluminium” INALUM

Bersamaan dengan itu, perusahaan juga melakukan pendampingan teknis, pelatihan konservasi, serta penimbunan lahan pesisir yang sebelumnya tenggelam oleh abrasi.

“Dulu kawasan ini gersang dan tidak terawat. Sekarang, lihatlah hijau, sejuk, dan jadi tempat belajar bagi anak-anak sekolah,” ujar Azizi sambil menunjuk papan bertuliskan ‘Selamat Datang di Wisata Edukasi Mangrove Pantai Sejarah’.

 

Dari Lumpur Jadi Laboratorium Alam

Kini Pantai Sejarah bukan hanya tempat rekreasi. Kawasan ini telah menjadi laboratorium alam.
Mahasiswa dari berbagai universitas di Sumatera dan Jawa datang untuk meneliti mangrove, menulis tesis, bahkan membuat film dokumenter.

Ada juga “Sekolah Mangrove”, inisiatif anak muda lokal bernama Adil, yang mengajarkan konservasi kepada siswa SD dan SMP sekitar. Mereka belajar mengenal jenis-jenis bakau, menanam bibit, hingga mengamati biota laut.

“Wisata edukasi ini bukan hanya tentang liburan,” kata Azizi.
“Biar orang tahu, mangrove itu bukan cuma bakau. Ada yang akar lutut, ada yang napas, semuanya penting bagi laut.”

INALUM turut mendukung dengan menyediakan menara pantau, jalur tracking edukatif, dan area bermain anak. “Kami ingin kawasan ini hidup, tapi tetap lestari,” ujar Alex.

 

Bertaruh Nyawa dan Reputasi

Namun jalan menuju perubahan tidak selalu mulus.
Saat proyek awal dimulai, Azizi justru dicurigai. Ada yang menudingnya “mengambil alih” lahan desa. Dinas saling tuduh. Bahkan proyek jembatan nelayan sempat disangka penyalahgunaan anggaran.

“Saya sampai lima kali dipanggil polisi,” katanya sambil tertawa kecil.
“Tapi saya datang aja. Duduk di ruangan kasat, minum kopi. Yang penting dilihat orang saya datang, biar mereka tahu saya nggak sembunyi.”

Ketegangan itu baru reda setelah keluar surat edaran dari Kementerian Dalam Negeri yang memperbolehkan daerah mendukung program perhutanan sosial.
“Itu surat yang menyelamatkan,” kenangnya. “Semua proyek akhirnya dihibahkan ke kelompok, supaya tak jadi temuan.”

 

Gotong Royong yang Menyelamatkan

Setelah badai administrasi berlalu, dukungan datang bertubi-tubi.

  • Dinas Perikanan membangun jembatan dan gazebo.
  • Dinas Koperasi membuat aula pertemuan.
  • Dinas Perindag membangun 12 kios kecil untuk pelaku UMKM.
  • Dinas PU mengaspal jalan masuk dan membangun turap pemecah ombak.

“Semua jadi satu ramai-ramai bantu. Dulu yang susahnya luar biasa, sekarang semua ikut merasa memiliki,” kata Azizi.
“Kalau dulu orang datang minum, sekarang datang belajar.”

Kini Pantai Sejarah berubah total. Dari tempat remang-remang menjadi destinasi wisata edukasi mangrove yang menyejukkan.

 

Menumbuhkan Ekonomi dari Akar

Baca Juga :   Terus Akselerasi Ekosistem Kendaraan Listrik, PLN Tambah 5 Unit SPKLU di Palembang

INALUM menyadari, pelestarian lingkungan tak akan bertahan tanpa kesejahteraan masyarakat. Karena itu, selain program konservasi, mereka juga menggelar pemberdayaan ekonomi pesisir.

Melalui bantuan 20 tenda dan 10 gerobak usaha, para pedagang di kawasan wisata kini memiliki tempat jualan yang lebih layak.
Dulu mereka berjualan seadanya beralaskan terpal, atau membawa meja dari rumah. Kini, kawasan kuliner Pantai Sejarah tertata rapi, dengan makanan khas pesisir seperti kerang rebus, ikan bakar, dan es kelapa muda yang menggoda wisatawan.

“Sekarang pembeli lebih banyak,” ujar seorang pedagang perempuan sambil tersenyum. “Kalau dulu untung Rp100 ribu sehari, sekarang bisa dua kali lipat.”

 

Menuju “Batubara Mangrove Park”

Kini, pemerintah daerah bersama INALUM tengah mendorong konsep “Batubara Mangrove Park (BBMP)” sebuah branding baru untuk mengangkat Pantai Sejarah sebagai destinasi unggulan berbasis konservasi dan edukasi lingkungan.

Dengan promosi yang gencar di media sosial, jumlah pengunjung meningkat drastis:

  • Hari biasa: ±100 orang per hari
  • Akhir pekan: 1.500–2.000 orang
  • Hari besar: bisa menembus 5.000 pengunjung

Bahkan pada masa pandemi Covid-19, ketika hampir semua tempat wisata di Batubara tutup, Pantai Sejarah tetap buka dengan protokol ketat. “Pernah satu hari delapan ribu pengunjung,” kata Azizi bangga. “Polisi sampai satu kompi berjaga.”

Batubara Mangrove Park, (enciss)

 

Lebih dari Sekadar Wisata

Kini, Pantai Sejarah menjadi simbol baru bagi Batubara bukan hanya sebagai destinasi wisata, tapi sebagai model konservasi berbasis komunitas.
Hutan mangrove menjadi pelindung alami dari abrasi dan tsunami kecil, sekaligus penyangga kehidupan bagi ribuan warga pesisir.

Setiap pohon yang tumbuh di sini adalah saksi perubahan: dari keserakahan menjadi kesadaran, dari maksiat menjadi manfaat.

 

Epilog: Sejarah yang Diperbaiki

Menjelang senja, suara azan dari masjid kecil di tepi pantai menggema, menembus debur ombak yang pecah di batu turap.
Azizi berdiri di bawah cahaya jingga, menatap laut yang berkilau di balik rimbun mangrove muda.

“Kalau dulu pantai ini tempat dosa,” katanya pelan,
“sekarang tempat doa.”

Ia menatap jauh ke horizon. Di balik kabut tipis, burung-burung beterbangan melintasi batas antara masa lalu dan masa depan.

“Kita hanya ingin meninggalkan sejarah yang lebih baik,” ujarnya,
“daripada yang kita warisi.”

 

Pantai Sejarah Batubara
Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.
Kini bukan sekadar pantai, tapi sekolah kehidupan di mana setiap akar mangrove menulis ulang kisah tentang harapan, ketekunan, dan cinta terhadap bumi.

 

  • Bagikan