Dari Air Jadi Logam: Ambisi Hijau INALUM

  • Bagikan
Kantor Pusat PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. (INALUM)

Menyalakan Negeri dari Sungai Asahan

SUMSELDAILY.CO.ID, KUALATANJUG – Rabu (22/10/2025) siang, di Kantor Pusat PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, Kepala Grup Proyek INALUM, Ismadi YS, menerima finalis MediaMIND 2025 di ruangannya yang menghadap ke kompleks pabrik peleburan. Dari jendela besar, terlihat kepulan uap dari tungku-tungku raksasa, sementara di kejauhan deru turbin PLTA Asahan berpadu dengan desir angin laut.

“Energi kami dari air, bukan dari batu bara. Karena itu, emisi karbon yang kami hasilkan sangat rendah hanya sekitar 2,5 kilogram CO₂ per kilogram aluminium,” ujar Ismadi membuka perbincangan. “Itu jauh di bawah batas global empat kilogram.”

Di tepi Sungai Asahan inilah, air mengalir deras menembus delapan turbin besar yang berputar tanpa henti. Dari arus itu, INALUM menyalakan api tungku yang melebur logam menjadi green aluminium produk industri masa depan yang ramah lingkungan dan bernilai strategis bagi Indonesia.

 

Energi Air, Logam Masa Depan

Sejak berdiri pada 1982, pabrik peleburan aluminium di Kuala Tanjung telah beroperasi selama lebih dari empat dekade. Dari kapasitas awal 225 ribu ton per tahun, kini produksi INALUM mencapai 278 ribu ton aluminium murni. Angka itu bukan sekadar capaian produksi, melainkan simbol transformasi energi industri nasional.

Aluminium dikenal sebagai logam paling boros energi karena proses elektrolisisnya memerlukan suhu hingga 950 derajat Celsius. “Kalau energi berasal dari batu bara, emisinya bisa empat kali lipat,” jelas Ismadi. “Tapi dengan PLTA Asahan, kita bisa menekan emisi hingga separuhnya.”

Menurut Laporan Keberlanjutan INALUM 2024, 99,31% energi yang digunakan perusahaan berasal dari sumber terbarukan, yaitu dua PLTA Siguragura (286 MW) dan Tangga (316,8 MW). Energi hijau ini menjadi tulang punggung seluruh operasi di Kuala Tanjung menjadikan INALUM salah satu produsen aluminium paling rendah emisi di Asia Tenggara.

Baca Juga :   Sepanjang 2025, TJSL PLN Jangkau 701 Ribu Penerima Manfaat

“Konversi ke energi terbarukan seperti pembangkit air skala besar adalah kunci agar industri berat di Indonesia bisa memangkas emisi dan tetap kompetitif global,” kata Prof. Ir. Yohannes Sardjono, APU, Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “INALUM termasuk contoh paling berhasil untuk dekarbonisasi industri peleburan di luar Jawa.”

Namun, potensi Sungai Asahan belum sepenuhnya dimanfaatkan. “Kalau seluruh potensi PLTA Asahan bisa didedikasikan untuk INALUM, produksi kita bisa naik sampai 450 ribu ton aluminium per tahun,” ujar Ismadi.

Kepala Grup Proyek INALUM, Ismadi YS

Dari Hulu ke Hilir: Ekosistem Industri Nasional

Energi bersih hanyalah satu sisi cerita. Di sisi lain, INALUM kini memperkuat rantai nilai dari hulu ke hilir untuk memastikan bahan baku, energi, dan pasar saling terhubung dalam satu ekosistem industri nasional.

“Dulu kita impor alumina, sekarang kita sudah punya pabrik sendiri di Mempawah,” kata Ismadi. “Kapasitasnya satu juta ton per tahun, cukup untuk memenuhi kebutuhan peleburan di Kuala Tanjung.”

Dengan produksi 278 ribu ton aluminium, kebutuhan alumina mencapai sekitar 550 ribu ton per tahun dan kapasitas itu masih mencukupi bahkan untuk ekspansi ke depan. Proyek Mempawah kini memasuki tahap bankable feasibility study dan ditargetkan masuk fase investasi pada 2026.

