SUMSELDAILY.CO.ID, Muara Enim – Matahari belum sepenuhnya naik ketika deru ekskavator memecah kesunyian Tanjung Enim. Debu beterbangan, truk-truk tambang berlalu-lalang membawa bongkah batu bara yang selama puluhan tahun menjadi identitas PT Bukit Asam (PTBA).
Namun, di balik pemandangan klasik tambang itu, ada cerita baru yang sedang ditulis: kisah tentang baterai, grafit sintetis, dan ambisi Indonesia untuk menjadi pemain besar di era kendaraan listrik.
Ruang Rapat yang Berubah Wajah
Kini, rapat-rapat PTBA tak lagi hanya membahas target tonase dan rencana pengiriman batu bara. Di atas meja, bukan hanya peta tambang, tetapi juga bagan rantai pasok baterai. Kata-kata seperti anode sheet, yield, dan gigafactory jadi bahasa sehari-hari.
“Dengan hilirisasi, kami tidak lagi sekadar menjual batu bara mentah. PTBA ingin menciptakan nilai tambah dan masuk ke sektor teknologi energi bersih,” ujar Venpri Sagara, Direktur Keuangan PTBA, ketika kami temui di Jakarta. Nada suaranya mantap, seolah ingin menegaskan: ini bukan wacana, ini strategi.
Lompatan strategi: bukan sekadar ‘tambang’ lagi
PTBA mengumumkan pilot project hilirisasi yang menargetkan produksi grafit buatan 200 ton per bulan dan anode sheet 41,5 ton per bulan. Di atas kertas angka 200 ton tampak teknis, tapi bila dikonversi ke kebutuhan industri otomotif, dampaknya mulai terlihat: 200 ton = 200.000 kg grafit per bulan — cukup untuk memasok material grafit bagi ribuan mobil listrik setiap bulan (lihat hitungan di bawah).
“Dengan hilirisasi, kami tidak lagi hanya menjual batu bara mentah. PTBA akan menciptakan nilai tambah sekaligus memperluas pasar ke sektor energi baru dan teknologi ramah lingkungan,” kata Venpri Sagara, Direktur Keuangan PTBA, ketika menjelaskan visi hilirisasi perusahaan.
Seberapa besar 200 ton itu, sebenarnya? — angka yang berbicara
Untuk memberi pembaca gambaran konkret, diperlukan sedikit matematika praktis:
- 200 ton = 200.000 kg grafit per bulan.
- Asumsi kebutuhan grafit per baterai bervariasi; tiga skenario umum:
- Skenario konservatif (20 kg/EV) → 10.000 EV/bulan (120.000/tahun).
- Skenario menengah (50 kg/EV — patokan yang banyak dipakai) → 4.000 EV/bulan (48.000/tahun).
- Skenario besar (100 kg/EV — baterai kapasitif besar) → 2.000 EV/bulan (24.000/tahun).
Dalam praktik pabrik, tidak semua material menjadi produk akhir (ada kehilangan proses / yield). Contoh: jika yield 80% → grafit efektif 160.000 kg → untuk skenario 50 kg/EV → 3.200 EV/bulan (≈38.400/tahun). Angka-angka ini menempatkan PTBA sebagai pemasok potensial signifikan bagi ekosistem baterai, terutama untuk pasar domestik yang sedang digarap Indonesia.
Dari produksi ke logistik: bagaimana menyalurkan 200 ton per bulan?
Secara logistik, 200 ton per bulan relatif mudah dikelola industri:
- Truk 10 ton → ~20 rit per bulan.
- Kontainer 20’ (payload ~28 ton) → ~7 kontainer per bulan.
Kapasitas ini membuat integrasi dengan pelabuhan, smelter, atau fasilitas manufaktur baterai relatif feasible — asalkan ada infrastruktur transportasi dan fasilitas penanganan material kering yang memadai.
Kenapa grafit dan anode penting — dan mengapa negara butuh itu
Grafit sintetis dan anode sheet adalah bahan inti anoda baterai lithium-ion. Kualitas grafit memengaruhi densitas energi, umur siklus, dan keselamatan baterai. Dengan industri kendaraan listrik yang tumbuh pesat, kebutuhan grafit diprediksi meningkat signifikan; negara yang bisa memproduksi bahan anoda akan mendapat keuntungan ekonomi dan strategis, termasuk penciptaan nilai tambah lokal dan kesempatan pengembangan manufaktur baterai.
“Permintaan grafit dan anode sheet akan meningkat tajam seiring penetrasi EV. PTBA memiliki bahan baku dan infrastruktur — tugasnya adalah memastikan kualitas dan kontinuitas suplai,” kata Budi Santosa, analis energi di Indonesia Energy Institute.
Hilirisasi bukan proyek tunggal — bagian dari roadmap transformasi PTBA
Hilirisasi grafit terintegrasi dalam strategi PTBA yang lebih luas: memanfaatkan lahan pascatambang untuk energi terbarukan dan mengurangi dampak lingkungan. Beberapa proyek sentral yang mendukung transformasi ini antara lain:
- PLTS Ombilin (lahan pascatambang): kapasitas 100 MWp — pemanfaatan lahan pascatambang menjadi sumber energi.
- Solar panel di Krakatau Industrial Estate: 303 kWp — model skala kecil untuk kawasan industri.