 

Cadangan Bauksit yang Tak Habis: Modal Bangsa untuk Seratus Tahun

Cadangan bauksit Indonesia diperkirakan cukup untuk 60–100 tahun ke depan. Dengan kebutuhan nasional sekitar 20 juta ton per tahun, suplai bahan baku masih aman untuk menopang pertumbuhan industri aluminium nasional.

Kini, selain INALUM, tumbuh proyek-proyek peleburan baru di Sulawesi, Kalimantan Utara, dan Maluku Utara. Dalam satu dekade ke depan, produksi aluminium nasional diproyeksikan menembus 4 juta ton per tahun menempatkan Indonesia sejajar dengan India dan Uni Emirat Arab dalam peta produsen aluminium dunia.

Baca Juga :   Dari Pantai Maksiat ke Pantai Sejarah

 

Governance Hijau: Transparan, Tertib, dan Terverifikasi

INALUM tak hanya mengandalkan teknologi bersih, tetapi juga memperkuat tata kelola dan transparansi ESG. Perusahaan telah mengantongi sederet sertifikasi internasional:

  • ISO 14001:2015 (Manajemen Lingkungan)
  • ISO 50001:2018 (Manajemen Energi)
  • ISO 45001:2018 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
  • ISO 37001:2016 (Sistem Manajemen Anti Penyuapan)
  • ASI Performance Standard (V3 2022) — sertifikasi global industri aluminium berkelanjutan oleh TÜV Rheinland

Audit eksternal tahunan dilakukan oleh PT SGS Indonesia dan TÜV Rheinland, sementara laporan keberlanjutan diverifikasi independen sesuai standar AA1000 Accountability Principles 2018.

Sebagai bagian dari Group MIND ID, INALUM juga menerapkan whistleblowing system (WBS) terintegrasi dan sistem anti gratifikasi berbasis kebijakan KPK (Pancek). Seluruh direksi dan pegawai telah mengikuti pelatihan antikorupsi hingga 100%.

“Transparansi bukan sekadar kewajiban, tapi budaya perusahaan,” tegas Ismadi. “Kita ingin industri hijau juga bersih secara tata kelola.”

Kuala Tanjung (INALUM)

Dari Industri ke Inspirasi: Kuala Tanjung yang Tumbuh Bersama

Di luar pagar pabrik, geliat ekonomi terasa nyata. Warung-warung di sekitar Kuala Tanjung kini ramai oleh pekerja pabrik dan sopir truk bahan baku. Sekolah-sekolah baru bermunculan, dan jalan yang dulu becek kini diaspal mulus.

Salah satunya Rizky (28), teknisi muda asal Sei Suka, Batubara. “Dulu saya cuma lihat pabrik ini dari luar pagar,” katanya sambil tersenyum. “Sekarang saya ikut mengolah logamnya.”

Melalui program Tanggung Jawab Sosial (TJSL), INALUM juga menjaga ekosistem mangrove dan meluncurkan Program Konservasi Burung Air Bermigrasi di pesisir Batubara.

“Kami bersama INALUM menanam dan merawat mangrove di Pantai Sejarah, bukan hanya untuk menjaga pesisir, tapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga,” ujar Azizi, Ketua Kelompok Tani Cinta Mangrove (KTCM) Pantai Sejarah, mitra binaan INALUM di Batubara. “Sekarang, kepiting dan ikan mulai kembali, dan wisatawan juga sering datang.”

Baca Juga :   INALUM Terbitkan EPD Aluminium G1, Perkuat Transparansi dan Daya Saing di Pasar Global

“Energi hijau bukan hanya soal listrik air, tapi juga soal keseimbangan ekosistem,” tambah Ismadi.

 

Dari Air Jadi Logam, Dari Logam Jadi Harapan

Kini, setiap batangan aluminium berlogo “INAL” yang keluar dari tungku Kuala Tanjung membawa makna lebih dari sekadar logam. Ia adalah simbol kolaborasi antara teknologi bersih, tata kelola yang transparan, dan tanggung jawab sosial.

“Kalau dulu kita kirim bahan mentah, sekarang kita kirim produk berteknologi tinggi,” ucap Ismadi menutup perbincangan.
“Dari air, kita ciptakan logam. Dari logam, kita bangun masa depan.”

Air Sungai Asahan terus mengalir, menyalakan turbin, dan memutar roda zaman — menjadi saksi bagaimana Indonesia menyalakan mimpinya untuk tumbuh maju, hijau, dan bermartabat.

 

  • Bagikan