- Ekspansi jalur angkut batu bara: Tanjung Enim — Keramasan, kapasitas 20 juta ton/tahun, jarak 158 km — pembangunan infrastruktur logistik yang juga mendukung pergerakan bahan hilirisasi.
Lebih jauh, PTBA juga mengkaji proses gasifikasi batu bara menjadi produk kimia seperti dimetil eter (DME) — alternatif energi untuk substitusi LPG — yang menunjukkan ambisi perusahaan menjadi pemain di berbagai produk turunannya.
Dampak lokal: ekonomi, pekerjaan, dan lingkungan pasca tambang
Transformasi ini berimplikasi langsung ke masyarakat sekitar; PTBA menyorot program TJSL (tanggung jawab sosial) dan reklamasi sebagai bagian dari tindakan mitigasi sosial-lingkungan:
- Dana TJSL 2024: Rp21,04 miliar, menyentuh >50.000 penerima manfaat di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.
- Reklamasi lahan pascatambang: seluas 2.457 hektare; penanaman 190.813 pohon — upaya pemulihan lingkungan dan menciptakan kembali ruang hijau dan produktif.
- Program pertanian berbasis PLTS: 959 Ha sawah mendapat manfaat PLTS, 1.338 petani menjadi penerima manfaat program irigasi tenaga surya.
Di sisi tenaga kerja, proyek hilirisasi membuka peluang lapangan kerja baru di bidang kimia, engineering, quality control, dan manufaktur komponen baterai — kompetensi yang berbeda dari pekerjaan tambang tradisional, sehingga membutuhkan program pelatihan vokasional dan transfer teknologi.
Tantangan: teknologi, kualitas, dan pasar
Perjalanan hilirisasi bukan tanpa hambatan. Untuk menjadi pemasok anoda yang kompetitif, PTBA harus:
- Menguasai proses produksi grafit berkualitas tinggi (kadar, struktur partikel, kebersihan).
- Menjamin kontinuitas supply dan sertifikasi kualitas untuk pelanggan otomotif internasional.
- Mengelola modal investasi yang besar untuk skala komersial di atas pilot project.
- Mengatasi persepsi internasional tentang batu bara dengan bukti nyata pengurangan emisi, reklamasi, dan adopsi EBT (energi baru terbarukan).
Lebih teknis, pengembangan grafit sintetik memerlukan energi intensif: memastikan sumber energi bersih (seperti PLTS Ombilin) ikut berperan akan menambah nilai kompetitif produk dari sisi jejak karbon.
Politik industri dan peluang nasional
Langkah PTBA selaras dengan kebijakan hilirisasi nasional yang mendorong nilai tambah dalam negeri dan pembangunan ekosistem baterai — mulai dari nikel hingga komponen baterai. Jika terkoordinasi baik antara BUMN, investor swasta, dan kebijakan pemerintah (insentif fiskal, standar kualitas, klaster industri), Indonesia berpeluang bukan hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga pemain manufaktur komponen baterai bernilai tinggi.
“Transformasi PTBA akan lebih bermakna bila diiringi pembangunan ekosistem: pabrik elektrod, cell assembly, dan rantaian pasok komponen. Ini soal industrial policy, bukan sekadar investasi satu perusahaan,” ujar Budi Santosa.
Wajah baru tambang: narasi yang lebih luas
Di ujung hari kerja, ketika truk-truk kosong berlalu dan instalasi PLTS mulai menampakkan panel-panel rapi di bekas area tambang, gambaran masa depan itu mulai nampak bukan sekadar klaim korporat. Ini soal bagaimana sebuah perusahaan tambang besar mengarahkan modal dan kapasitas operasionalnya ke peluang baru—mencoba mengubah pola ekonomi yang lama ke yang lebih modern, bernilai tambah, dan (semoga) lebih ramah lingkungan.
“Kami ingin menjadi bagian dari solusi, bukan masalah. Hilirisasi grafit adalah langkah nyata,” kata Venpri Sagara menutup perbincangan, matanya menatap peta rencana fasilitas yang menggambarkan produksi, jalur logistik, dan skenario pasar yang ambisius.
Hitungan Cepat
- Target produksi pilot: 200 ton grafit / bulan = 200.000 kg/bulan.
- Asumsi kebutuhan grafit per baterai: 20 kg / 50 kg / 100 kg → setara 10.000 / 4.000 / 2.000 EV per bulan.
- Jika yield proses = 80%: setara 8.000 / 3.200 / 1.600 EV per bulan untuk skenario 20/50/100 kg.
- Logistik: truk 10 ton → ~20 rit per bulan; kontainer 20’ → ~7 kontainer per bulan.
Penutup: antara optimisme dan realisme
Cerita PTBA adalah contoh bagaimana perusahaan di sektor sumber daya alam memaksa diri untuk berubah ketika peta permintaan dunia bergerak. Ambisi hilirisasi grafit membuka peluang ekonomi dan teknologi, tetapi tantangan teknis, regulasi, dan pasar harus diatasi. Keberhasilan proyek pilot akan menjadi ujian: apakah bongkah batu bara bisa benar-benar berubah menjadi komponen krusial mobil listrik, sekaligus memperbaiki jejak sosial-lingkungan yang selama ini membayangi industri tambang?














